oleh

Jadi Tukang Cukur, Berangkatkan Haji Kedua Orangtua

Kabarmadura.id/Bangkalan-Di tanah rantau, orang Madura dikenal sebagai tukang cukur. “Ingat pangkas rambut, ingat Madura,” kata Mohammad Alfan, tukang cukur yang sukses meraih pernghargaan sebagai tukang cukur spesialis model terkini.

MOH SAED, BANGKALAN

Mohammad Alfan adalah pemuda asal Bilaporah Kecamatan Socah Kabupaten Bangkalan. Ia pun mengisahkan bagaimana ia bisa sukses menjadi tukang cukur ramhut terkenal di Papua.

Ia memiliki keahlian memangkas rambut semasa berada pondok pesantren. Ia sering memotong rambut temannya dan diberi upah sebesar Rp2.000. Namun, hasil jasa pangkas rambut itu tidak diambil olehnya untuk uang jajan melainkan dimasukkan ke dalam kotak amal di pondoknya.

Setelah lulus dari pondok pesantren, pada tahun 2015, Mohammad Alfan  diajak tetangganya untuk merantau ke Papua. Pada awalnya, ia langsung diberikan tempat pangkas rambut. Menghadapi orang baru, ia sempat gugup dan kaku. Ia pernah dimarahi orang Papua karena siletnya lupa tidak diganti. Hal itu menjadikannya terus belajar dan meningkatkan pelayanan kepada pelanggannya.

Peningkatan pelayanan itu misalnya adalah memberikan pijatan kepada setiap orang yang bercukur di tempatnya. Awalnya, pijat itu hanya sebagai pelengkap sehabis cukur untuk melenturkan kembali leher yang tegang. Namun belakangan hal itu menjadi salah satu keunggulan tempat cukurnya, termasuk tempat cukur yang dikelola orang Madura lainnya.

Ketekunannya dalam bekerja telah berhasil membuat tempat pangkas rambutnya ramai dengan pengunjung. Bahkan, setelah mendapatkan penghargaan dari Televisi Sobat Jongky Show pada tanggal 31 Maret 2017 sebagai spesialis potong rambut pria terkini, pengunjung sampai harus antri menggunakan nomor antrian. Di sinilah ia bisa mendapatkan penghasilan yang bagus, dari yang awalnya hanya Rp50.000 perhari, bisa hingga Rp500.000. Dengan penghasilan yang didapat dari tanah rantau ini, ia bisa memberangkatkan kedua orang tuanya ke Makkah untuk menunaikan haji.

Setelah sukses di tanah rantau, ia tak lupa mengajak orang-orang di kampungnya untuk juga bisa bekerja di tanah Papua sebagai tukang cukur rambut. Mengingat, hasilnya sangat menjanjikan.

“Warga Madura sangat banyak di Papua yang mendirikan salon, pangkas rambut bermodalkan sisir rambut dan gunting, dia bisa mendapat penghasilan lumayan,” ujarnya.

Kini dirinya sudah kembali ke tanah kelahirannya di Madura untuk menggeluti dunia pangkas rambut. Ia memilih tidak kembali ke Papua karena mendampingi ibunya di rumah. Ia memilih untuk menekuni usaha pangkas rambut di tanah kelahirannya sendiri, yakni di Bangkalan.

Ia pun berpesan, apapun pekerjaannya, yang terpenting tetap berkarya lebih baik dan memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen, dan jangan sampai meninggalkan doa dan berharap yang terbaik kepada Allah Swt. (pai)

Komentar

News Feed