oleh

Jambangan Peninggalan Thailand

Bukti Kerja Sama antar-Kerajaan Nusantara

Tidak sedikit orang mengatakan bahwa sejarah ditulis oleh para pemenang atau sejarah dimiliki para pemenang. Akan tetapi, yang lebih penting dari itu semua adalah, sejarah harus dibuktikan. Meskipun tidak menyeluruh, paling tidak ada penanda bahwa ada sejarah yang harus diketahui, dan hal itu ada kemungkinan terjadi walau sebatas interpretasi.
Moh Tamimi, Sumenep

Frederick Nietzsche pernah berkata, sebagaimana dikutip Karlina Supelli dalam buku “Dari Kosmologi ke Dialog”, mengungkapkan bahwa tidak ada kebenaran, yang ada hanyalah interpretasi.

Apa yang dikatakan Nietzsche relevan jika dikaitkan dengan sejarah, karena tidak ada yang bisa kembali ke masa lalu untuk mengetahui suatu kejadian secara persis rinciannya. Orang-orang di masa depan hanya mampu menginterpretasi dari beberapa peninggalan yang masih tersisa sampai saat itu.

Benda-benda koleksi di sebuah museum adalah sebagai salah pengabadian sejarah yang terus dipelihara, peninggalannnya. Akhirnya, benda-benda yang terdiam itu akan menjadi saksi bisu adanya sebuah peristiwa yang tak mampu ia ungkap sendiri kecuali oleh seorang sejarawan atau orang-orang yang mau mengerti tentang sejarah.

Salah satu saksi bisu yang berada di Museum Keraton Sumenep adalah sebuah guji keramik yang berasal dari Thailand yang sampai saat ini masih tetap tersimpan rapi dan terpelihara di gedung museum I.

Tidak ada banyak yang tahu tentang risalah guji tersebut, mengapa bisa berada di sini. Hanya saja menurut Kepala Museum Moh Erfandy mengungkapkan bahwa guji itu ada di Sumenep karena adanya hubungan baik antara keraton Sumenep dan kerajaan yang ada di Thailand.

“Ya bisa saja seperti itu, karena pada waktu itu, khususnya pangeran Abdour Rahman banyak mempunyai hubungan baik dengan negeri-negeri luar. Bisa saja begitu pula dengan Thailand. Sama halnya saya mempunyai hubungan baik saya dengan kamu, lalu kamu membantu atau memberikan sesuatu kepada saya,” ungkap pria setengah baya tersebut saat ditemui Kabar Madura di Kompleks Museum Keraton Sumenep, Rabu (20/3).

Dalam keterangan yang ditulis di samping jambangan tersebut, jambangan tersebut berasal dari Thailand sekitar abad  XVII masehi, dihiasi motif binatang dan tumbuhan berwarna kuning di bawah glasir coklat. Berfungsi sebagai wadah air dan pot tanaman hias. (waw)

Komentar

News Feed