oleh

Kampung Batik Hanya Tuntas di Konsep Seremonial

Kabarmadura.id/SAMPANG-Keberadaan kampung batik yang sempat dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindagprin), semakin redup.

Demikian disampaikan anggota Komisi II DPRD Sampang, Syamsuddin. Kata dia, upaya pembentukan kampung batik yang sempat digadang-gadang oleh pemkab, tidak berjalan secara berkelanjutan.

Buktinya, kata dia, kampung yang diyakini bisa memperkuat perekonomian perajin batik, hanya selesai pada konsep seremonial semata. Padahal, eksistensi kampung batik bisa digarap sebagai desa wisata dan desa edukasi.

“Eksistensi kampung batik tidak menujukan geliat kemajuan, bahkan belum terbukti menjadi solusi perekonomian bagi masyarakat (perajin batik). Di wilayah Jawa, kampung dengan sentra batik justru digarap sebagai desa wisata,” katanya.

Selama ini, sambung Syamsuddin, pemerintah nyaris tidak memfasilitasi perajin batik dalam hal pemasaran. Akibatnya, batik khas Sampang tidak bisa menembus pasar di luar daerah karena tidak didukung dengan konsep pemasaran yang kekinian.

“Padahal jika digarap secara serius, tentu tidak akan mengecewakan, karena kualitas batik khas Sampang juga tidak kalah dengan batik daerah lain,” timpalnya.

Untuk itu, DPRD secara kelembagaan menyarankan agar pemerintah daerah memberikan terobosan-terobosan baru dalam hal pemasaran. Termasuk butuh pembaharuan alat produksi batik.

“Kondisi kampung batik yang tidak bergeliat ini, harus segera di siasati oleh pemerintah daerah melalui pembaharuan. Sehingga keberadaan kampung batik bisa benar-benar menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat di pedesaan,” tuturnya.

Kader Partai Hanura itu menambahkan, batik merupakan warisan leluhur yang sudah diakui sebagai salah satu situs warisan dunia versi UNESCO. Sehingga kampung batik sudah sepantasnya dijadikan sebagai pusat proses pembuatan sekaligus sebagai tempat belanja, tetapi juga menjadi tempat wisata.

“Melalui pemolesan kampung batik, kami sangat yakin aktivitas masyarakat menjadi bergeliat, tentunya harus di imbang dengan promosi oleh pemerintah daerah,” harapnya.

Dari catatan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindagprin) Kabupaten Sampang, kampung batik, setidaknya telah tersebar di sembilan titik, yakni di Desa Sejati dan Prajjan, Kecamatan Camplong. Kampung batik juga berada di Desa Montor dan Jatra Timur Kecamatan Banyuates, Desa Kotah Kecamatan Jrengik, serta Desa Paopale Dejeh Kecamatan Ketapang.

Selain di wilayah tersebut, kampung batik juga tercatat di Kecamatan Sampang, yakni di Jalan Glatik, Jalan Rajawali dan Pulau Mandangin. (sam/waw) 

Komentar

News Feed