oleh

Jalan Terjal Ahmad Kurdi Irfani Gapai Sukses

Ahmad Kurdi Irfani berdiri di kampusnya STIEBA Madura

Kabarmadura.id-Meraih sukses bukanlah perkara mudah, dibutuhkan proses panjang yang mungkin semua orang tidak tahu, kecuali orang sukses itu dan Tuhan. Tidak sedikit tenaga dan pikiran yang harus dikerahkan untuk mencapai puncak. Begitulah yang dirasakan Ahmad Kurdi Irfani dalam meraih sukses menjadi pembicara terbaik dalam kompetisi debat mahasiswa Indonesia se-Jawa Timur.

Moh  Tamimi, Sumenep

Ahmad Kurdi Irfani bukan terlahir dari keluarga orang kaya, hanya dari keluarga sederhana. Meskipun begitu, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi KH Bahaudin Mudhary tersebut, mampu menunjukkan prestasinya di tingkat provinsi.

Ia dinobatkan menjadi salah satu pembicara terbaik pada ajang kompetisi debat mahasiswa Indonesia se-Jawa Timur di Universitas Abdurachman Saleh, Situbondo.

Irfan tidak sendirian dalam mengikuti lomba debat bergengsi di kampus tersebut, namun ditemani dua temannya, yaitu Nur Kholis dan Ali Ahzami. Akan tetapi, Dewi Fortuna lebih memihak kepada Irfan, sehingga ia menjadi salah satu pembicara terbaik di antara sembilan pembicara terbaik dari berbagai kampus di Jawa Timur.

Perjalanannya tidaklah mudah, apalagi berada di lingkungan yang tidak mendukung. Setelah lulus sekolah menengah atas (SMA), ia tidak langsung melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, namun masih bekerja selama lima tahun, mulai menjadi secure parking (tukang parkir) di Surabaya,  office boy (OB) di Lamongan, menjual lalapan di Bali, menjadi penjaga toko di Jakarta, dan terakhir menjadi buruh garam di desanya, Desa Gersik Putih.

Pilihan untuk berhenti bekerja dari semua itu dan kuliah, bukanlah pilihan mudah, apalagi setelah terbiasa mendapatkan penghasilan sendiri. Kesadarannya akan pentingnya kuliah semakin meningkat tatkala ia bergabung dengan organisasi di daerahnya, yaitu Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PAC IPNU) Kecamatan Gapura.

Saat ia berhenti bekerja dan mengikuti organisasi, banyak orang-orang di lingkungannya mencibir pilihan Irfan. Karena menurut mereka, mengikuti organisasi tidak mendapatkan hasil apa-apa, tidak mendapatkan uang, kecuali hanya sebatas lelah tak berarti serta membuang-buang waktu.

“Akan tetapi saya tidak menyerah begitu saja. Saya ingin menjadi contoh bagi masyarakat setempat betapa pentingnya organisasi dan pendidikan, saya ingin membuktikan bahwa ada banyak manfaat dalam mengikuti organisasi,” ungkapnya saat ditemui Kabar Madura di kampus STIEBA Madura, Rabu (10/4).

Irfan mengaku, dari oragnisasi itulah, kemampuan intelektualnya semakin terasah, karena sering melakukan diskusi-diskusi rutin dengan teman-temannya di oragnisasinya. Selain itu, dia juga rajin dalam membaca buku.

Diskusi sudah menjadi kebiasaan mahasiswa jurusan managemen yang hobi menonton film tersebut. Kini, jerih payah Irfan sedikit terbayar sudah dengan raihan prestasinya di tingkat Jawa Timur. (waw)

Komentar

News Feed