Jalan Terjal Perjuangan “Kartini” Milenial

  • Whatsapp
KM/Ist PERJUANGAN: Jalan terjal mahasiswi yang menjaga eksistensinya dalam organisasi sembari kesibukan keluarga.

Kabarmadura.id/Bangkalan – ‘Perjuangan tidak akan menghianati hasil’. Quote yang tepat sekiranya digambarkan terhadap jerih payah putri semata wayang penjual nasi pecel yang bernama Fakriyatun Nisak. Meski hanya bermodal nekad, perempuan beranak satu ini mampu menuntaskan pendidikan didikan tingkat strata 1 hingga pasca sarjana.

Syahid Mujtahidi, Kota

Perempuan yang familiar disapa Nisak tidak terlahir dari orang berada. Ayahnya Jazam hanya seorang pengembala sapi, setiap hari sang Ayah hanya menghabiskan waktu untuk mencari rumput demi memberi makan seekor sapi tersebut.

Demikian juga dengan ibunya Nimah yang hanya berprofesi sebagai penjual nasi pecel. Pendapatannya pun diperkirakan tidak akan mampu memenuhi kebutuhan biaya kuliah putri semata wayangnya tersebut.

Tidak hanya himpitan ekonomi yang menjadi tantangannya yang sudah ditakdirkan menjadi keturunan kurang berada. Keberadaan seorang anak yang diasuhnya setelah cerai dengan suaminya pada tahun 2013, juga menjadi tantangan berat yang harus dilalui Nisak selama kuliah.

Satu tahun setelah bercerai dengan suaminya, mahasiswi yang tinggal di Dusun Mongmong Barat, Desa Glagga, Kecamatan Arosbaya itu, memutuskan untuk menempuh pendidikan di jenjang kuliah. Dia berani bertaruh di tengah tanggung jawabnya yang cukup besar sebagai tulang punggung orang tua, sekaligus mengurus putranya.

Namun siapa sangka, keberuntungan menaungi keputusan Nisak. Dia lolos sebagai mahasiswa beasiswa di di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Syaichona Moh. Holil Bangkalan. Meski menyandang status janda beranak satu, dia konsisten dengan berbagai kesibukan saat menuntut ilmu di kampus tersebut.

“Ini keputusan yang sangat sulit waktu itu. Saya awalnya sulit mendapatkan izin dengan alasan ekonomi, tapi saya terus meyakinkan keluarga dan terus berusaha untuk berjuang demi menjadi orang berpendidikan yang akhirnya saya dapat beasiswa,” ceritanya, Rabu (10/7).

Berbekal semangat yang tinggi, Nisak tidak hanya fokus belajar di dalam bidang pengembangan akademik, dia pun aktif menjalani kesibukan di beberapa organisasi intra kampus, yang kemudian mengantarkannya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Bahasa Arab. Tak hanya itu, dia pun menjadi pioner ketua dari kalangan kaum Hawa yang ada di kampus tersebut.

Di samping itu, dia juga terjun dalam organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Di organisasi berbasis Ahlu Sunnah Wal Jamaah itu, “Kartini” milineal itu pun mampu bersinar. Berkat ketekunan dan konsistensinya sebagai aktivis perempuan, dia dipercaya untuk menduduki jabatan Ketua KOPRI Pengurus Komisariat PMII STAIS Bangkalan, bahkan saat ini dirinya melenggang menjadi Ketua KOPRI PMII Cabang Bangkalan.

Namun, mahasiswi ini menceritakan, tidak mudah menjaga eksistensinya di organisasi. Dia harus membagi waktu untuk keluarga dan harus berjuang menjadi aktivis di tengah keterbatasan fasilitas kendaraan. Bahkan, dia dituntut untuk kuat mental saat jadi buah bibir masyarakat lantaran kerap kali keluar rumah.

“Mulai dari pemikiran masyarakat yang jelek terhadap perempuan yang sering keluar rumah. Apalagi tidak punya motor sendiri, jadi aktivis yang mau kemana-mana itu sulit sekali, penuh perjuangan sekali. Tapi, kalau dijalani dengan sungguh-sungguh Insya Allah akan ada hasil yang diraih,” tandasnya. (idy/pin)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *