Jiwa-Jiwa yang Sakit


Jiwa-Jiwa yang Sakit

Oleh: Chudori Sukra*)

Puluhan ibu-ibu pengajian seperti mati rasa, ketika dikabarkan bahwa nasi ransum yang mereka santap beberapa minggu lalu, mengandung lemak babi. Beberapa di antara mereka muntah-muntah dan perutnya kejang-kejang. Puluhan orang dinyatakan sakit pusing dan diare, kemudian dilarikan ke rumah sakit.

Bu Narti yang menghembuskan isu tentang lemak babi itu, kini sedang cengar-cengir menonton acara kuis pada tayangan televisi. Ia tidak memahami dampak yang ditimbulkan dengan menghembuskan isu negatif tersebut. Seorang jamaah bertanya kepada saya, selaku dokter yang bertugas di Puskesmas Jombang Wetan, perihal puluhan ibu-ibu yang dirawat di rumah sakit.

“Beberapa sudah saya periksa, tapi tidak ada masalah yang bisa dijelaskan secara medis. Pada umumnya baik-baik saja, tapi sebagian besar mengeluh karena rasa pusing.”

“Apakah disebabkan lemak babi itu, Dok?” tanyanya kemudian.

“Tidak ada masalah dengan makanan yang mereka konsumsi, juga tidak ada yang keracunan makanan…”

“Tapi kenapa kebanyakan mengeluh pusing-pusing, bahkan ada yang mengalami diare?”

“Saya kurang tahu, Bu,” saya terdiam dengan pandangan menerawang. “Tapi, bukankah agama memaklumi, seandainya konsumen itu tidak tahu, ternyata apa yang dimakannya itu adalah daging yang dilarang oleh agama?”

“Saya sendiri kurang paham, Dok,” kata ibu itu menggelengkan kepala.

Keesokan harinya, beberapa pasien datang lagi mengeluhkan kesehatannya. Tapi setelah didiagnosa, problem yang mereka keluhkan sama saja, pusing, mual-mual dan diare.

Pada Minggu pagi, saya pun merasa terpanggil untuk mengonsultasikan persoalan masyarakat kepada Kiai Siroj, yang kemudian beginilah jawabnya, “Memang tidak banyak masyarakat kita yang paham bahwa dalam ajaran-ajaran agama ada pengecualian yang disebut al-dlarurah. Jadi, pada dasarnya Tuhan memaklumi kesalahan yang dilakukan hamba-Nya, jika kesalahan itu tak disengaja atau tak diketahui oleh pelakunya.”

Beberapa hari kemudian, saya dapat menarik kesimpulan bahwa penyebab kegalauan dan kekecewaan masyarakat Jombang Wetan, tak lain karena isu tentang daging babi di acara pengajian tersebut. Itu pula yang mengakibatkan puluhan orang dilarikan ke rumah sakit karena suatu penyakit yang tak jelas apa. Ketika saya konfirmasi, pihak panitia sudah mengabarkan perihal ratusan ransum yang dipesan di warung makan Bu Leha menjelang pengajian dalam rangka Maulid Nabi itu. Bu Leha sudah menjelaskan pada beberapa ibu-ibu bahwa sosis yang terdapat pada sayur capcay itu adalah daging sapi, dan bukan daging babi seperti yang gencar diberitakan akhir-akhir ini.

Tetapi, kabar yang didengar dari mulut Bu Leha tidak memiliki otoritas yang dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat. Masalahnya, isu yang berhembus itu bukan hanya dari mulut ke mulut saja, tetapi juga ada beberapa wartawan yang sudah mewawancarai Bu Narti perihal kebenaran informasi tersebut.

Setelah koran lokal itu terbit keesokan harinya, bertambah banyaklah pasien-pasien yang memenuhi bangsal rumah sakit, hingga mencapai puluhan pasien. Pihak polres kewalahan menangani keluhan-keluhan masyarakat perihal isu daging babi tersebut. Mobil-mobil ambulans mengangkuti ibu-ibu dari penjuru kampung, bahkan tidak jarang dalam satu mobil terbaring dua pasien yang sekaligus diangkut ke rumah sakit daerah.

Saya sendiri tak mampu menjelaskan secara mendetil kepada pihak kepolisian, apa yang menyebabkan orang-orang itu tiba-tiba terjangkiti penyakit aneh yang sulit diterangkan secara medis.

“Apakah mereka kerasukan setan atau hantu?” tanya seorang ketua RW yang lugu dan polos.

“Saya kira tidak,” jawab saya, “mungkin mereka sakit pikiran atau perasaan.”

“Apa yang mereka pikirkan?” desak Pak RT.

 “Barangkali karena mengonsumsi daging babi itu…”

“Pak Dokter jangan macem-macem, apa hubungannya daging babi dengan sakit pikiran?” kata seorang aparat yang agak temperamental.

“Memang tak ada hubungannya, Pak, tapi…”

“Tapi apa, Dok? Buktinya saya pernah bertugas di tengah hutan, dan tiap hari makan sate celeng atau bedul, tapi kepala saya tak pernah merasa pusing… apalagi sampai mual-mual dan diare?”

Untuk menghindari persoalan yang melebar ke sana kemari, saya memutuskan undur diri dari perdebatan, kemudian beranjak menuju kediaman Kiai Siroj, tokoh agama yang tinggal di kampung Karang Asem.

***

Kiai Siroj langsung menghadiri undangan saya agar menyampaikan ceramah di masjid Darul Muttaqin, kampung Jombang Wetan. Ia tidak mengharap upah dan bayaran apapun, karena berniat dengan tulus untuk mengklarifikasi persoalan pelik yang dialami warga kampung.

“Hadirin sekalian yang saya hormati,” demikian ia memulai ceramah setelah mengucap salam. “Saya diundang untuk menyampaikan ceramah ini oleh seorang dokter yang memiliki kepedulian untuk memberi pelayanan terhadap masyarakat, apapun suku dan agamanya. Di masjid ini, saya ingin menjelaskan pada masyarakat Jombang Wetan, mengenai kekisruhan yang terjadi disebabkan penyakit yang sulit dijelaskan oleh pihak dokter manapun. Apa yang mereka alami selama ini? Kalaupun masyarakat merasa depresi dan kecewa, lalu apa yang mereka kecewakan? Bukankah para nabi dan rasul diutus dengan membawa misi agamanya, untuk mendamaikan dan menenteramkan umat? Lalu, di mana fungsi agama, jika suatu ajaran yang ada padanya justru menyebabkan kegalauan dan kekecewaan di hati masyarakat?”

Kiai Siroj terdiam sejenak. Ia membaca reaksi para hadirin dengan penuh kelembutan. Mereka menyimak apa-apa yang diuraikan kiai bijak itu dengan seksama dan penuh antusias. Ikut hadir pula pada acara tersebut pihak panitia yang mendampingi Bu Leha, termasuk beberapa aparat dari pihak polres yang turut-serta menyimak fatwa sang kiai.

Diterangkan secara panjang-lebar bahwa ada sumber-sumber penyakit yang sulit dijelaskan secara paramedis. Kadang-kadang seorang pasien yang mengalami sakit kronis sekalipun, tiba-tiba bisa sembuh total kalau dia selalu berpikir positif dan optimistis. Tetapi sebaliknya, orang yang mengalami sakit ringan seperti flu atau pilek, bisa saja membunuh penderitanya jika ia bersikap skeptis dan pesimis dalam menjalani hidup ini. Padahal, dalam kehidupan beragama ada yang disebut permakluman atau pengecualian (rukhshah atau dlarurah), bahwa seseorang akan diampuni oleh Tuhan jika melakukan sesuatu secara tak disengaja, atau tidak diketahui bahwa apa yang diperbuatnya adalah kekeliruan maupun kesalahan.

Sebelum ceramah itu diakhiri, Bu Leha dari pihak katering menjelaskan secara terus-terang bahwa daging yang telah dimakan oleh ratusan jamaah ibu-ibu pengajian beberapa waktu lalu, sama sekali tidak mengandung unsur lemak atau daging babi. Pernyataan itu disampaikan di hadapan hadirin, dan disaksikan langsung oleh pihak aparat dan tokoh agama, sehingga kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan.

***

Selang beberapa hari kemudian, ratusan ibu-ibu kembali pulih dan sehat seperti sedia kala. Sebagian telah dipulangkan dari rumah sakit, dan sebagian lagi masih mengalami proses penyembuhan.

Namun, sekitar tigabelas warga Jombang Wetan, yang kesemuanya adalah ibu-ibu pengajian telah meninggal dunia dalam waktu dua minggu. Bersamaan dengan itu, pihak aparat telah menangkap Bu Narti di kediamannya, yang tengah asyik menyaksikan acara-acara kuis di layar televisi. Mereka memiliki alasan tersendiri untuk membekuknya selaku tersangka, yang telah menghembuskan isu-isu negatif (hoaks) yang menimbulkan keresahan di hati masyarakat.

Dalam pemeriksaan oleh aparat kepolisian, akhirnya terbukti bahwa sumber utama yang menyebabkan Bu Narti menghembuskan isu tersebut adalah soal kedengkian dan irihati pada Bu Leha selaku rival dan pesaing utamanya dalam bisnis katering. ***

*) Pengasuh Pondok Pesantren “Riyadlul Fikar”, Serang, Banten. Menulis cerpen dan esai di berbagai media luring dan daring