Jadi Tersangka, Youtuber Madura Ambil Pelajaran Kasus Holi

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ist) HIKMAH: Kasus pernyataan Lutfi Holi yang memicu konflik diminta DPRD Jatim Mathur Husyairi dan Pendiri Komunitas Youtuber Madura Dedy Hariyadi untuk dijadikan pelajaran.

Kabarmadura.id-Pernyataan Lutfi Holi yang mengundang reaksi Suku Dayak di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat (Kalbar), membuat pria kelahiran Sampang itu dilaporkan ke Kepolisian Daerah (Polda) Kalbar. Setelah dikoordinasikan dengan Polda Jawa Timur (Jatim), Holi akhirnya diamankan dan kini ditetapkan sebagai tersangka.

Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Jatim Kombes Polisi Trunoyudo Wisnu Andika menjelaskan, penyelidikan kasus Holi telah selesai danselanjutnya ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh penyidik Polda Jatim.

“Sudah dilakukan proses penyidikan dan dilakukan penahanan tersangka (Lutfi Holi) oleh penyidik,” jawab Trunoyudo saat dihubungi Kabar Madura, Selasa (2/6/2020).

Melihat kasus tersebut, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur Mathur Husyairi kembali menyerukan agar mengambil pelajaran guna tidak memunculkan kembali benih konflik antarsuku.

“Tindakan Holi ini nggak bisa dibenarkan. Kami dalam upaya menjaga NKRI, membangun toleransi di tengah Codid-19, meskipun video itu satu tahun yang lalu, sebenarnya sempat viral kembali direspon begitu cepat oleh saudara kita di Kalimantan terutama Suku Dayak. Ini kan menimbulkan keresahan. Semoga kasus ini menjadi pembelajaran siapapun. Jadi tidak ada sub-ordinat, tidak ada superior, tidak ada yang lebih baik dari suku yang lain,” ujarnya kepada Kabar Madura, Rabu (3/6/2020) siang.

Sementara menurut Pendiri Komunitas Youtuber Madura Dedy Hariyadi, kasus konten video yang diunggah di youtube satu tahun lalu itu, namun dipermasalahkan akhir-akhir agar dijadikan pelajaran.

Pria asal Kabupaten Pamekasan ini juga menjelaskan, kebebasan membuat konten untuk diunggah di youtube tetap memiliki batasan, seperti SARA, pornografi, memprovokasi kearah yang negatif dan sebagainya.

Baginya, semua orang bebas memberikan atau membuat informasi di kanal digital. Namun, begitu ditransmisikan melalui kanal digital atau disebar melalui media sosial, maka ada pembatasan-pembatasan hak, termasuk tanggung jawan hukum yang berlaku, baik pidana maupun perdata.

“Setelah mendengar kasus itu, diharapkan semua pihak dapat mengambil hikmah, termasuk para kreator video di youtube atau yang lain,” terangnya.(idy/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *