Insentif Guru Merosot, Hanya Rp150 Ribu per Bulan

(FOTO: KM/MOH RAZIN) AKTIF: Guru swasta saat mengikuti pelatihan pengembangan kemampuan.

KABARMADURA.ID | SUMENEP -Pada tahun 2021 lalu, tunjangan profesi guru (TPG) atau uang insentif guru di bawah naungan Kementrian Agama (Kemenag) semakin merosot dibandingkan tahun sebelumnya. Termasuk dari belasan guru, hanya sebagian yang tercover insentif sebesar Rp150 ribu dari semula Rp250 ribu  perbulannya.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Seksi Pendidikan dan Madrasah (Pendma) Mohammad Sadiq mengatakan, TPG biasanya dicairkan pada setiap 6 bulan. Hal itu ditujukan kepada guru non sertifikasi atau non pegawai negeri sipil (PNS). Namun, yang mendapatkan pada tahun 2021 lalu, pihaknya masih belum bisa mendeteksi berapa jumlahnya.

“Kami masih belum dapat datanya, tetapi yang pasti kami bakal mendapatkan data itu kami saat ini masih proses permintaan data itu,” katanya.

Bacaan Lainnya

Sadiq menyebutkan, sedikitnya guru non PNS namun sudah sertifikasi berjumlah 3.406 guru dan yang belum sertifikasi 8.817 guru. Sementara berdasar perkiraannya, yang dapat insentif biasanya sekitar 3 ribuan guru.

Sementara itu, jika nominal insentif yang didapatkan oleh guru tersebut hanya sekitar Rp1.8 juta dari semula Rp3 juta setiap tahun, jenis pencairannya beragam. Ada yang cair setiap 6 bulan ada yang langsung sekali dalam setahun.

”Sementara belum tahu penyebabnya apa, tetapi perkiraan kami karena ada pemangkasan anggaran saat wabah ini. Tahun ini kami juga belum tahu berapa nominalnya tapi insya Allah tetap ada,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, insentif non sertifikasi ditentukan dengan kriteria di Simpatika. Sementara untuk sertifikasi, ada pemberkasan khusus; di antaranya, masih memenuhi absensi jadwal mengajar, jumlah jam, dan pemberkasan lainnya seperti menginput rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), silabus, dan pemberkasan lainnya.

Di sisi lain, khusus guru sertifikasi minimal mengajar 24 jam dalam satu minggu dan dalam satu hari selama 8 jam pelajaran. Tercatat, ada 30 persen guru sertifikasi madrasah di  Sumenep dari seluruh jumlah guru madrasah.

Kendati seperti itu, Sadiq mengatakan, untuk penjaringan atau pengrekrutan guru sertifikasi, ditentukan Kemenag pusat, sehingga kebutuhan dan proses seleksi, pihaknya tidak tahu.

“Itu nanti prosesnya langsung dihitung dari Simpatika. Jika sudah waktunya dan memenuhi syarat maka langsung terpanggil mengikuti seleksi,” pungkasnya.

Reporter:  Moh.  Razin

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.