oleh

Karir Satria Tama Berawal dari Bulu Tangkis

Berawal dari Bulu Tangkis

Kabarmadura.id -Terkadang impian tidak selaras dengan kenyataan. Bahkan yang sudah ditekuni sejak kecil, dapat berubah seketika. Hal itu sempat rejadi kepada Kiper Madura United Satria Tama Hardianto.

Penjaga gawang yang lahir di Sidoarjo tersebut, tidak mengawali karir sebagai pemain sepakbola, namun memimpikan menjadi atlet bulu tangkis.

Bahkan, pesepakbola berusia 22 tahun ini sudah mengikuti sekolah bulu tangkis sejak duduk di sekolah dasar (SD). Dia selalu membagi waktu belajar di sekolah umum dan mengasah kemampuan bulu tangkis sejak kecil.

Kualitasnya dalam bidang bulu tangkis sempat ditunjukkan. Dia pernah juara bulu tingkis di tingkat sekolah dasar pada masanya itu.

Di samping itu, sejak duduk di bangku SD, mantan penjaga gawang Persegres Gresik Unitet tersebut sering mengikuti seleksi PB Djarum. Sayang, atlet dengan tinggi badan belum beruntung.

“Saya sebenarnya awalnya bukan pemain sepak bola, tapi bulu tangkis. Dulu, saya sangat suka main buli tangkis. Saya juga sekolah bulu tangkis dan ikut-ikut seleksi PB Djarum. Kalau prestasi hanya juara tingkat SD saja,” cerita Satria.

Meskipun menekuni bidang olahraga lain via sekolah bulu tangkis, sepulang berlatih, Satria masih menyempatkan waktu untuk bermain sepak bola bersama teman kampungnya. Satria juga sejak dulu memutuskan untuk menjadi kiper.

Kendati demikian, ayah Satria, Bambang Hardiyanto (alm) berunding dengannya untuk memutuskan akan berkarir di sepakbola atau bulu tangkis.

Kata kiper bernomor punggung 88 di Madura United itu, kondisi tersebut membuatnya galau. Dia mempertimbangkan antara sepakbola atau bulu tangkis sebagai masa depannya.

Sejatinya, Satria juga tertarik dengan sepakbola dan almarhum ayahnya merupakan pemain sepak bola yang berposisi sebagai kiper. Sebab itu, dia memutuskan untuk meninggalkan bulu tangkis yang sempat jadi impiannya.

“Saya sempat galau saat almarhum ayah saya bertanya, bulu tangkis atau sepakbola. Soalnya di sisi lain saya juga suka sepak bola dan ayah saya kiper, jadi saya putuskan sepakbola dan meninggalkan sekolah bulu tangkis itu,” lanjutnya.

Mulai dari itu, Satria terus berlatih bersama ayahnya untuk mengejar ketertinggalan terhadap teman-temannya yang sudah dari dulu menekuni sepakbola.

“Sejak SMP kelas satu saya mulai fokus sepakbola dan belajar dengan almarhum ayah saya,” pungkasnya. (idy/waw)

Komentar

News Feed