oleh

Juhari, Legislator Sumenep yang Istikamah Berdakwah

KABARMADURA.ID – Kesibukannya sebagai anggota  Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumenep tidak mengendorkan semangatnya untuk aktif pada gerakan sosial kemasyarakatan. Bahkan, saat ini ia dipercaya untuk berdakwah di tengah masyarakat.

IMAM MAHDI, SUMENEP

Namanya, Juhari yang saat ini menjabat sebagai anggota Komisi II DPRD Sumenep. Beliau dipercaya membaca kitab Tanbihul Ghafilin. Misalnya di Masjid Tanwirul Qulub di perumahan Bumi Sumekar dalam setiap setengah bulan

Diketahui, kitab Tanbihul Ghafilin merupakan kitab karya Abu Laits as-Samarqandi. Kitab tersebut merupakan kitab yang membahas seputar peringatan bagi orang-orang yang lalai, pendidikan akhlak, dan religiusitas.  Intinya berisikan renungan dan nasehat untuk  pembentukan akhlak terpuji.

Juhari melanjutkan bahwa dirinya dipercaya membaca kitab Ahli Risalah Ahlissunnah Wal Jama’ah  di Desa Grujugan Kecamatan Gapura. Kitab tersebut adalah tulisan dari Kiai Haji Hasyim Asy’ari.

“Setiap  pengajian kitab kuning, jamaah yang hadir sekitar 70 orang lebih,” katanya, Kamis (4/2/2021).

Diketahui, Kitab Risalah Ahlissunnah Wal Jamaah merupakan suatu bentuk usaha intelektual Hadratussyaikh (gelar untuk K.H. Hasyim Asy’ari) dalam mempertahankan Islam ahlussunnah wal jamaah  di Indonesia.  Pada perkembangan berikutnya, Kiai Hasyim Asy’ari mengupayakan penyatuan atau menjadi penengah perdebatan yang semakin meruncing pada tahun 1930, melalui  ceramahnya yang ditulis dengan judul  “al-Mawaidh” (wejangan-wejangan).

Legislator yang juga sebagai seorang ustad  itu menjelaskan bahwa ia diminta memberikan nasihat oleh Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS) Sukorejo rayon Sumenep mengenai keberlangsungan programnya, misalnya mengenai bidang agama, ekonomi, dan bidang lainnya. Selain itu, ia  juga dimintai masukan tentang masalah kepemudaan.

“Di  Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kabupaten Sumenep, saya sebagai pusat dakwah ngaji kitab,” ujarnya.

Pria kelahiran Sumenep, 2 Mei 1968 ini mengetahui kitab sejak modok. Ia pernah nyantri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo sejak tahun 1982 hingga 2009. Pondok yang didirikan Kiai Haji Syamsul Arifin itu merupakan salah satu pesantren terbesar di Jawa Timur.

Ia belajar di pondok dengan penuh ketekunan dan kesabaran. Selain itu, ia juga sangat hormat pada guru dan kiainya. “Saya dipercaya masyarakat mungkin karena barokah mondok dan doa kedua orang tua,” paparnya.

Ia mengajak masyarakat mengaji kitab setiap hari, karena bisa membuat hati dan pikiran menjadi tenang, serta  wawasan juga bertambah. “Belajarlah mulai dari kitab dasar, karena apabila kita ingin menguasai ilmu agama dan kitab-kitab lain, harus mendalami kitab yang lebih dasar terlebih dahulu,” pungkasnya. (imd/maf)

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed