oleh

IRAMA OMBAK

Oleh: Azahra Putri Suryandini

Suara  ombak yang menyapa pantai terdengar merdu. Sepoi angin dengan lembut menerpa wajah dan hijab hitamku.Cangkang kerang kecil berwarna-warni tersebar diluasnya hamparan pasir berwarna putih.Mungkin jika aku tak terlahir ke dunia ini, aku tak tahu segala kenikmatan yang diberikan oleh tuhanku.

“Dek, sini!”Suara ombak tak mau kalah dengan suaraku. Gadis kecil yang berdiri jauh dari tepi pantai itu menggeleng atas apa yang aku katakan. “Ayo! Gak papa kok, Ombaknya gak galak.” Masih dengan posisi yang sama ia menggelengkan kepalanya.

“Gak mau kak.Takut!”Rasa traumanya masih belum hilang.Ini adalah hari ke-12 setelah bencana tsunami melanda rumah kesayangannya dan juga kedua orang tuanya.Ya, kini dia menjadi anak yatim piatu.

Aku mengambil beberapa cangkang yang tentunya masih utuh dan bagus.Kemudian aku berjalan ke arahnya sejauh kurang lebih 15 meter.

“Nih, kakak bawa sesuatu,” ucapku sambil duduk di sebelah kirinya.“Gimana?Bagus kan?”

“Iya kak, bagus.Aku suka.”

Angin berhembus cukup kencang, aku masih menatap wajah riang yang menutup kesedihannya.Sebagai anak umur 18 tahun, aku sangat salut dengan gadis kecil bernama Farah. Padahal aku memiliki selisih 10 tahun dengannya, tapi ia mampu mengahadapi semua ini.

“Kak Rara masih lama kan balik ke Jakarta? Aku masih mau sama kakak. Kalau nggak, kakak disini aja temenin aku.”Aku terdiam mendengar ucapannya dan tetap menatap matanya yang penuh harap.

“Iya, lihat nanti ya.”

Panggilan sholat ashar telah dikumandangkan.Aku memutuskan untuk langsung berwudhu.Air membasuh wajahku seakan melepas semua kepenatan yang melekat.Waktu yang kutunggu datang.Waktu untuk memohon segala ampunan kepada-Nya.

Tepat saat sebelum takbir, bumi berguncang pelan.Orang-orang bersikap seolah tak ada yang terjadi.Memang gempa dalam skala kecil adalah hal yang biasa bagi mereka.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dzikir pagi petang telah aku baca.Setelan mukena juga tak lupa kulepas.

“Rara, ayo makan dulu!”Wanita yang selalu memotivasi diriku itu membawa sepiring nasi beserta lauk untuk 2 porsi. “Sepiring berdua aja ya.” Aku hanya mengangguk

Wanita tersebut adalah ibuku.Seorang yang menjadi motivatorku disetiap waktu.Walaupun usianya tak muda lagi, tetapi jiwa semangat dan pantang menyerahnya masih melekat di dalam dirinya. Apalagi dalam hal membantu orang lain.

Sebenarnya aku bukanlah seorang aktivis seperti ibuku yang selalu pergi kesana dan kesini. Tapi entah apa yang bisa membuatku mendarat disini berkumpul dengan para tim relawan.

Setelah  makan, aku, ibuku dan para tim relawan lainnya pergi ke pelosok sambil berjalan kaki, mungkin itulah guna kami datang, karena biasanya Tim SAR sulit pergi ke daerah pelosok.

“Ra, ajak main anak-anak disana ya. Nanti pas Bu Endah sudah selesai meriksa pasiennya, kamu bawa mereka kesana. Ibu mau keliling dulu di daerah sini.”Aku menuruti perintah ibuku.Aku membawa mereka kelapangan yang tak terlalu luas.Hanya dengan permainan sederhana, aku berusaha menghibur anak-anak yang masih merasakan trauma yang cukup berat.Umur mereka tak jauh dari umur Farah, mungkin sekitar 10 tahun.

“Kotak pos belum diisi, mari kita isi dengan nama-nama buah, misalnya dari siapa.”Sambil menepukan tangan, kami bermain permainan yang cukup terkenal didaerahku. ‘kotak pos’ namanya.

“Kakak mau nama buah naga.”Riang tawa keluar dari anak-anak tersebut.Aku bingung, apakah aku salah memilih buah naga?

“Kak, emang ada yang namanya buah naga?Kok naga bisa jadi buah?”Tanya salah satu dari mereka.Prediksiku naga yang mereka pahami adalah naga hewan mitologi cina.“Berarti buahnya….” ucapan salah satu gadis terputus.Tiba-tiba suasana berubah menjadi menegangkan, mereka semua dengan cepat lari ke arahku.“Kak! Gempa!” Teriak salah satu dari anak yang memelukku.

Gempa ini bukanlah gempa berskala kecil.Ada kemungkinan gempa ini membuat tsunami kembali datang. Aku terus memutar otak bagaimana cara anak-anak ini bisa tetap selamat.

“Ayo naik keatas,” seruku sambil menunjuk dataran yang lebih tinggi, setidaknya menjauh dari laut.Kita semua berusaha lari secepat mungkin agar mencapai tujuan.

Seketika aku teringat akan suatu hal, ibuku. Rasa khawatir mulai menyelimuti, dan semua pikiran negatif mulai menghiasi pikiranku.Tapi, bagaimana pun juga aku harus mengutamakan keselamatan para penerus bangsa.Aku tak bisa egois saat ini.Apapun yang terjadi, aku harus menjaga anak-anak ini. Ibuku selalu berkata jika kita masih bisa menolong maka tolonglah orang lain. Sekalipun kita memiliki kepentingan yang lain. Barangkali saat kita membantu orang lain, Allah akan memudahkan kepentingan kita.

Gempa yang berlangsung hampir 30 detik itu pun berhenti. Rasa lega kami tentu belum hilang, karena kami tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Alhasil aku harus menunggu komando dari petugas setempat.Anak- anak ini terus memelukku erat sambil menangis ketakutan.

“Semua warga diharap pergi ke tenda pengungsian terdekat dan jangan ada yang mendekati laut sampai ada informasi selanjutnya.”

Dua jam menunggu bukanlah hal yang tidak membosankan. Hujan turun dengan derasnya menyelimuti pandangan sehingga tak lagi jelas.

Aku terduduk diatas terpal setelah berkeliling mencari ibuku di dalam tenda pengungsian.Yang kudapat hanyalah nihil.Aku tidak menemukannya disini.

Seseorang menepuk pundakku.“Rara?” melihat orang tersebut aku terkjekut bukan main. “Kak Fatimah? Kok…..”

“Ibu kamu di mana?” Dengan wajah paniknya ia bertanya kepadaku. Sontak aku panik lebih darinya.“Lho? Kan kakak yang daritadi keliling sama ibu aku. Sekarang ibu aku dimana?”

Aku berlari keluar dari tenda pengungsian. Tak peduli hujan turun sederas apapun, aku tetap lari mencari keadaan ibuku. Air telah membasahiku dari ujung kepala hingga ujung kaki.Kakiku berhenti diatas tanah yang basah.Aku terdiam melihat kosongnya daerah tersebut.Yang terdengar hanyalah suara hujan.

“Ibu!!”Suaraku masih berusaha menembus bisingnya hujan.Berulang kali aku memanggil namanya tapi tak kunjung aku mendapat jawaban.Aku terjongkok lalu memeluk diriku dibawah derasnya hujan.Hanya lantunan do’a dalam hati yang menjadi kompasku.

“Rara!” suara yang amat kukenal memanggilku dari arah belakang.Dengan cepat aku pun menoleh.

Sesosok wanita yang aku panggil ibu berlari kearahku.Dengan cepat aku bangkit dan memeluknya.Kini kehangatan menyelimuti diriku diantara air hujan yang jatuh menyentuh bumi.Pelukannya terasa sangat hangat.

”Maafin Ibu, Ibu jauh pas Rara butuh Ibu.”Mendengar ucapan maafyang begitu tulus berhasil membuat tangisanku pecah begitu saja. “Ibu gak usah minta maaf, ibu gak salah sama Rara.” Aku memeluknya dengan sangat erat.Air mataku menyatu sempurna dengan air hujan.Dan saat itu suara gemuruh berjalan kearah kami.Seketika pandanganku gelap.

Aku tak sadarkan diri.

“Dek!”Kakakku menepuk bahuku sebelah kiri.“Jangan melamun,” lanjutnya.Aku tak menyangka suara ombak membawaku ke dalam kenangan lama, tragedi 4 tahun lalu.Tragedi dimana tsunami menghantamku dan ibuku disaat menjadi relawan di pulau tetangga.Tsunami itu menghanyutkan ibuku dan juga kaki kananku.

Kini aku berjalan dengan tongkat yang setia menemaniku kemana pun.Meskipun hanya dengan satu kaki aku berpijak, setidaknya aku masih bisa berjalan diatas pasir, merasakan hembusan angin, dan juga mendengarkan irama ombak.Meskipun rasa trauma terhadap laut baru bisa aku hilangi setelah 2 tahun.Berat?Tentu, kehilangan sesuatu hal yang kita cintai tidaklah mudah mengikhlaskannya.

Aku terduduk diatas hamparan pasir yang cukup jauh dari tepian.Aku menyandarkan tongkatku ke pohon.Telah aku keluarkan buku catatan harian dan pulpen dari dalam tasku.Buku catatan harian aku buka di pangkuan.Lembar demi lembar aku buka.Setiap halaman aku buka perlahan.Dan akhirnya aku pun tiba dihalaman kosong yang tersisa.Halaman ke 200 dari 200.

Tinta pulpen yang kugunakan mulai menghiasi halaman tersebut.Saat sampai di tengah halaman, tanganku berhenti.Air mata jatuh membasahi pipi.Aku menangis.

Ibu, Rara rindu.

BIODATA PENULIS

Azahra Putri Suryandini. Lahir di Bekasi 11 Agustus 2003.Saat ini sedang duduk di bangku kelas X MA IGBS Darul Marhamah Cileungsi, Bogor.Senang menulis dan membaca.

 

Komentar

News Feed