oleh

Kalah Saing dengan Swasta, Jumlah Siswa SD Negeri Terus Merosot

Kabarmadura.id/SAMPANG-Pendaftar sekolah dasar negeri dan sekolah dasar swasta (SDN/SDS) di Sampang tahun di Sampang menurun.  Tahun ajaran baru 2020 ini, sekolah di naungan Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang tersebut hanya mendapat 11.404 siswa.

Namun pihak Disdik Sampang mengklaim, hal itu bukan karena adanya wabah Covid-19, melainkan karena kurangnya penduduk yang hendak bersekolah.

Kepala Seksi (Kasi) Pembinaan SD Disdik Sampang Rahman menuturkan, setiap tahun selelu ada penurunan pendaftar SDN dan SDS, sehingga dipastikan bukan karena adanya wabah Covid-19. Dengan berkurangnya jumlah penduduk, menurutnya, juga membuat jumlah siswa yang masuk sekolah jadi berkurang.

Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) jumlah total siswa SD di Sampang tahun ajaran 2019/2020 adalah 70.271 siswa, sedangkan pada tahun ajaran 2020/2021 ini jumlahnya sebanyak 65.287 siswa.

“Sekarang pendaftar SDN dan SDS tercatat 11.404 dari SDN dan SDS, jumlah ini berkurang dari tahun sebelumnya, adapun untuk jumlah pendaftar sebelum saya lupa,” ungkapnya, Senin (24/8/2020).

Tidak hanya siswa, jumlah SDN dan SDS di Sampang juga berkurang. Dituturkan, saat ini ada 618, namun dari jumlah tersebut, yang diatur oleh perbup hanya ada 25 sekolah, dan ini menjadi sekolah favorit. Sedangkan sekolah yang lain, mengikuti mekanisme kebijakan koordinator bidang masing-masing.

“Jumlah sekolah 618, untuk SDN 528, yang SDS 90, dari jumlah ini ada beberapa sekolah yang tidak memenuhi target minimal rombongan belajar (rombel), ada sebagian sekolah yang melebihi, dan pagunya per kelas itu ada 28 siswa,” imbuhnya.

Sedangkan sekolah yang harus di-regrouping lantaran tidak memenuhi rombel, jika siswanya hanya 60 orang selama 3 tahun berturut-turut. Kendati demikian, sekolah dengan kondisi tersebut tidak langsungs serta-merta di-regrouping, ada pertimbangan lain.

Pertimbangan yang dimaksud adalah jarak antarsekolah. Jika sekolah yang harus di-regrouping tersebut jauh dengan sekolah lain yang sama, maka tidak bisa di-regrouping. Sebab, jika disatukan, siswa dikhawatirkan tidak akan sekolah, karena jauh.

“Ada di Kedungdung yang siswanya sangat sedikit, karena diapit oleh sekolah MI (Madrasah Ibtidaiyah) dan sekolah yang lain, tapi dari beberapa kajian, sekolah itu tidak bisa dilakukan regroping, karena memang hanya ada satu sekolah itu di satu desa,” tuturnya.

Terpisah, Anggota Dewan Pendidikan (DP) Sampang Zainuddin menilai, jika Disdik sudah tahu peminat SDS dan SDN menurun, seharusnya segera dipikirkan solusinya. Yakni membuat  SDS dan SDN tersebut memiliki daya tarik kembali, sehingga dengan sendirinya akan mendaftar.

Sebab, ujar Zainuddin, SDN adalah sekolah yang dibiayai oleh pemerintah, sehingga harus lebih menonjolkan program unggulan.

“Sampai kapan pun, kalau polanya tetap menoton begitu saja, tetap mengalami penurunan dan pola ini terkesan asal ada siswanya. Untuk menarik minat masyarakat, harus ada program yang menonjol.” cetusnya.

Selain itu, Disdik diminta selektif dan tidak memberi kemudahan beridirinya sekolah baru.

“Disdik jangan terlalu mudah untuk memberikan izin membuka sekolahan baru, sebab itu juga menjadi faktor sekolah tidak memenuhi rombel. Hanya saja, yang ada itu dimaksimalkan,” pungkasnya. (mal/waw)

Komentar

News Feed