Kakak Tua Jambul Kuning Terancam Punah

  • Whatsapp

Kabarmadura.id/Sumenep-Burung kakak tua jambul kuning di ambang kepunahan. Pasalnya, burung yang dapat ditemui di Pulau Masakambing, Kecamatan Masalembu tersebut mulai langka. Padahal, berdasarkan penuturan masyarakat setempat, Saharudin, tahun 80-an sampai 90-an populasinya di pulau tersebut banyak, sampai ratusan ekor.

Akan tetapi, tambah Saharuddin, saat ini tinggal 24-25 ekor saja. Sebelumnya burung tersebut dianggap hama oleh masyarakat setempat karena kerap kali memakan bulir-bulir padi di pesawahan warga, bahkan saat itu burung itu diianggap tidak berharga sekali.

“Satu kawanan itu apabila sudah turun ke sawah-sawah petani, kalau satu liter bulir padi habis dalam satu kali makan,” ungkap Sabaruddin saat dihubungi, Senin (8/7)

Lebih jauh, ia menambahkan, dulunya banyak orang setempat yang memburu burung tersebut karena banyak memakan hasil tani, terkadang sengaja dilem untuk menangkapnya.

Akhir-akhir ini diketahui bahwa jenis burung tersebut hampir mengalami kepunahan, sehingga membutuhkan perlindungan serius dari pemerintah setempat. Akan tetapi, tidak ada perlakuan khusus dari Pemerintah Kabupaten Sumenep.

Saat ini, penanganan dan perlindungan burung langka tersebut ditangani langsung oleh Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur.

Burung tersebut terkenal setia kepada pasangannya. Apabila sudah pernah kawin, maka sulit untuk bisa kawin dengan selain pasangannya yang terdahulu. Sabarudin mengisahkan, suatu hari pohon Randu yang dijadikan sangkar burung tersebut roboh, sehingga burung yang bersangkar dalam pohon tersebut mati.

Uniknya, saat burung itu ditemukan mati, si induk perempuan mati dalam keadaan mendekap kedua anaknya, kedua anaknya yang masih kecil juga mati. Selain itu, burung tersebut usia hidupnya juga terbilang panjang, 80-100 tahun.

Terbukti, suatu ketika ada seorang yang memelihara burung tersebut di Kecamatan Masalembu, kisah Sabarudin, akhir cerita, burung tersebut sampai diwariskan kepada cucunya. Tersebut akhirnya mati karena jatuh ke dalam sumur.

Burung berjambul kuning tersebut bertelur sebanyak dua sampai tiga telur pertahun, kisaran bulan Agustus sampai September, dan bersarang dalam batang pohon randu yang dilubangi. (mad/pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *