Jubir Korban Penipuan Enggan Tanggapi Tudingan Pengacara BRI

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ ALI WAFA) INGIN FOKUS: Korban dan jubirnya ingin fokus pada kasus penipuan yang dilakukan oleh eks mantan karyawan Bank BRI Cabang Pamekasan.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN–Mendapat tudingan telah meminta uang ke korban penipuan kasus eks karyawan BRI Pamekasan, Fahmi Andriyansyah Katili selaku juru bicara korban justru enggan menanggapinya.

“Sedikit pun saya tidak terbesit menuntut balik. Mengklarifikasi pun saya tidak. Biarkan nanti fokusnya itu hanya tetap pada pengawalan kasus ini,” ujar Fahmi.

Bacaan Lainnya

Sebab menurutnya, hal itu hanya akan membuat kasus penipuan yang menimpa 23 orang korban dengan kerugian senilai Rp8,2 miliar itu tenggelam oleh isu baru.

Kendati demikian, dia membantah soal dirinya disebut buron. Sebab, dia tidak merasa kabur dan komunikasi dengan para korban tetap lancar meski sudah tidak seintens sebelumnya.

“Kalau dibilang buronan, waktu saya pindah rumah, yang bantuin saya para korban. Kan saya tidak punya pick up,” ucap Fahmi.

Baginya respek terhadap para korban lebih diutamakan dibanding harus disibukkan dengan tudingan dari kuasa hukum BRI Pamekasan, M. Alfian tersebut . Bahkan, dia meminta kepada pihak yang menuduh untuk membuktikannya. Kalaupun terbukti benar, dirinya siap mengganti kerugian korban.

“Saya kaget juga. Secara citra pasti saya akan terganggu. Namun, bagi saya ya untuk apa juga menanggapi. Kalau saya mengkonfrontir nanti malah jadi runyam. Bisa jadi kasusnya belum selesai, fokusnya berbeda,” ulasnya.

Fahmi mengaku belum bisa mengumpulkan para korban untuk berbicara lebih lanjut. Menurutnya, para korban disibukkan dengan tagihan utang atas kasus penipuan yang ditimpa. Namun diakuinya, para korban masih memiliki respek.

Bahkan, beberapa bulan yang lalu dia mengaku masih mendampingi para korban ke Mapolres Pamekasan saat pelaku penipuan terlacak berada di Pamekasan melalui aplikasi Michat. Bahkan komunikasi dengan Unit 2 Reskrim Polres Pamekasan masih berjalan dalam menangani kasus ini.

“Jadi saya tidak mau mengklarifikasi apapun dulu. Prinsipnya, para korban ada yang minta tolong ke mas Alfian juga untuk kasus ini mudah-mudahan perjuangannya berhasil,” tukasnya.

“Saya pun tidak akan berhenti. Masih dengan cara saya, masih dengan pola saya untuk mengawal kasusnya para korban,” tutupnya.

Sementara itu, salah satu korban Sholehah mengatakan, hingga saat ini Fahmi masih berstatus sebagai juru bicara para korban, termasuk dirinya. Dirinya mengaku masih membutuhkan bantuan Fahmi menyelesaikan kasus penipuan yang merugikannya sebanyak Rp1 miliar lebih itu.

Kendati begitu, meski dirinya tidak ingat jumlahnya, namun dia mengungkapkan bahwa Fahmi sempat meminta uang kepada para korban. Namun uang tersebut sekedar untuk biaya administrasi dan biaya mengurus masalahnya dari awal.

“Kerugian saya Rp1 miliar lebih,” ucapnya.

Sebelumnya, Kuasa Hukum BRI Kantor Cabang Pamekasan M. Alfian mengungkapkan, beberapa korban penipuan eks oknum karyawan BRI Mohammad Lukman Anizar (MLA) mendatanginya meminta untuk diadvokasi agar Fahmi mengembalikan uang korban yang telah dimintanya selama proses hukum kasus itu berlangsung.

Kata Alfian, Fahmi diduga meminta uang kepada korban dengan total senilai Rp80 juta untuk mempercepat proses penangkapan MLA. Bermula dari meminta Rp50 juta kemudian Fahmi meminta kembali kepada salah satu korban senilai Rp30 juta. Namun pelaku hingga saat ini tidak kunjung ditangkap.

“Itu masih uang yang jelas. Belum lagi uang wira-wirinya yang dikit-dikit minta ke korban,” ungkap Alfian.

Alfian juga meragukan kapasitas Fahmi sebagai kuasa hukum para korban. Selain karena buramnya legalitas formal bahwa Fahmi merupakan advokat, menurutnya, korban tidak pernah secara resmi memberikan kuasa kepada Fahmi untuk mengurus dan membantu menyelesaikan kasus ini secara hukum.

Tidak hanya itu, diungkapkannya, bagi para korban, Fahmi sendiri saat ini dianggap buronan dan ditunggu-tunggu kedatangannya untuk mengembalikan seluruh uang yang dihabiskannya oleh korban selama ini. Sebab, hingga detik ini, usahanya untuk mengembalikan uang korban tidak kunjung berhasil, dan untuk menangkap pelaku juga nihil. (ali/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *