Jalan Panjang Program Wirausahawan Muda Pemkab Sumenep

  • Whatsapp
TEKUN DAN BERHASIL: Sejumlah peserta wirausahawan muda di bidang membatik saat belajar dan memrpduksi batik di centra Rumah Produksi WMS.

Kabarmadura.id/SUMENEP-Perjalanan panjang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep untuk mencetak wirausahawan muda, rupanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada berbagai kendala dan tantangan.

Salah satu tantangannya, adalah dari peserta itu sendiri. Bagaimana mengubah pola pikir untuk berwirausaha hingga memberi skill memproduksi barang untuk bisa digandrungi oleh masyarakat.

Kepala Dinas Koperasi dan UM (Diskop dan UM) Sumenep Fajar Rahman menceritakan liku dan tantangan program Bupati A Busyro Karim bersama Wabup Achmad Fauzi itu. Salah satunya, ketika peserta menjual bantuan alat yang diberikan.

Fajar memaparkan, bahwa pada awalnya, di tahun 2016 lalu, program wirausahawan muda melibatkn delapan OPD. Di antaranya Disperindag, Dinas Pertanian, Diskop dan UM sendiri juga ada dan beberapa yang kemudian dilakukan pelatihan yang jumlah keseluruhan 1.000 peserta.

Pasalnya, program tersebut diakuinya berjalan tidak begitu mulus. Lantaran, ada peserta yang menjual alat bantuan banyak dijual oleh peserta.

“Sebenarnya (peserta, red), sudah dimanjakan dengan pelantihan itu, karena diberi transport dan diberi konsumsi ketika pelatihan, hingga setelah selesai diberi bantuan alat tapi ada yang dijual. Padahal kalau pelatihan, seharusnya bayar,” katanya.

Dikatakan, hal itu ditengarai Fajar karena masyarakat itu belum siap. Itu dibuktikan, ternyata bantuan-bantuan yang diberikan banyak yang dijual. Akhinya, ketika sudah selesai belajar dan punya keahlian, peserta kehilangan satu kakinya, karena alatnya dijual.

Termasuk juga, satu hingga dua tahun berikutnya, yang menjual alat padahal sudah punya keahlian, merasa menyesal.

Kemudian, cerita Fajar, di tahun 2017, kemudian disatukan di Diskop program wirausahawan muda tersebut. Namun tetap ada keterkaitan dengan delapan OPD itu dan jumlahnya tetap 1.000 peserta.

“Pelaksananya pada waktu itu adalah Pusat Inkubator Wirausahawan Muda (PIWS). Karena anggaran itu bersifat swakwlola, sehingga dikerjasama dengan PIWS,” tuturnya.

Lalu di tahun 2018, menurut mantan Kepala Satpol PP itu, program wirausahawan muda masih sama seperti 2017, yakni kerjasama dengan PIWS. Namun untuk bantuan alat dijadikan satu dengan adanya centra yakni Wirausaha Muda Sumenep (WMS). Hal itu untuk mengantisipasi dijualnya bantuan.

“Teman-teman yang sudah belajar wirausahawan muda, baik yang 2016, 2017 dan 2018, ketika mau mengembangkan usahanya, semuanya bergabung di centra dan alatnya susah disediakan. Mereka belajar bersama dan memproduksi bersama. Manajemennya belajar bersama, baik konfeksi, catring dan lain sebagainya,” paparnya.

Oleh karenanya, ketika peserta mau mengembangkan usahanya, maka bergabung di sentra itu sendiri. Para peserta berlajar bersama kemudian memproduksi bersama. Misalnya memproduksi konveksi, kemudian belajar manajemen, mengembangkan usaha, pemasarannya bersama-sama. Hasilnya juga bersama-sama.

Bahkan, ketika ada peserta yang sudah paham, baik produksi, majamen, pemasaran dan lain sebagainya, dipersilakan mengajak teman sesama peserta pelatihan, untuk mandiri.

“Kalau peralatan tidak ada, nanti kami bantu mecarikan bantuan untuk alatnya. Miaalnya menjahit, kami carikan alatnya. Jadi tidak kami tinggal. Apalagi sampai terbentuk koperasi, kami persilakan untuk berkoordinasi dengan Diskop untuk dicarikan bantuan. Sudah ada koperasi yang sudah terbentuk, kami masih mendata dari tahun 2016 hingga tahun ini. Kami minta data-data untuk melakukan kebijakan,” terangnya.

Untuk tahun 2019 ini, disampaikan Fajar, masih sama dengan 2018. Bantuan, tidak diberikan kepada peserta, akan tetapi alat tersebut disediakan centra, kemudian peserta bersama-sama memproduksi.

Diakuinya, selama ini animo masyarakat terhadap program ini sangat tinggi. Bahkan, ada masyarakat yang tidak masuk persyaratan karena umurnya lebih. Tapi tetap dilayani, karena kemauannya untuk belajar berwirausaha sangat tinggi.

“Kami layani, karena kami menganggap sangat serius dan ketika sudah punya keahlian, benar-benar merealisasikan san membuka usaha,” ujarnya.

Sejauh ini, ada banyak yang sudah berjalan. Salah satubya adalah catring yang banyak berjalan dan sudah mandiri, dan bahkan sudah jadi pengusaha dan ada banyak yang sukses. Termasuk di bidang konfeksi, juga sangat luar biasa.

“Jadi, di centra itu peserta memanfaatkan alat untuk belajar dan hasilnya juga dijual. Hasilnya itu dikumpulkan dan akhirnya dijadikan modal untuk mandiri sambil lalu kami pantau perkembangannya,” pungkasnya. (ong/waw)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *