Jadi Ketua KPU, A. Warits Tetap Biasakan Ngaji Alquran di Kantor

  • Whatsapp
Ketua KPU Sumenep A Warits

Kabarmadura.id-Di balik sosok A. Warits, yang kini menjabat ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumenep, banyak menyimpan teladan yang patut dicontoh. Banyak kebiasaannya sejak kecil yang masih dipertahankan saat ini.

IMAM MAHDI, SUMENEP

Baginya, jabatan yang diemban saat ini dianggap sebagai keberhasilan dalam bekerja. Kedudukan, gaji tinggi dan menjadi orang terpandang, tidak begitu berarti baginya. Ketiganya menjadi berarti, jika memiliki manfaat bagi orang lain. Selain itu, sebagai bentuk pengabdian kepada agama dan bangsa.

Meski sudah dua kali menjadi ketua KPU Sumenep, Warits tidak lupa membiasakan mengaji Alquran di setiap momentum. Karena hal itu sudah tertanam sejak kecil, baik di lingkungan keluarga dan masyarakat di tempat tinggalnya. Bahkan, hal itu sudah menjadi prinsip hidup yang dijalani sehari-hari.

“Tradisi mengaji bagi saya, karena sudah kebiasaan di pondok, maka menjadi apapun kita tidak boleh melupakan tradisi agama islam selama itu bermanfaat,” katanya, Selasa (29/10).

Pria kelahiran Sumenep 7 November 1975 itu, juga punya kebiasaan mebaca surat yasin di kantornya. Dia menyadari, ada batas di mana dirinya tidak mampu berpasrah diri kepada Allah SWT, tujuannya supaya Tuhan meberi jalan keluar terhadap setiap ada persoalan.

Bahkan menurutnya, jika ada penghargaan untuk KPU, semata-mata karena Allah yang selalu menyertai dalam memberi perbaikan dan memperkecil kekurangan yang ada.

“Hanya di KPU Sumenep, setiap kali rakor, setiap pemilihan PKK dengan PPS senantiasa baca surat yasin. Itu tradisi yang kami bangun di KPU Sumenep,” tuturnya.

Berkah mengabdi tanpa pamrih bisa menjadi salah satu jalan menjadi komisioner KPU Sumenep. Kunci lainnya adalah, selalu berdoa dan tidak lupa mengabdi kepada guru, orang tua serta masyarakat di sekitaranya. Menjadi ketua KPU Sumenep kedua kalinya, kata Warits, tidak akan diraih tanpa dukungan dari pihak lain.

Pengalaman dari kedua orang tuanya, menjadikan Warits kecil tumbuh menjadi pria yang ingin terus mengabdi. Ayahnya, Umar Hasan, pernah menjabat kepala desa. Sementara ibunya, Alimah, sebagai guru ngaji.

Sosok satu ini juga banyak mendapat pengalaman pahit. Namun hal itu dijadikan motivasi mencari jalan membahagiakan orang lain.

“Ketidakmampuan secara ekonomi, menjadi salah satu cambuk dalam kehidupanku,” katanya.

Ayah dua anak ini mengawali pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nasyatul Muta’allimin Gapura Sumenep, lulus tahun1988, kemudian dilanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah (MTs) di lembaga yang sama, lulus tahun 1991.

Pada tahun 1994, dia lulus dariMadrasah Aliyah (MA) di Pesantren Tebuireng Jombang, Kemudian melanjutkan strata 1 di  jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), lulus tahun 2000.

Setelah lulus dari bangku kuliah, Warits sempat bertani, karena sejatinya berasal dari kalangan petani.

Seiring berjalannya waktu, Warits dipercaya untuk mengajar di almamaterinya, di Nasyatul Muta’allimin. Di pertengahan jalan, berkat doa dan dukungan masyarakat, ia menjadi ketua KPU Sumenep hingga saat ini.

“Saya tidak menyangka menjadi ketua KPU, mungkin ini menjadi takdir Tuhan bagi saya. Tapi, semuanya akan saya lalui, karena mungkin ini yang terbaik,” pungkasnya. (imd/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *