Jeritan TKI Madura di Malaysia: Kami juga Warga Indonesia!

  • Whatsapp
KM/ SYAHID MUJTAHIDY

Kabarmadura.id-Pemerintah Malaysia telah menerapkan lockdown sejak 18 Maret hingga 31 Maret. Namun, diperpanjang hingga 14 April dengan peraturan yang lebih ketat. Pelanggar bakal dijatuhi denda RM1 Ribu (Rp3.612.850). Mereka hanya bisa keluar membeli makanan dengan jarak maksimal 10 kilometer.

Di samping itu, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Madura di Malaysia ketika sudah memasuki masa lockdown kedua, dihadapkan pada persediaan makanan sudah krisis. Ditambah lagi, mereka yang pekerja kasar harus kehilangan sumber pendapatannya.

Bacaan Lainnya

Bagaimana kondisi TKI di Malaysia, termasuk yang dari Madura di tengah penerapan lockdown? jurnalis Kabar Madura Syahid Mujtahidy mengorek informasi dari Ketua Perkumpulan Alumni dan Santri Al-Hamidy Banyuanyar (Persaba) Malaysia Abdul Kholik.

Bagaimana penerapan lockdown di Malaysia?

Lockdown di Malaysia ini ada tiga tahap. Tahap pertama peraturannya memang agak longgar, sistemnya adalah mengajak dan imbauan. Lockdown tahap kedua ini memang ada tindakan, maksudnya terdapat hukuman, bayar denda RM1 Ribu (Rp3.612.850).

Peraturannya tidak boleh keluar rumah, hanya boleh keluar untuk membeli makanan dengan jarak 10 kilometer. Selain dari beli makanan itu, tidak boleh keluar, walaupun hanya 1 kilometer.

Semuanya di sini tutup, kecuali toko makanan, toko yang menjual bahan makanan. Memang di sini semua pekerjaan tidak ada, kecuali sektor-sektor emergensi. Pihak pemerintah hanya mengajak, mengimbau, dan ancaman dengan denda.

Bagaimana pekerjaan di tengah penerapan lockdown?

Itu Mas yang menjadi persoalan kami. TKI yang bekerja di Malaysia itu ada yang gaji harian, bukan semua gaji bulanan seperti rektor, dokter yang kerja di sini. Itu oke ditanggung. Kalau kerja kasar, memang tidak ada.

Ada yang sudah kerja lima hari, kami minta gaji, tapi dengan gampang bilang sekarang tidak boleh keluar; bagaimana mau bagi gaji, katanya.

Bagaimana kalian bertahan hidup?

Diberlakukannya lockdown ini memang kami tidak ada duit. Mungkin yang tahap pertama itu memang masih bisa bertahan, ada sedikit saja beras atau apa. Tapi, lockdown kedua dan ketiga, kami TKI sudah kebingungan; beras tidak ada, duit tidak ada. Mau pinjam ke teman-teman, semua nasibnya sama.

Yang kami khawatirkan bukan hanya sampai tanggal 28 April yang tahap ketiga, takutnya diperpanjang lagi hingga setelahnya hari raya. Kalau betul disambung lagi, ini akan menjadi krisis besar persoalan TKI di sini, bukan hanya sekadar kelaparan, ada dampak sosial, tahu sendiri kalau perut lapar seperti apa.

Apakah sudah ada bantuan?

Persaba dan organisasi masyarakat Indonesia di sini semua menggalang dana bahu-membahu satu sama lain untuk bisa membantu yang benar-benar sudah kehabisan.

Bagaimana dengan pemerintah di Indonesia?

Pak Jokowi memang sudah membuat kebijakan melalui menteri luar negerinya untuk membantu WNI yang ada di Malaysia yang terdampak lockdown. Bantuan yang dari pusat itu belum sampai ke Malaysia dikarenakan itu ribetnya dengan birokrasi, yang teralalu banyak peraturan, sehingga sampai sekarang bantuan itu belum dikucurkan. Belum sampai ke kedutaan sini. Walaupun kedutaan di sini membantu menggunakan modal sendiri juga.

Kalau bantuan yang berangkat dari organisasi masyarakat, semua itu menggalang dana, sumbangan dari bagian donatur-donatur yang peduli dengan WNI di sini. Semua organisasi masyarakat WNI di Malaysia bahu-membahu menggalang bantuan.

Bagaimana harapan kalian di situ dengan kondisi seperti saat ini?

Saya berharap orang yang membaca berita ini paling tidak mendoakan lah, semoga berita ini juga sampai ke yang mengambil keputusan (pemerintah). Semoga pemerintah bisa segera menangani. Kami sama juga warga Indonesia yang perlu dilindungi oleh pemerintah.

Harapan kami, kalau bisa ada bantuan ke kami. Kedua, kalau boleh dipulangkan. Ketiga, pemerintah harus hadir ke sini, harus memberi semangat, jangan lepas tangan. Berharap Duta Besar RI untuk Malaysia, Bapak Rusdi Kirana agar kembali ke Kuala Lumpur, untuk hadir bersama masyarakat Indonesia di Malaysia. Dalam kondisi krisis seperti saat ini, kehadiran beliau amatlah dinantikan, agar dapat lebih gencar melakukan lobi-lobi diplomatik terhadap Pemerintah Malaysia, supaya krisis ini dapat segera teratasi. (idy/nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *