Jadi Klaster Terbesar, Kepulangan Pelaut Diminta Langsung Disambut Rapid Test

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M.) BERSIH: Anggota legislatif Bangkalan menunjukkan hasil swab-nya di salah satu rumah sakit Surabaya, bahwa hasilnya non-reaktif Covid-19

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Pasien terinfeksi Covid-19 di Bangkalan yang didominasi klaster pelayaran, mulai menjadi perhatian khusus bagi Tim Gugus Tugas (Timgas) Covid-19 Bangkalan.

Terlebih, per 11 Januari 2020, sudah ada penambahan satu lagi dari pasien terinfeksi 20vid-19 dari klaster tersebut. Dengan penambahan itu, kini ada 20 pasien terinfeksi Covid-19 di Bangkalan. Pasien ke-20 tersebut, sudah terlacak berasal dari Kecamatan Kamal.

Bacaan Lainnya

Humas Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Bangkalan Agus Zein mengatakan,  membenarkan hal tersebut. Katanya, Pasien Nomor 20 itu masih berusia 12 tahun asal  Desa Banyuajuh, Kecamatan Kamal dan merupakan anak dari Pasien Nomor 8 yang dinyatkan terinfeksi Covid-19 pada 25 April lalu.

Sehingga, jejak penularannya diduga berasal dari Pasien Nomor 8. Sedangkan riwayat  Pasien Nomor 8 terinfeksi Covid-19, diduga dari suaminya yang bekerja di pelayaran dan transit di Surabaya pada Maret lalu. Saat itu, Pasien Nomor 8 sempat menemui suaminya di Surabaya yang memiliki riwayat perjalanan dari Barcelona, Spanyol.

Agus menceritakan, awalnya hasil rapid tes terhadap anak berusia 12 tahun itu dinyatakan non-reaktif, termasuk kepada empat keluarga lainnya yang terlibat kontak erat.

Tetapi pada 30 April 2020, petugas kesehatan melakukan pemeriksaan swab atau PCR terhadap kelima keluarga tersebut. Hasilnya, pada 10 Mei 2020, Pasien Nomor 20 dinyatakan terinfeksi Covid-19. Sedangkan empat anggota keluarga lainnya dinyatakan bersih dari Covid-19.

“Malam ini (Senin, 11 Mei 2020, red) pukul 19.30 WIB pasien positif ke-20 tersebut akan dirujuk ke RSUD Syamrabu Bangkalan untuk menjalani isolasi dan perawatan,” tutupnya.

Sementara itu, dari 20 warga Bangkalan yang terinfeksi Covid-19, 15 orang di antaranya masuk klaster pelayaran, atau mereka yang bekerja sebagai pelaut atau bidang pelayaran, termasuk mereka yang tertular dari para pelaut itu. Dengan banyaknya jumlah itu, kemudian dikumpulkan menjadi klaster pelayaran.

Tidak hanya yang sudah terinfeksi Covid-19, dari 8 pasien dalam pengawasan (PDP) yang sedang menjalani perawatan isolasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syarifah Rambani Ratu Ebuh (Syamrabu) Bangkalan, sebanyak 4 orang juga berasal dari klaster pelayaran.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 RSUD Syamrabu Bangkalan dr Catur Budi berharap Timgas Covid-19 dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan mampu melakukam deteksi dini. Khususnya bagi warga yang pulang dari pelayaran.

“Tim gugus dan Dinkes supaya ada pengawalan kedatangan dari orang-orang pelayaran ini. Sebab, memang harus diwaspadai,” ujarnya, Senin (11/5/2020).

Saat ini, kata dr Catur, pasien yang dirawat di RSUD Bangkalan hampir dipulangkan separuhnya. Termasuk pasien nomer 07 asal Arosbaya yang dipulangkan pada Senin (11/5/2020), masuk klaster pelayaran.

Bahkan, dia mengungkapkan, ada salah satu keluarga di Bangkalan yang bekerja di pelayaran. Kemudian datang ke rumah dan ternyata tertular covid-19. Sehingga, ia mengingatkan, kepada tim gugus tugas agar lebih waspada dan berhati-hati dengan kedatangan warga yang dari pelayaran.

“Tahap pendeteksian sangat diperlukan, karena memang pencegahan penularan ada 4 tahap,” terangnya.

Empat tahap tersebut, yakni deteksi pelayaran bagi pendatang, lalu deteksi kasus agar tidak meluas.

“Deteksi ini bisa mulai rapid test, isolasi mandiri secara dini dengan kontrol ketat,” jelas dokter spesialis paru-paru ini.

Masih menurut Catur, jika hasil rapid test sudah dinyatakan reaktif Covid-19, harus dirawat isolasi di rumah sakit. Sedangkan penanganan keempat bisa dilakukan dengan bantuan masyarakat. Seperti mengharuskan isolasi mandiri, namun tetangga dan keluarga dekat harus membantu, baik dalam bentuk moril maupun kebutuhan lainnya.

“Isolasi mandiri berbasis masyarakat itu perlu digalakkan di Bangkalan. Karena selama ini masih banyak masyarakat yang mengucilkan,” tuturnya.

Di tempat terpisah, hasil swab mandiri yang dilakukan oleh satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan Mahmudi menunjukkan hasil non-reaktif. Sebelumnya, dia dinyatakan reaktif covid-19 berdasarkan rapid tes oleh Tim Gugus Penanganan Covid-19 Bangkalan melalui Dinkes Bangkalan.

Dengan hasil yang berbeda dengan hasil swab mandirinya yang dilakukan di rumah sakit Surabaya, dia meminta kepada timgas, khususnya Dinkes Bangkalan, agar memberikan sosialisasi lebih mengenai hasil rapid tes kepada masyarakat.

Sebab, selama ini banyak yang beranggapan bahwa hasil rapid test yang reaktif, sudah bisa diakui sebagai pasien terinfeksi Covid-19.

“Dengan hasil non-reaktif ini, saya minta tim gugus kedepannya agar melakukan sosialisasi secara benar-benar kepada masyarakat dan kedua dalam menangani Covid-19 ini jangan setengah-setengah,” tandasnya. (ina/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *