oleh

Jazilah Sempat Ingin Hentikan Produksi Jubadha dan Kerja Kantoran, Kini Istikamah Membesarkan Usahanya

Kabarmadura.id/Sumenep-Sekitar 30 tahun silam, Jazilah sudah berkeinginan memutus kebiasaan yang diproduksi oleh keluarganya secara turun-temurun, yaitu Jubadha, makanan khas Sumenep yang terbuat dari air nira aren. Dia ingin hidup seperti perempuan byang ekerja di kantoran. Namun jalan takdir justru membuatnya tetap melanjutkan produksu Jubadha.

MOH RAZIN, SUMENEP

Akhirnya, warga Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Sumenep ini sampai sekarang melestarikan warisan keluarganya itu. Memproduksi Jubadha bukan tanpa alasan, dan bukan semata memikirkan kepentingan pribadinya.

Ada sekitar 20 orang di sekitarnya yang juga dipekerjakan dalam proses memproduksi, sehingga jika tidak dia lanjutkan, maka secara otomatis usahanya gulung tikar, dan masyarakat sekitar juga kehilangan pekerjaan.

Mengerjakan Jubadha tidaklah sulit, bahkan banyak yang mengatakan ringan. Namun di balik itu, daat memproduksiya  butuh ketelatenan yang cukup.

“Saya sebenarnya tidak mau, tapi dulu itu saya dititipi mudal dan peralatan sebelum orangtua saya ikut kakak saya, dia itu bilang terserah saya mau dilanjutkan atau tidak usaha ini, padahal saya bilang ke mereka saya mau pegang pulpen kalau bekerja bukan perabot dapur, tapi karena memang banyak yang kehilangan kegiatan maka saya yang ngalah, saya lanjutkan produksi ini,” tuturnya, kemarin.

Kegiatan produksi tersebut sudah lebih seratus tahun, karena seingatnya, sudah tiga generasi. Sedangkan yang menjadi alasan para tetangga tetap bertahan bekerja sama, dikarenakan tidak ada paskaan dalam proses pengerjaannya, serta bebas dikerjakan di mana saja, termasuk di rumah masing-masing.

Jazilah melanjutkan, pada waktu normal (sebelum masa Covid-19) omzet penjualan yang didapatkan sampai Rp600 per hari. Sementara untuk pemasaran hampir merata ke seluruh Madura.

Menariknya, produk yang bermerek Manyang Sari itu juga masuk produk resmi dan punya SIUP. Sehingga untuk sterilisasi pada proses produksinya bisa dibilang sudah terjamin. Karena yang dikerjakan pekerjanya juga dikontrol selama bekerja di rumah masing-masing.

Selain itu, untuk pengadaan bahan baku yang juga bersumber dari air siwalan (La’ang), selain tepung, maka secara otomatis juga berdampak pada nilai jualnya, terutama yang diambil dari desa setempat.

“Ini yang kerja (mengikat sehingga berbentuk segi empat itu) kan memang bekerja di rumahnya, yang bebas itu waktunya mau siang atau malam terserah tapi kalau pengawasan juga diperhatikan. Alhamdulillah kalau yang pesen itu banyak, orang Kabupaten Bangkalan juga sering,” imbuhnya.

Perempuan yang berdomisili di Dusun Blajud itu juga menceritakan, bahwa usahanya yang sudah bisa membantu meringankan beban para tetangganya itu juga terbilang mandiri, karena memang pada proses produksinya tidak terlalu memerlukan biaya besar.

Yang dikhawatirkannya adalah masa depan produksi Jubadha yang terbilang tidak ada generasi penerusnya, tapi dia tetap optimis jika produk tersebut akan tetap memberikan manfaat jika terus dilestarikan. Karena tidak perlu merintis lagi, tapi tinggal memodifikasinya.

“Kalau dari pemerintah itu disuruh lanjut produk ini, tapi saya sudah tawarkan kepada para keponakan itu sampai saat ini masih belum ada yang minat kayaknya, tapi tidak tahu nantinya, semoga ada yang mau melanjutkan man eman soalnya,” paparnya.

Apalagi dalam proses pemasarannya sudah terbilang sangat mudah karena tinggal menitipkan saja, artinya sudah tidak usah mencari pasar lagi. Sudah tinggal melanjutkan saja.

“Endak kalau toko-toko itu sudah tertata kok, tinggal mengirim saja, dan yang pesan juga banyak,” pungkasnya. (waw)

Komentar

News Feed