oleh

Kafenya Dibakar Massa, Sang Pemilik Malah Takut Lapor Polisi

KABARMADURA.ID, Pamekasan – Aksi penolakan terhadap Kafe Bukti Bintang pada Senin (5/9/2020), menyisakan duka bagi Muhammad Saleh, pemilik Kafe Bukit Bintang. Bagaimana tidak, dirinya harus menelan kerugian mencapai Rp75 juta karena aksi pengunjuk rasa. Kafenya yang juga menjadi destinasi wisata itu hangus terbakar massa pada Senin (5/10/2020).

Saleh mengungkapkan, aksi penolakan tersebut tidak hanya diwarnai pembakaran sejumlah fasilitas, namun pihaknya juga menjadi korban penjarahan oleh massa aksi. Diketahui, sejumlah fasilitas tidak hanya dirusak tetapi juga dirampas.

Sejumlah lampu hilang tanpa diketahui siapa yang mengambilnya. Tidak hanya itu, pengeras suara, amplifier, aki juga dijarah masa. Saleh mengaku, untuk mendirikan tempat tersebut dirinya harus berutang untuk modal sebesar Rp150 juta.

Melihat kejadian tersebut, Saleh mengaku hanya bisa pasrah dan tidak berdaya untuk menempuh jalur hukum. Saleh pesimis karena dirinya hanya orang kecil yang tidak memiliki kekuatan.

Saleh menjelaskan, sebelumnya telah dua kali melakukan musyawarah dan bernegosiasi dengan para tokoh, termasuk dengan pihak yang menolak keberadaan wisata Bukit Bintang. Namun hasilnya hanya meminta dirinya untuk menutup tempat tersebut tanpa ada solusi kompensasi untuk mengganti modalnya.

“Saya tidak berdaya untuk menempuh jalur hukum, saya orang kecil. Saya pasrah saja. Saya berharap pemerintah bisa membantu atas apa yang telah saya alami,” keluhnya.

Sedangkan mengenai adanya tudinya bahwa kafenya berpotensi jadi tempat maksiat, dia membantahnya.

DIBAKAR: Api berkobar menghanguskan sejumlah fasilitas wisata di Bukit Bintang.

Sementara itu, Jurnalis Indosiar Fathor Rusi yang sempat menjadi korban amukan masa mengaku pihaknya telah bulat dan telah melaporkan tindakan kekejian oknum massa aksi ke Kepolisian Resor (Polres) Pamekasan.

Menurutnya, tindakan oknum massa aksi yang dinilainya sebagai provokator aksi telah berbuat sewenang-wenang terhadap dirinya. Bahkan dia mengaku, tindakan untuk melaporkan tindakan penganiayaan tersebut didukung oleh perusahaannya, yaitu pihak Indosiar.

Dia berharap, dengan laporannya tersebut, polisi bisa segera menangkap pelaku penganiayaan terhadap dirinya agar menjadi pelajaran bagi pelaku serta hal serupa tidak terjadi kembali kepada teman-teman jurnalis yang lain.

Namun demikian dirinya belum mengadukan tindakan tersebut ke dewan pers, pihaknya masih menunggu iktikad baik dari pelaku dan menunggu hasil upaya dari kepolisian. Jika upaya kepolisian tidak membuahkan hasil maka dirinya akan mengadukan ke dewan pers.

“Yang menyuruh saya untuk melaporkan tindakan itu ya dari pihak kantor. Mereka juga mengecam tindakan itu,” tegasnya.

Kepala Satuan Reskrim (Kasatreskrim) Polres Pamekasan AKP Adhi menuturkan, hingga saat ini belum ada laporan maupun pengaduan dari pihak pemilik Kafe Bukit Bintang. Sehingga pihaknya tidak memproses hukum atas kerugian dan penjarahan terhadap pemilik kafe.

“Belum ada laporan dan pengaduan, ya kami tidak bertindak, kami bertindak kalau ada laporan, meski merasa dirugikan ya kami tidak melakukan tindakan,” ujarnya.

Namun Adhi menegaskan, pihaknya telah menerima laporan dari Rusi terkait aksi penganiayaan oleh oknum masa aksi terhadap dirinya. Dirinya mengaku bersedia mengusut kasus penganiayaan tersebut hingga tuntas.

Bahkan, pihaknya tidak akan tebang pilih dalam melakukan tindakan hukum, bahwa segala laporan yang masuk dari warga kepada pihaknya semuanya akan ditindaklanjuti hingga menemukan hasil.

“Laporannya baru diterima tadi malam. Semua laporan, tidak pilih-pilih kita, pasti kita akan tindaklanjuti,” tegasnya. (ali/waw)

Komentar

News Feed