Kacabdin Jatim Sebut PJJ Sulit Membuahkan Hasil Optimal

  • Whatsapp
(FOTO: KM/MOH RAZIN) TIDAK MAKSIMAL-Kegiatan belajar mengajar (KBM) di Kabupaten Sumenep masih tidak menemukan metode yang efektif.

KABARMADURA.ID, Sumenep – Pelaksanaan model pembelajaran di luar tatap muka melalui daring, atau dikenal dengan istilah pelajaran jarak jauh (PJJ) rupanya cukup membebani siswa. Bahkan,  kurang maksimal bagi siswa untuk menyerap materi.

Kondisi itu hampir terjadi di setiap tingkatan pendidikan. Mulai dari dari SD, SMP sederajat, dan SMA. Rata-rata PJJ  tidak bisa berlangsung sesuai dengan harapan dalam menyerap materi pelajaran. Hal ini diungkapkan, Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Jawa Timur (Jatim), Syamsul Arifin, Rabu (21/10/2020).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, ditundanya uji coba pelajaran tatap muka (PTM) menjadikan pendidikan kembali lumpuh. “Perlu dimaklumi kepada para siswa, dengan kembali PJJ maka pembelajaran kembali tidak stabil, tetapi ini sudah instruksi pusat, sehingga mau tidak mau harus dijalani, meski sedikit banyak materi tidak terserap seutuhnya,” keluhnya.

Mantan kepala sekolah di SMAN 1 Sumenep itu juga menyampaikan, mewabahnya Covid-19 yang masih berlanjut di Kota Keris ini mengakibatkan sekolah tidak bisa menentukan target kurikulum. Sehingga tidak ada beban bagi guru dan siswa untuk mencapai target tertentu.

“Ya tentunya kami tetap berharap agar sekolah bisa memaksimalkan metode pembelajaran, kami sedang diuji. Namun selebihnya tanggung jawab memang harus diupayakan lebih maksimal,” imbuhnya.

Sementara itu, Moh Hanafi salah satu wali siswa mengatakan, dengan adanya PJJ tentunya ada tambahan peran orang tua. Selain harus memaksimalkan pengawasan juga harus inten mendampinginya dan aktif mengkroscek tugas setiap hari.

Merasa terbebani dengan pola baru itu, dia sudah tidak sabar ingin kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka kembali diterapkan. Selain pelajaran  mudah dipahami, juga mengurangi tugas-tugas seperti yang sering digunakan selama ini.

“Jika bisa memilih, lebih baik masuk sekolah lagi. Anak-anak jika terus di rumah sangat sulit dikontrol, apalagi sudah lama di rumah, ketika masuk saya khawatir jadi males,” paparnya. (ara/ito)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *