oleh

Jangan Hanya Menjadikan Batik Sebagai Simbol

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN – Gedung sentra batik, di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan hingga saat ini masih proses penyelesaian pembangunan. Berdirinya bangunan tersebut, akan membuahkan manfaat untuk peningkatan perekonomian masyarakat. Hal tersebut diungkapkan, Sekretaris Komisi II DPRD Pamekasan, Moh. Ali, Rabu (10/02/2021).

Menurutnya, pengelolaan sentra batik harus dilakukan secara maksimal. Sehingga mampu, membantu perekonomian para pengrajin dan pengusaha batik.  Terlebih, Desa Klampar menjadi pusat pengrajin batik di daerah.

Politisi Partai Demokrat itu berpandangan, pengelolaan sentra batik perlu didukung dengan peraturan daerah (perda). Sehingga, adanya perda dimaksudkan untuk menjamin para pengusaha batik dan para pengrajin batik di daerah.  “Kalau diatur dengan perda, nanti mereka memiliki payung hukum,” ujarnya.

Perda itu, tidak hanya akan mengatur pengelolaan gedung sentra batik. Akan tetapi, diharapkan mampu menjadi jaminan kesejahteraan pengusaha dan pengrajin batik. Sehingga, pemkab akan terlihat serius mengenai pemasaran batik daerah.

Selama ini, pemkab hanya menjadikan batik sebagai simbol karakter dan menjadi pajangan di berbagai tempat, hingga ke seluruh mobil dinas para pejabat.  Namun, saat ini mulai ada yang kongkrit sejak diberlakukannya batik tulis asli Pamekasan sebagai pakaian dinas. “Para pengusaha dan pengrajin batik itu, menunggu langkah konkret,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pamekasan, Ahmad Sjaifuddin melalui Kepala Seksi (Kasi) perdagangan, Budi Bachtiar mengaku, belum bisa memberikan tanggapan.

Sebab, gedung tersebut hingga saat ini masih dalam tahap pembangunan pagar. Selain karena pembangunan yang belum rampung, gedung itu dibangun dengan menggunakan alokasi anggaran dari pemerintah pusat. “Gedung itu, masih dalam pembangunan. Lebih jelasnya, ke pak kadis saja,” dalihnya. (ali/ito)

 

Komentar

News Feed