oleh

Jodoh di Tangan Siapa?

Oleh: Ali Wafa[1]*

Sebagaimana diterangkan dalam kitab suci umat Islam, setiap sesuatu di muka bumi ini diciptakan berpasang-pasangan. Tidak hanya manusia, bahkan suatu entitas kecil pun diciptakan-Nya berpasang-pasangan, contoh kecilnya saja bunga dengan kumbang. Bulan dengan bintang. Pasangan itulah yang kemudian oleh kita disebut sebagai jodoh.

Namun apakah kita pernah menyadari bahwa terdapat kejanggalan dalam skema penentuan dan penetapan jodoh yang telah dibuat Tuhan? Bagaimana tidak, di sebagian besar diskursus serta kasus perjodohan yang terjadi, acapkali kuasa Tuhan terlihat statis dan minim kreativitas. Sebab jika kita pelajari betul dari setiap kasus perjodohan yang ada, Tuhan menetapkan sebagian besar jodoh setiap seseorang berbasis tempat dan waktu.

Bahwa setiap manusia akan mendapatkan jodohnya bergantung pada wilayah “ekspansinya”. Jika wilayah ekspansinya hanya berkutat di suatu desa tertentu, maka besar kemungkinan dia menemukan warga desa tersebut sebagai jodohnya. Jika wilayah ekspansinya hanya berkutat di suatu kabupaten, maka besar kemungkinan ia akan menemukan jodohnya di kabupaten tersebut dan begitupun seterusnya.

Termasuk jika wilayah ekspansinya di seputaran kampus dan kantor, maka besar kemungkinan kita menemukan jodoh dari salah satu mahasiswa kampus itu, atau salah satu dari karyawan kantor kita. Menurutku, kuasa Tuhan yang demikian logis dan sangat mudah dimungkinkan dengan logika telanjang.

Namun pekerjaan itu menurutku terlalu mudah untuk level Tuhan, sementara kita ketahui, Tuhan adalah maha segalanya, Tuhan tidak memiliki tabir kemustahilan antara dirinya dengan apapun selain Dia. Kenapa jarang sekali kita menemukan Tuhan menjodohkan manusia dengan jarak teritorial yang jauh. Kenapa Dia “tidak dengan mudah” menjodohkan seseorang dengan orang lain yang terhalang oleh teritorial wilayah.

Adakah di desamu ditemukan warga desamu berpasangan dengan orang asal Jerman, Prancis, Amerika atau Rusia? Kenapa yang sering terjadi malah berjodoh dengan orang dekat yang hanya berbeda desa, kecamatan, kabupaten atau provinsi? Menurutku tentu Tuhan bisa melakukannya dengan mudah tanpa merasa sulit dan terhambat.

Karena pendekatan itulah aku berkesimpulan bahwa Tuhan tidak mau dirinya dianggap sebagai Tuhan gampangan yang dengan mudahnya memberikan keajaiban. Karena itu pula aku berkesimpulan bahwa Tuhan merupakan Pribadi yang sangat menghargai usaha dan menjunjung tinggi nilai proses.

Maka jika kita ingat, saat di pesantren dulu, kita pernah belajar ilmu hadis. Salah satu kitab hadis yang populer kita pelajari saat itu yaitu kitab “Hadis Arbain An-Nawawi”. Coba kita ingat kembali hadis keempat. Tuhan telah menetapkan empat hal dalam setiap kehidupan manusia, bahkan sejak manusia berusia seratus dua puluh hari dalam kandungan Tuhan telah menetapkannya sebagai suatu titik akhir dari perjalanan hidup setiap manusia.

Empat hal itu ialah: rezeki, ajal, amal dan suka atau duka. Hanya empat hal itu yang Tuhan gariskan untuk setiap umat manusia. Empat hal itu merupakan produk hak prerogatif Tuhan atau bisa dikatakan sebagai konsensus Tuhan dengan Dirinya sendiri yang tidak dapat direvisi hanya karena usaha umat manusia-Nya. Jika dirinci kira-kira seperti berikut ini:

Rezeki, adalah produk hak prerogatif-Nya yang tidak bisa dicampuri hanya dengan usaha. Yang di maksud rezeki dalam hal ini bukan hanya tentang kuantitasnya, tetapi juga berkaitan dengan kualitas rezeki itu sendiri. Artinya, Tuhan telah menetapkan kadar dan standard rezeki setiap manusia sejak manusia berusia seratus dua puluh hari dalam kandungan. Sehingga berusaha sekeras Apapun jika kehendak Tuhan rezeki kita sekian, maka sekian lah rezeki kita.

Ajal, sama halnya dengan rezeki, produk hak prerogatif Tuhan yang satu ini merupakan konsensus Tuhan yang paling tidak bisa ditentang. Kuasanya tentang ajal manusia dan makhluk lainnya tidak bisa diintervensi menggunakan pola pendekatan apapun. Jika Tuhan telah menetapkan ajal setiap sesuatu sampai sekian, maka sekianlah ajal kita. Karena sekali lagi, ajal telah ditetapkan Tuhan sejak kita berusia seratus dua puluh hari dalam kandungan.

Kemudian Amal. Tuhan telah menetapkan setiap amal manusia. Dalam hal ini, tuhan membagi setiap amal manusia menjadi dua karakter. Pertama karakter syurga dan yang kedua karakter neraka. Setiap manusia yang beramal dengan karakter syurga atau bahasa mudahnya sering melakukan kebajikan, maka dia akan menempati surga kelak. Dan setiap manusia yang beramal dengan karakter neraka atau lebih mudahnya disebut sering melakukan kebatilan, maka ia akan ditempatkan di neraka. Setiap amal manusia tidak akan lepas dari dua hal ini, dan semuanya telah diatur oleh-Nya.

Kemudian yang terakhir yaitu suka dan duka, atau kebahagiaan dan kesengsaraan. Tuhan telah menetapkan setiap jalan hidup manusia. Apakah jalan hidupnya berakhir bahagia atau happy ending Ataukah berakhir menyedihkan atau sad ending? Semuanya telah tercantum dalam “buku saku” Tuhan, dan setiap manusia tidak bisa berbuat apa-apa dalam hal ini.

Setelah kita kupas tentang isi dari hadits keempat “Hadits Arbain An-Nawawi” di atas, apakah kalian menemukan jodoh sebagai salah satu ketetapan Tuhan? Tidak, Tuhan tidak menetapkan jodoh sebagai suatu takdir yang tidak dapat diubah dengan usaha sekalipun. Itu artinya, Tuhan memberikan keleluasan kepada setiap umat manusia untuk berkreasi dalam menentukan jodohnya. Karena dalam hal ini, Tuhan sangat menghargai usaha dan menjunjung tinggi nilai proses. Itulah sebabnya, kenapa Tuhan menyusun skema penetapan jodoh berbasis tempat dan waktu.

Hal itu secara tidak langsung menganulir anggapan kebanyakan orang bahwa jodoh adalah ketetapan Tuhan yang tak dapat diganggu gugat dan tidak bisa diupayakan untuk berubah. Bahkan sebagian orang ada yang berkeyakinan bahwa jodoh ada di tangan Tuhan dan jika memang jodoh tidak akan ke mana. Anggapan itu menurutku sedikit perlu untuk diluruskan. Mengapa? Karena persoalan jodoh tidak semenakutkan itu.

Kaitannya jodoh dengan usaha sangat erat, bahkan tidak mungkin bisa didapatkan tanpa adanya usaha. Artinya, jika kita menginginkan seseorang agar berjodoh dengan kita, maka kita perlu berusaha agar keinginan kita terwujud, setidaknya usaha yang bisa kita lakukan yaitu dengan berusaha mengenalnya. Sebaliknya, jika kita hanya ingin berjodoh dengan itu, namun kita enggan berusaha meski hanya sekedar mendekatinya, maka jangan heran jika kemudian orang yang kita sayangi itu menjadi milik orang lain. Karena jodoh dengan usaha erat sekali kaitannya.

Artinya, jika kita menyukai seseorang, maka untuk mendapatkannya perlu berusaha. Tidak cukup hanya dengan berdoa dan bermimpi sepelaminan dengannya. Karena jodoh tidak ditetapkan Tuhan sebagai suatu ketetapan yang ekstrem sebagaimana rezeki, ajal dan amal. Perlu sentuhan tangan manusia itu sendiri untuk mewujudkannya.

Itulah sebabnya, kenapa skema penentuan jodoh oleh Tuhan diatur berbasis tempat dan waktu. Agar setiap manusia berusaha sendiri dalam memilih dan menetapkan jodohnya. Hal itu juga yang menjadi alasan kenapa setiap manusia mendapatkan jodohnya tidak jauh dari wilayah ekspansinya. Bukan hal yang mustahil bagi Tuhan untuk menjodohkan orang pelosok desa yang tidak pernah keluar rumah dengan orang Prancis yang tidak pernah keluar rumah. Tapi karena Tuhan menghargai usaha dan menjunjung tinggi nilai proses maka Ia tidak melakukannya.

[1]* Penulis: Ketua Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan, Masa Khidmat: 2020-2021.

Komentar

News Feed