oleh

Jelang Hari Raya Kurban, Waspada Daging Sapi Gelonggongan

Kabarmadura.id/Bangkalan-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan meminta masyarakat mewaspadai sapi glonggongan. Masyarakat harus bisa membedakan mana sapi glonggongan dan sapi yang sehat.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Kesmafet Dinas Peternakan Kabupaten Bangkalan Siti Sumirah.Menurutnya, sapi glonggongan membang besar, tetapi ketika disembelih daging dari sapi tersebut tidak segar.

“Daging dari sapi glonggongan tersebut tidak seperti daging sapi biasanya,” jelasnya, Rabu (15/07/2020).

Menurutnya, daging dari hasil glonggongan tersebut memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan daging sapi yang normal seperti biasanya.

“Daging dari sapi gelonggongan terlihat lebih pucat, ketika daging sapi tersebut digantung maka daging itu akan netes air sehingga kondisi daging tersebut cepat basi,” ujarnya.

Pihanya menyebutkan bahwasanya  waspada terhadap sapi gelonggongan tersebut pihaknya akan memberikan pemahan terhadap masynagar terhindar dari tipu daya sapi geronnggongan,” menjelang hari raya kami akan memberikan sosialisasi bterhadap masyarakat agar masyarakat btidak tertipu dengan adanya sapi gerongonga ,” paparnya.

Sementara itu, salah seorang pedagang di Bangkalan, Ahmadi mengatakan, sapi glonggongan sebenarnya mudah dikenali asalkan lebih teliti. Jika dilihat dari bentuk, ciri-ciri sapi glonggongan biasanya  terlihat lebih lemas dari sapi biasanya. Sebab sapi tersebut diberi minum air yang sangat banyak sehingga tubuh sapi tersebut berat.

“Sejauh ini, saya tidak pernah menemukan sapi glonggongan yang dijual di pasaran. Walapaun ada sapi yang dijual di pasaran dengan cara seperti itu, teman-teman pedagang tidak akan mau membeli sapi tersebut,” jelasnya.

Alasan pedagang tidak mau membeli sapi glonggongan karena daging dari sapi tersebut tidak seenak sapi biasanya. Pada akhirnya, jika ada pedagang yang tetap menjual sapi glonggongan, maka tidak akan ada orang yang akan membelinya lagi kepada pedagang tersebut.

“Jika pedagang menjualbelikan sapi glonggongan, maka kedepannya tidak ada orang yang membeli sapi kepada pedagang tersebut. Sebab secara logika masyarakat akan trauma ketika ingin membeli lagi,” jelasnya. (sae/pai)

Komentar

News Feed