oleh

Inovasi Lahan Garam Berhasil Tingkatkan PADes Desa Bunder

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN-Desa Bunder yang terletak di Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan memiliki  lahan garam yang begitu luas. Letak geografis desa yang berada di dekat bantaran laut tenggara Pamekasan ini, membuat desa yang dipimpin Iswahyanti itu diuntungkan dengan potensi garam yang melimpah.

Untuk sampai ke desa ini, pengunjung dari luar Pamekasan hanya harus menempuh 7 kilometer dari jantung kota Pamekasan. Dengan lokasi strategis itu, markas Kepolisian Sektor (Polsek) dan Komando Rayon Militer (Koramil) 0826/06 Pademawu berada di desa tersebut.

Bahkan, Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Padewamu terletak di Desa Bunder juga. Selain itu, terdapat sejumlah lembaga pendidikan di desa ini seperti Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 dan 2 Bunder, serta dua madrasah diniyah (MD).

Lebih lanjut, di desa tersebut terdapat satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang dikelola oleh PKK Bunder. Tak hanya itu, desa ini juga menyediakan perpustakaan desa (perpusdes) untuk memudahkan pelajar menambah wawasan bacaan.

PROGRES: Direktur BUMDes Mutiara Saghara Taufik Hidayat saat memaparkan progres Eduwisata Garam kepada perwakilan salah satu perbankan di Pamekasan.

Selain di bidang pendidikan, layanan kesehatan juga menjadi atensi Pemdes Bunder. Itu dibuktikan dengan adanya tiga kategori pos pelayanan keluarga berencana kesehatan terpadu (Posyandu), dari kategori anak-anak, remaja, dan lansia.

Desa yang langsung berbatasan dengan Kecamatan Galis ini memiliki empat dusun dengan jumlah penduduk 2.833 jiwa.

Desa ini memiliki luas 402,77 hektare yang terbagi ke dalam 82 hektare sawah, 226,77 hektare tanah kering, 11,20 tanah basah, dan 82,80 luas fasilitas umum.

Di tanah ratusan hektare itu, 202,26 hektarenya merupakan tambak garam. Tak ayal jika Kades Iswan Yanti mendeklarasikan desanya sebagai Kampung Garam. Bahkan, di kawasan tambak garam sudah dibuatkan pintu gerbang dengan tulisan ‘Kampung Garam’. Pintu gerbang tersebut tidak sebatas pintu utama tambak garam di daerah timur Desa Bunder, namun juga akses menuju Eduwisata Garam yang saat ini digagas untuk memaksimalkan potensi desa.

Kepala Desa Bunder Iswan Yanti melalui Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mutiara Saghara Desa Bunder Taufik Hidayat menyampaikan, saat ini wisata tersebut masih belum dilaunching. Sebab, pihaknya perlu melakukan penambahan fasilitas penunjang, seperti akses area memancing, kawasan pedagang kaki lima, serta menambah keindahan kawasan tambak garam dengan berbagai fasilitas lainnya.

Sejatinya, di eduwisata tersebut sudah terdapat sepasang kincir angin yang sudah dihiasi atau telah instagramable bagi pengunjung. Namun lokasi yang sudah terpasang gazebo di bagian timur dan tulisan jumbo ‘Eduwisata Garam” di bagian selatan itu masih butuh tambahan.

“Kemungkinan besar launching Eduwisata Garam ini dilakukan dua bulan lagi. Itu akan bersamaan dengan bazar takjil di sepanjang akses menuju wisata ini. Sekarang kami masih fokus pada proses penambahan fisik dan menguatkan komitmen,” jelasnya kepada Kabar Madura, Senin (22/2/2021).

Selain sebagai tempat refreshing, dirinya menyampaikan, eduwisata tersebut juga bertujuan untuk mengedukasi pengunjung dengan memperkenalkan proses produksi garam. Bahkan, dia akan mempersiapkan etalase khusus untuk menunjukkan hasil produksi garam Madura.

Tidak hanya itu, Pemdes Bunder juga berinovasi untuk memaksimalkan potensi produksi garam melalui rekristal garam. Tujuannya, agar produksi garam di Desa Bunder bisa layak konsumsi dan memiliki kualitas yang bagus. Alhasil, dia membeberkan, kadar NaCl produksi garamnya sudah mencapai 9,4% hingga 9,7%.

Saat ini, pihaknya hanya tinggal melengkapi izin merek dagang dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan standar nasional Indonesia (SNI) untuk memproduksi dan menjual garam hasil home industri BUMDes tersebut di pasar bebas.

POTENSIAL: Direktur BUMDes Mutiara Saghara Taufiq Hidayat bersama aparat Desa Bunder memperlihatkan hasil produksi rekristal garam konsumsi yang sedang dikembangkan.

Alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan ikut serta membantu proses tersebut.

Dirinya memastikan, ketika sudah mendapatkan izin tersebut, BUMDes Mutiara Saghara akan lebih banyak melibatkan warga setempat dalam pengembangan usaha tersebut, terutama warga yang masih berstatus pengagguran. Dimana, sejauh ini BUMDes tersebut baru melibatkan 10 hingga 15 warga sebagai karyawan produksi garam. Kata Taufik, hasil produksinya pun terbatas untuk konsumsi kalangan sendiri.

Selain dari pada itu, pihaknya berencana melakuman inovasi hasil produksi tersebut untuk dijadikan tiket masuk ke tempat eduwisata melalui sistem e-garam. Strategi tersebut akan dijalankan hingga izin didapatkan.

Berkat inovasi dalam memanfaatkan potensi desa tersebut, Desa Bunder dinobatkan sebagai Pemdes dengan inovasi terbaik I di Provinsi Jawa Timur dalam ajang Inovasi Terbaik pada Kompetisi Inovasi Desa (Sinodes) 2019.

“Kami sangat berharap ada dukungan pemerintah untuk mendapatkan izin (BPOM dan SNI, red) ini demi warga sini juga,” sambungnya.

Selain produksi garam dan Eduwisata Garam, BUMDes Mutiara Saghara Bunder juga menggawangi daur ulang sampah, namun belum diseriusi lantaran minim anggaran. Tapi, pengangkutan sampah tetap berjalan dengan memfungsikan dua karyawan.

Pada tahun 2020, Pendapatan Asli Desa (PADes) Bunder sebesar Rp32,3 juta dengan uraian Rp31 juta dari sewa tanah kas desa dan Rp1,3 juta penjualan garam. (idy/pin/*)

Komentar

News Feed