oleh

Karang Penang Kehilangan Branding Genteng Khasnya

KABARMADURA.ID, SAMPANG-Branding produk genteng khasasal Kecamatan Karang Penang, Sampang, ternyata diambil Kabupaten Lumajang. Pengrajin genteng dari Karang Penang hanya sebagai produsen lantaran tidak mampu penuhi syarat mendaftarkan merek. Selain itu, tidak mengurus dokumen standar nasional Indonesia (SNI)

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Sampang, Suhartini Kiptiati melalui sekretarisnya, Barrul Alim, menuturkan bahwa bahan baku atau tanah yang dibuat genteng Karang Penang memiliki kualitas sangat bagus. Jika dipersentasikan, berada diposisi tengah ke atas.

Sebab, tanah liat di Karang Penang sangat bagus, bahkan nomor satu se Indonesia dan sudah diuji di laboratorium besar keramik di Bandung. Namun, meski kualitas bagus tidak terkelola secara maksimal.

Sayangnya, kurang ada pembinaan kepada para produsen genteng itu. Yang dilakukan sebelumnya sekedar memberi bantuan gilingan tanah. Setelah, proses pembuatannya memakai gilingan, gentengnya tidak mudah pecah dan tidak cepat rusak.

“Sekarang tidak ada pembinaan kepada semua unit usaha genteng. Tapi sebelumnya, kami sudah ada pembinaan, dan memberi bantuan. Yang awalnya tanah itu diinjak, sekarang sudah pakai gilingan, dan itu kualitasnya lebih bagus,” katanya. Senin (24/2/2021).

Berstatus genteng berkualitas, menjadiprimadona konsumen, bahkan sering kekurangan stok produksi. Sejauh ini, pemasarannya sampai ke Kalimantan, Bali, Banyuwangi dan sekitarnya.

Terdapat 1.100 unit usaha genteng di Karang Penang, masing-masing unit mempekerjakan empat orang. Bahkan jika saat kemarau, sampai mendatangkan pekerja dari luar Sampang.

“Pengelolaannya kurang maksimal, karena SDM, jadi kalau kemarau pekerjanya dari Jawa. Jadi, tinggal bagaimana kita memanfaatkan sumber daya yang ada,” imbuhnya.

Sayangnya, merek genteng Karang Penang itu dimiliki perusahaan asal Lumajang. Selama ini, genteng dibeli orang luar Sampang dan mereknya dibranding dengan nama perusahaan yang memesan. Sehingga, nama genteng Karang Penang menjadi tidak ada.

Katanya, untuk membranding sendiri butuh promosi besar-besaran, dan harus ada mengurus standart nasional Indonesia (SNI). Jadi, sementara ini tetap dibiarkan.

“Dulu dari Lumajang itu studi banding ke Sampang, dan lihat genteng itu kualitasnya bagus. Jadi sampai sekarang produksi di Sampang, tapi atas nama perusahaan orang Lumajang. Dan masyarakat itu hanya menginginkan gentengnya laku,” pungkasnya. (mal/waw)

Komentar

News Feed