KM.ID | PAMEKASAN — Berkat mengikuti pelatihan wirausaha baru (WUB), warga Desa Rek-Kerrek, Kecamatan Palengaan, Imam Syafi’i (28), yang dulunya tukang tambal ban, kini menjadi perajin songkok batik yang tembus pasar luar negeri.
“Bengkel saya dulu berdekatan dengan tukang jahit, kemudian karena iseng saya juga ikut belajar menjahit namun masih belum terlalu mahir,” ungkapnya kepada KM.ID, Senin (25/7/2022).
Imam mengaku sangat terbantu dengan adanya program Wirausaha Baru (WUB). Sebab, dia bisa banyak belajar dari salah satu pelatihan, yakni pembuatan songkok yang berlangsung selama 15 hari.
“Awalnya bukan saya yang diutus. Saya hanya mengganti delegasi yang pulang karena ada acara,” imbuhnya.
Meskipun terlambat ikut pelatihan, Imam bercerita, mampu belajar cepat untuk menyamai kemampuan peserta lain yang sudah ikut dari awal.
Alumnus IAIN Madura itu menjelaskan, saat ini sudah bisa menghasilkan 20 songkok batik per hari dengan kualitas bahan yang berbeda-beda.
“Alhamdulillah, sekarang dalam sehari sudah mampu membuat 20 songkok batik,” paparnya.
Disebutkan, harga songkok batik yang dihasilkan dibanderol dengan harga yang variatif sesuai dengan bahan yang digunakan.
“Songkok kelas A itu seharga Rp40 ribu, untuk kelas B itu seharga Rp35 ribu kemudian kelas C seharga Rp30 ribu,” jelasnya.
Sementara, untuk peminat produknya mayoritas dari instansi pemerintahan dan warga setempat yang sedang merantau ke luar Madura. Bahkan, ada pemesan yang dari luar negeri, seperti Malaysia.
“Pesanan sudah cukup lumayan banyak. Sehingga, saya perlu merekrut tenaga tambahan untuk memproduksi,” tukasnya.
Reporter: KM1
Redaktur: Sule Sulaiman