Jiwa Bisnis Pemain Madura United Bayu Gatra Terbangun sejak SD Kelas 1

(BAYU for KM) BERWIRAUSAHA: Bayu Gatra terus mengembangkan bisnis toko olahraga.

KABARMADURA.ID | Tidak sedikit pemain sepak bola yang masih aktif di lapangan hijau mulai merambah ke dunia bisnis. Salah satunya penyerang sayap Madura United Bayu Gatra Sanggiawan. Dia kini tengah fokus mengembangkan bisnis toko olahraga.

SYAHID MUJTAHIDY, PAMEKASAN

Bukan informasi baru Bayu Gatra telah memiliki bisnis toko olahraga.  Toko itu diberi nama ‘Bayu Gatra Sports’ dan diresmikan sebelum bergabung latihan dengan Madura United.

Bacaan Lainnya

Bayu menceritakan, usaha itu dirintis lantaran merebaknya wabah Covid-19 di Indonesia. Sehingga, dia berpikir untuk membuka sumber rezeki yang berbeda dari profesinya sebagai pesepakbola.

Sejatinya, banyak bisnis yang dijalankan, seperti halnya agen JNE Bayu Gatra. Namun, saat ini, pemilik nomor punggung 7 di Madura United itu lebih fokus mengelolah toko olahraganya. Sebab, dia melihat animo dari sport store yang pertama cukup tinggi, baik pembeli yang langsung datang ke toko maupun pesan via online.

Dia mengaku, dalam perjalanannya di dunia bisnis tidaklah mulus. Bahkan, Bayu memiliki pengalaman pahit, pernah ditipu saat awal-awal merintis usaha.

“Namanya juga bisnis, pasti ada pengalaman buruk, kalau tertipu, saya pernah di awal-awal, tapi bisa belajar dari pengalaman dan sekarang mulai lebih hati-hati,” curhatnya.

Sementara untuk darimana jiwa bisnis itu muncul, Bayu menjelaskan, diawali dari masa sulit perekonomian keluarganya saat kecil. Dia mengaku, pernah makan hanya dengan nasi dan lauk garam.

Sehingga, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Sumber Lesung 2, Ledokombo, Jember, Bayu telah diperkenalkan dengan dunia bisnis oleh orang tuanya. Ketika itu, dia yang masih kelas satu sudah membawa es pepaya untuk dititipkan ke kantin sekolah.

Tugas Bayu, hanya membawa barang dagangan itu serta menghitung hasil penjualan yang dititipkan di kantin sekolah. Tidak lama kemudian, dia mulai terjun langsung sebagai pebisnis dengan jualan permen karet.

Dari pengalaman itu, kata Bayu, dirinya mulai memahami sulitnya mencari uang hingga menguatkan mental agar tidak gengsi untuk membuka pintu rezeki yang lain, walaupun sudah menjadi pemain yang populer.

“Saat pulang dari Timnas Indonesia, saat tidak malu membantu angkat-angkat barang orang tua di Jember, walaupun banyak tetangga bilang, ‘Ngapain, kamu harus ikut membantunya, padahal sudah menjadi pemain timnas’,” tuturnya.

Pemain berdarah Madura itu juga berpesan, agar talenta muda sudah mulai memikirkan masa depannya. Sebab, masa kejayaan pesepakbola tidak bisa dihitung melalui umur, melainkan kesempatan dan kesiapan. Dia mencontohkan, banyak pemain muda saat masa keemasannya redup atau justru cedera hingga tidak bisa kembali ke performa terbaiknya.

Redaktur: Sule Sulaiman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.