Jadi Ketua, Ipin Bawa Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) Ikut Rumuskan Perlindungan Petani Garam

  • Whatsapp
GAGAH: Miftahul Arifin mendapat hadiah jas dari Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat pengukuhan pengurus AJP periode 2019-2021 di Hotel Odaita, Kamis (23/1/2020).

Kabarmadura.id-Desember 2014 lalu, saat menjalani wisuda sarjana di IAIN Madura, Miftahul Arifin menceritakan bahwa dirinya langsung memilih dunia jurnalis sebagai tumpuan profesinya pasca kuliah. Hal itu, dilatarbelakangi kiprahnya sebagai aktivis saat jadi mahasiswa di kampus yang sebelumnya bernama STAIN Pamekasan itu.

TABRI S. MUNIR, PAMEKASAN

Komputernya masih menyala saat dia mengisahkan perjalanannya hingga “terjerumus” dalam profesi  yang memiliki jam kerja 24 jam itu. Selalu bergulat dengan karya berita di depan komputer, memang tugas saban hari bagi jurnalis yang biasa disapa Ipin ini. Maklum, dia adalah salah satu redaktur di koran Harian Pagi  Kabar Madura.

“Jurnalis adalah penyambung informasi dari semua kalangan. Itu alasan saya sehingga memilih profesi jurnalis pasca kuliah,” ucapnya usai menyunting berita, Minggu (26/1/2020).

Niat lulusan Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Madura ini dalam menjalani profesi jurnalis, bukanlah tanpa rintangan. Mengawali karirnya sebagai jurnalis magang di salah satu media elektronik di Pamekasan, Ipin harus bisa menaklukkan kelemahan dari dirinya sendiri, yakni alat transportasi untuk menjalani liputan.

Menyiasati kelemahannya tersebut, Ipin yang sedari kuliah menabung seekor sapi yang dipelihara bersama orang tuanya, terpaksa dijual untuk ditukar sepeda motor merk Morin. Sepeda motor merk lokal yang menjadi pijakannya untuk kegiatan liputan di lapangan.

Suara dari mulutnya tiba-tiba terhenti, nafasnya ditarik dalam-dalam, seolah menggambarkan itu jadi keputusan yang cukup berat baginya. Namun kegigihan tekadnya, mampu memadamkan ragu di matanya saat membayangkan beratnya menjalani profesi yang penuh resiko itu.

Tapi, jelas Ipin bukan semata-mata bermodal sepeda motor untuk menggeluti dunia jurnalis. Ayah satu anak ini sudah cukup berpengalaman di kegiatan kemahasiswaan. Terutama saat di aktif di UKM Pengembangan Intelektual (PI), yang banyak bergelut dengan diskusi problematika kekinian.

Namun bagi mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu, menggeluti profesi wartawan juga diimbangi tekad kuat untuk menjadi penyampai informasi yang berimbang di hadapan publik.

Kini, cerita tentang sepeda motor Morin-nya sudah mulai lekang. Meski masih jadi bahan cerita rekan seprofesinya, lambat laun Ipin mulai bisa menabung dari gajinya sebagai jurnalis. Morin akhirnya dikandangkan dan diganti Vario, meskipun dibeli dengan cara kredit.

Berubahnya Morin ke Vario, ternyata membawa berkah baginya. Profesinya sebagai jurnalis membuatnya dipercaya penggemar motor Vario  untuk menjembatani komunikasi dengan para pihak. Jadilah Ipin dipercaya sebagai Ketua Komunitas Vario Owner Community Pamekasan (VOCSAN).

Perannya sebagai ketua komunitas Vario, juga menjadi pintu bagi Ipin untuk menempa  kepemimpinannya. Lirikan bahwa Ipin memiliki kemampuan mengorganisir sebuah kelompok dengan ragam pemikiran dan tingkah laku, akhirnya membuat anggota Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) mempercayainya sebagai sekretaris AJP periode 2017-2019.

Ipin mengakui, bahwa tugasnya sebagai sekretaris AJP bukanlah ringan. Dirinya harus mampu menjembatani para seniornya yang kenyang pengalaman di dunia  jurnalistik, baik lokal Pamekasan maupun nasional.

Kesuksesannya sebagai Sekretaris AJP selama dua tahun itulah yang mengantarkan Ipin dipercaya sebagai ketua AJP. Dia terpilih secara aklamasi untuk memimpin paguyuban jurnalis di Bumi Pamelingan itu pada Kongres AJP yang digelar Desember 2019 lalu di Pacet, Mojokerto.

Tepat tanggal 23 Januari 2020 kemarin, Ipin secara resmi dilantik sebagai ketua AJP. Satu gebrakan di awal kepemimpinannya, adalah mengajak Komisi B DPRD Jawa Timur untuk turut serta merumuskan nasib petani garam, agar memiliki daya tawar dalam tata niaga garam.

Para anggota AJP yang memiliki berbagai informasi tentang petani garam di Madura, akhirnya bisa menyampaikan informasinya secara mendalam untuk bisa menjadi sebuah rekomendasi di DPRD Jatim, yang saat ini berjuang untuk mensejahterakan petani garam dengan membentuk rancangan peraturan daerah (raperda) perlindungan petani garam. (waw)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *