oleh

Investasi Lesu, Realisasi Target Baru Rp174 M

Pelaku Usaha Menilai Promosi Potensi Daerah Rendah

Kabarmadura.id/Sampang-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang, menargetkan investasi masuk sebesar Rp499 miliar. Sayangnya, hingga memasuki triwulan III realisasi investasi baru sekitar Rp174 miliar.

Salah seorang pelaku usaha di Kabupaten Sampang Moh. Syaifuddin mengatakan, untuk mendorong geliat investasi di Kota Bahari, Pemkab harus melakukan terobosan kebijakan yang visioner, tidak normatif, sehingga investor bisa tertarik berinvestasi di Sampang.

Dirinya melihat selama ini para pelaku usaha, utamanya kalangan menengah ke atas masih terkesan setengah-setengah untuk berinvestasi di Kabupaten Sampang. Hal itu tidak lepas dari langkah Pemkab yang terkesan tidak memberikan peluang bagi investor untuk masuk,

Selain dari pada itu, dirinya menilai promosi untuk mengenalkan potensi daerah kepada para investor terkesan rendah. Hal itu dibuktikan minimnya jumlah investor dari luar yang masuk ke Kabupaten Sampang.

“Mestinya Pemkab ini mencari dan mensosialisasikan potensi-potensi daerah kepada para investor, sehingga investor bisa tahu dan tertarik untuk berinvestasi di Sampang,” ungkapnya, Rabu (15/07/2020).

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur PT. Pojur Polana Pangeran itu menjelaskan, untuk menarik investor masuk pola pikir Pemkab dan masyarakat harus diubah. Jika selama ini pola pikir masyarakat, investor harus membangun di Sampang. Maka sudah saatnya itu diubah menjadi investor yang membangun Sampang.

Dengan begitu lanjut dia, para investor yang datang juga tidak bisa sewenang-wenang. Masyarakat juga bisa menikmati adanya investor itu.

“Dengan pola pikir itu, ada simbiosis mutualisme, masyarakat Sampang tidak hanya menjadi budak, tapi bisa menjadi bos dan merdeka di tanahnya sendiri,” sarannya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Pelaksana dan Informasi Penanaman Modal Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sampang Abd Adim mengaku, dengan rendahnya investor yang masuk, pihaknya pesimis target investasi dapat terpenuhi, terlebih saat ini ada wabah Covid-19.

Kata dia, investasi yang masuk Rp174 miliar itu didominasi dari sektor perdagangan dan reparasi sekitar 58 persen. Kemudian untuk sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan hanya sekitar 3 persen. Sementara sektor perhotelan dan restoran baru 3 persen, dan sektor usaha lainnya sebanyak 26 persen.

“Kami pesimis bisa memenuhi target tahun ini. Di sisi lain, investasi masih didominasi sektor perdangan dengan modal usaha di bawah Rp500 juta, belum ada investor dari luar yang besar,” tandas Adim. (sub/pin)

 

Komentar

News Feed