oleh

Inovasi Dua Dosen UTM, Ringankan Biaya Listrik dengan Bangun PLTH

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Desa di Bangkalan belum 100 persen teraliri listrik. Hal itu menjadi perhatian Ketua Program Studi (Prodi) Teknik Elektro Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Riza Alfita.

Bersama dengan rekan sejawatnya, Rosida Vivin Nahari, mereka mencurahkan pemikiran dan kemampuan akademiknya hingga lahir pembangkit listrik tenaga hybrid (PLTH) yang dibangun di Desa Sabiyan, Bangkalan.

Inovasi keduanya tersebut, mendapatkan apresiasi, sehingga mendapatkan bantuan pendanaan dari Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset dan Teknologi  atau Badan Riset dan Inovasi Nasional Institusi LPPM UTM.

PLTH pada umumnya adalah penggunaan dua atau lebih pembangkit listrik dengan sumber energi yang berbeda. Tujuan utama dari sistem hybird pada dasarnya adalah suatu sistem pembangkit listrik yang memadukan beberapa jenis pembangkit listrik.

PLTH merupakan salah satu alternatif sistem pembangkit yang tepat diaplikasikan pada daerah- daerah yang sukar dijangkau oleh sistem pembangkit besar seperti jaringan PLN atau PLTD, PLTH ini memanfaatkan renewable Energy sebagai sumber utama (primer) yang dikombinasi dengan solar cell sebagai sumber energi cadangan (sekunder)

Awal cerita inovasi Riza itu, ingin membantu para petani di desanya agar lebih mudah mengakses listrik dan kebetulan terdapat beberapa energy terbarukan yang bisa digunakan untuk pembangkit listrik.

“Terlebih, tarif dasar listrik (TDL) yang semakin tinggi juga mendorong saya untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga hybrid ini di sana,” ujarnya, Kamis (16/7/2020).

Dasar pengetahuannya tersebut, oleh lelaki kelahiran Blora, Jawa Tengah ini dikampanyekan dengan seringkali memberi penyuluhan dan pelatihan. Kampanyenya adalah PLTH sederhana yang dapat digunakan untuk sumber pasokan listrik secara mandiri.

Meski sudah dilakukan berkali-kali, Riza mengaku belum banyak warga yang kurang tertarik, bahkan penolakan seringkali didapatkan. Dengan mengesampingkan berbagai penolakan, secara gigih dia tetap melatih hingga merancang PLTH untuk keperluan penerangan. Setelah terlihat hasilnya secara nyata, pelan-pelan inovasinya mulai dilirik.

“Ke depannya, saya ingin memperluas inovasi pembangkit listrik tenaga hybrid ini ke wilayah-wilayah di desa di Bangkalan yang masih memerlukan bantuan listrik,” terang dia.

Dalam perjalanan meneliti, pria yang menginjak usia 40 tahun ini pernah memenangkan 4 hibah penelitian dari Dirjen Dikti. Dari sini, dia juga selalu mengupayakan dan mendorong adanya kerja sama antara institusi pendidikan dan pemerintah melalui program pengabdian kepada masyarakat. Sehingga hasil penelitiannya itu mampu dirasakan oleh masyarakat desa, khususnya di Bangkalan. (ina/bri/waw)

Komentar

News Feed