Ini Kata Pemerhati Lingkungan tentang Penumpukan Sampah di Bangkalan

  • Whatsapp

Kabarmadura.id/Bangkalan-Polemik penumpukan sampah selama kurang lebih satu minggu mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Sebab, tumpukan sampah tersebut mempunyai dampak bagi kesehatan dan lingkungan masyarakat Bangkalan. Tentunya Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan dan pemerhati lingkungan menyoroti perkembangan permasalahan sampah itu.

Pemerhati lingkungan Bangkalan tersebut ialah Nur Rahmad Ahirullah. Lelaki yang kerap disapa Yoyonk ini menuturkan, dalam 9 hari penutupan TPA Buluh, masalah sampah di Bangkalan nyaris menjadi persoalan sosial di Bangkalan selain soal lingkungan. Sebab menurutnya, beberapa waktu lalu ada yang sempat mengeluhkan banyaknya sampah di TPS yang meluber sampai depan rumahnya melalui akun resmi FB Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Sedangkan masalah lingkungan berdasarkan pantauan saya Jumat (28/2) mulai ada warga yang berinisiatif membakar sampah baik di lingkungannya maupun di TPS. Itu jelas menimbulkan masalah lain yaitu polusi udara,” katanya, Minggu (1/3).

Katanya, polusi udara akibat pembakaran sampah sangat berbahaya bagi manusia. Terlebih pada tumpukan sampah itu ada gas metan yang dihasilkan sampah organik yang dapat memicu pembakaran dan bahan dasar plastik (minyak bumi) yang bisa mengawetkan pembakaran.

Mengenai TPA alternatif atau TPA sementara yang sudah dilakukan oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangkalan yakni berada di Desa Bunajjih, Kecamatan Labang, Yoyonk menerangkan, pemkab harus melakukan pengelolaan sampah yang sesuai regulasi UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Yaitu terkait Waste Management di mana semua pihak harus berkolaborasi dalam pengelolaan sampah di hulu, tengah dan hilir.

Lebih lanjut, menurutnya, pemerintah sebagai fasilitator harus mendukung masyarakat yang sudah mendapatkan pelajaran dari situasi penutupan TPA Buluh. Pemerintah harus memfasilitasi masyarakat dalam upaya pengelolaan sampah. Jangan hanya menghimbau saja tapi infrastrukturnya tidak dipenuhi.

Saat ditanya mengenai akibat dari permasalahan sampah ini, apakah Bangkalan kembali tidak mendapatkan predikat Adipura? Ia menjawab, bahwa soal Adipura itu hanya bonus. Yang harus disepakati bersama adalah semua pihak mengelola sampahnya dan dipenuhi infrastrukturnya dengan membangun sistem pengelolaan sampah yang baik dan sesuai regulasi.

“Kalo ini sudah berjalan, Adipura tidak perlu lagi diburu karena akan datang sendiri,” paparnya. “Sekarang penilaian Adipura makin berat. Titik tekannya pada sistem pengelolaan sampah. Nah, dalam sistem itu harus dipenuhi kebutuhan anggarannya, SDM dan infrastrukturnya,” imbuhnya.

Maka dari itu ia berharap, semua pihak secara proporsional harus ikut andil dalam masalah sampah. Eksekutif sebagai fasiliator harus mampu memenuhi kebutuhan infrastruktur, DPRD dengan fungsi legislasi dan budgeting-nya harus memenuhi kebutuhan penganggarannya, sedangkan komunitas, pemerhati/pegiat lingkungan serta media harus ikut andil dalam edukasi dan sosialisasi terus menerus dan konsisten.

“Di sisi lain, sektor swasta juga harus membantu jika kemampuan anggaran daerah tidak mencukupi,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Bangkalan Sudiyo mengungkapkan, akibat dari penumpukan sampah selama 9 hari tersebut tentunya memiliki dampak bagi kesehatan masyarakat Bangkalan. Khususnya lokasi rumah yang berdekatan dengan Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Menurut Yoyok, dampak yang ditumbulkan bisa beruapa STPK (Kenyamanan, red), lingkungan kesehatan.

“Yang berdampak langsung dan bersentuhan langsung dari penumpukan sampah itu adalah bakterinya. Dimana itu bisa masuk ke dalam tubuh manusia,” ungkapnya.

Mantan kepala Puskesmas (Kapus) Blega ini mengatakan, selain itu akan menimbulkan banyaknya lalat. Dimana lalat ini yang membawa bakteri tersebut masuk ke dalam manusia melalui makanan yang dihinggapinya. Dari situ, bakteri tersebut bisa membuat penyakit seperti diare dan muntaber. Sedangkan melalui udara dari bau yang menyengat akibat penumpukan sampah.

Kata Yoyok, bisa saja menimbulkan asma atau sesak nafas. Namun, kecil kemungkinannya.

“Yang paling bersentuhan langsung dengan manusia ya itu bakterinya sebenarnya, dihinggapi lalat, kemudian lalat hinggap ke makanan,” jelasnya.

Untuk itu, ia berharap, agar masyarakat bisa menjaga lingkungan di sekitar. Juga harus menutup makanan dan sebisa mungkin untuk tidak banyak menggunakan sesuatu yang menimbulkan penumpukan sampah terlalu banyak. “Kalau ada sisa makanan jangan langsung buang, taruh dalam plastik lalu ikat,” pesannya.

Sementara itu, penanggulangan penumpukan sampah tersebut mulai tertangani. Sebab, saat ini pihak Pemkab Bangkalan akan membuang sampah yang sampai hari ini, Minggu (1/3) menumpuk dibeberapa titik TPS akan terangkut. Informasinya pemkab akan membuat TPA sementara di Desa Bunajjih, Kecamatan Labang.

Hal tersebut diperkuat dengan keterangan Camat Labang Fahrosi Zairul Zamazami yang mengatakan, bahwa memang benar di Desa tersebut akan dijadikan TPA sementara.

“Kalau penolakan dari warga sepertinya tidak ada, malah kemarin itu mereka membuat deklarasi bahwa siap mendukung pemkab dengan menerima sampah tersebut,” paparnya.

Sedangkan, lahannya sendiri, menurut Fahrosi, lahan yang akan dijadikan lokasi TPA sementara tersebut merupakan lahan milik pribadi warga Desa Bunajjah. Di mana sebelumnya, lokasi tersebut merupakan lokasi TPA sampah buangan dari Mall di Surabaya dan belum mendapatkan izin.

“Mulai kapan dibuangnya di situ dan seperti apa mekanismenya kita masih belum tahu. Hanya saja memang akan dijadikan TPA Sementara oleh Pemkab. Selama warga tidak menolak, saya izinkan,” tandasnya. (ina/pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *