oleh

Jendela Berdebu

Oleh: SM. Adam

Kejahatan yang sangat kejam adalah membiarkan rindu menggantung tanpa kejelasan. Bergoyang perlahan di terpa angin yang samar. Membuat keberadaannya tidak membumi ataupun melangit.

Lelaki separuh baya itu melamun dibawah jendela dalam rumah lapuk yang berisikan kursi dan meja masing-masing satu buah. Dia merasakan kerinduan pada mendiang kekasihnya. Tiga tahun berlalu perempuan yang telah menumpahkan berbagai warna dalam hidupnya di rengkuh bumi. Dipendam dalam tubuh bumi. Tak ada satu potret pun yang bisa ia lihat barang untuk sekejap mengenang wajah elok sang kekasih.

Hari demi hari aku rasa begitu kelam, semakin gelap cahaya yang kemarin kulihat sebesar bola sepak kini hanya sebesar bola pingpong, tak lebih.” Gumam lelaki paruh baya itu dengan tangan memeluk kedua lutut. Pandangannya kini diarahkan kepada kursi lapuk itu. samar-samar dia melihat bayangannya duduk melepas lelah seusai kerja. Dari belakang kekasihnya datang membawa secangkir teh hangat. Kemudian keduanya berbincang disinari matahari senja yang merunduk memasuki jendela rumah. “ ah masa itu.” lelaki itu mensucikan mulut dengan sebuah senyum tipis di bibirnya. Kemudian dia kembali pada kenyataan wanita yang amat dicintainya telah lebih dulu meniduri tanah.

“ Sayang…senja kali ini kelabu. Sepertinya cahaya mentari tak tega melihatku yang amat terluka, mungkin dia takut salah berucap dan membuatku tersinggung. Kaca jendela yang setiap pagi kau lap dengan dengan lembut dan selalu kau bisiki harapan kini kian kotor. Maafkan aku, bukan aku tak ingin membersihkanya hanya saja aku tak kuasa. Kau selalu muncul pada kaca itu. sedang kerinduan mendesakku untuk memelukmu yang telah jauh pergi. Semua itu menyiksaku. Kalau boleh aku bertanya, kemana harus ku alamatkan kerinduan ini? ke pusara mu? Pernah ingin kulakukan itu, tapi aku takut rindu ini tak sampai karena terhalang undakan tanah yang cukup tebal. Aku sudah tak lagi muda, dorongan kerinduanku mungkin takan kuat menembus tanah yang semakin mengeras itu.” kini lelaki itu bangkit dan berjalan mondar mandir dihadapan jendela kemudian berhenti  sejenak dan kembali mengayunkan kakinya. Jendela persegi dengan kaca yang penuh debu. Kalaula jendela itu bisa berucap mungkin jendela itu akan memaki lelaki tua Bangka yang hilir mudik itu. tapi untungnya Tuhan tidak menganugerahkan itu.

Lelaki itu kini berhenti agak lama disamping kiri jendela. Menundukan wajahnya kemudian menatap ke atas. Ada senyum samar di bibirnya, tapi tatapannya kosong. Lelaki itu tengah memikirkan sesuatu. “hmmmm” kata lelaki itu berbarengan dengan menjentikan jari tangannya yang kemudian bergegas melangkah menuju kursi dan duduk mendongak. Lelaki itu kembali bergumam.” Aku pernah mendengar bahwa manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Yah yang di pendam di tanah itu tidak lain hanyalah jasmani. Pakaian dari air mani. Itu hanya sebuah pakaian bukan isinya. Sekarang aku tau kemana rindu ini harus ku alamatkan, pada rohaninya. Yah benar… hahahaha pada ruhani. Kenapa aku bisa lupa khotbah itu. apa karena aku sudah tua? Tapi ya sudahlah aku sudah tahu sekarang.” Lelaki itu memejamkan matanya dengan perlahan. Tapi sekejap kemudian matanya kembali terbelalak.” Tapi dimana ruhaninya sekarang?” lelaki itu menyapukan pandangannya kesekeliling ruangan. “ sebentar, aku harus kembali mengingat terusan khotbah itu.” dia memejamkan mata, tapi kali ini cukup lama. Matanya terbuka dengan perlahan. Sepertinya lelaki itu menemukan apa yang dicarinya dalam kepala yang ditumbuhi bulu-bulu kusut hitam bercampur putih. “ ruh itu berasal dari sang maha ruh. Tepat sekali aku ingat betul. Tapi siapa sang maha ruh? Aku tak mengenalnya bahkan namanya pun aku tak tahu. Lagi pula khotbah itu adalah khobah pertama yang aku dengarkan selama aku bernafas. Tapi aku yakin benar ruh kekasihku kembali kepada dia sang maha ruh.”

Matahari senja mulai berlindung dibalik bukit belakang rumahnya. Matahari itu tau betul siapa yang kemudian akan muncul, bulan. Sedang lelaki tua itu masih duduk tanpa berpindah hanya gerakan-gerakan kecil yang diperbuatnya. Sepertinya dia masih berkutat dengan pikiranya, dengan rindu yang kian hari kian bertambah berat, dan dirasa semakin menekannya memintanya untuk segera memberikannya kepada yang berak, kekasihnya.

Sebuah hentakan kaki terdengar. “ persetan dengan nama pemilik ruh itu!” bentak lelaki itu dengan tiba-tiba. Meja yang sedari tadi dihadapanya seolah hendak lari terbirit karena kaget. “ rindu ini akan kusampaikan kepada pemilik ruh itu. akan ku suruh dia menyampaikanya pada kekasihku. Aku sangat yakin kalau kekasihku pun merasakan hal persis sama dengan ku. Lelaki itu terdiam sejenak. Seperti ada yang mengganjal di hatinya. “ dimana aku bisa menemuinya? Aku tak kenal dia apalagi rumahnya”.

Lelaki itu bangkit kemudian melangkah kearah jendela dan duduk sama persis seperti yang dilakukannya senja tadi. Dia memeluk kedua lututnya badanya mengigil, nafasnya tersendat dan rintik air mata mulai tampak di pipinya. Tangisnya tanpa suara tapi semut dan jangkrik malam itu mendengarnya. Lelaki itu terus mengeluarkan air mata. Dia merasa kalah, kalah dengan rasa rindu, degan pikiranya yang buntu, dengan kesepian yang menjelma anak panah yang menikam jantung dan uluhatinya.

Sedetik kemudian lelaki itu menyeka air matanya dan bangun degan dada membusung. Dia berbalik ke arah jendela yang kemudian dibukanaya. Sejenak dia berdiam mengumpulkan segenap tenaga dan teriakannya nama sang kekasih “ keristinaaaaaaaaaaaaaa!!!”

Teriakan itu adalah sisa-sisa tenaganya dan akhirnya lelaki itu tumbang  terkulai lemas. Dia masih sanggup bergerak dan merangkak. kepalanya yang pening ditempelkan pada dinding rumah yang kusam dan berjamur. Kemudian dia berbisik lirih.

“ Sang Maha Ruh aku merindukanya, aku merindukan sesosok ruh yang saat ini ada bersamamu…..” lelaki itu tergolek tak sadarkan diri ditengah kalimatnya yang terputus.

Dalam ketak sadarannya ia melihat kekasihnya tersenyum manis dan berbisak “ aku juga merindukanmu sayang.”

 

SM Adam, Lahir di Sumedang Jawa Barat  30 September 1996 mahasiswa Jurusan Tasawuf Psikoterapi Uneversitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung bergiat di Komunitas Studio Sastra Cibiru.

 

 

Komentar

News Feed