Kasus Buis Beton, Polres Sumenep Lepas Tangan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) BERMASALAH: Kasus pengerjaan buis beton di Desa Banjar Barat dan Banjar Timur Kecamatan Gapura Sumenep terhenti di tengah jalan.

KABARMADURA.ID, SUMENEP – Penanganan kasus pembangunan buis beton jalan di tempat. Kasus pengerjaan yang sempat bermasalah itu, saat ini sudah hilang tanpa jejak. Bahkan, Polres Sumenep selaku pihak yang menangani kasus tersebut terlihat lepas tangan dan berdalih tidak ada laporan mengenai kasus tersebut.

Kasat Reskrim Polres Sumenep AKP Dhany Rahadian Basuki mengatakan, kasus pembangunan buis beton tidak terdaftar di Polres Sumenep. Sehingga, tidak ada kasus mengenai itu.

Bacaan Lainnya

“Saat ini tidak ada laporan kok,” katanya, Selasa (12/01/2021)

Dia berjanji, laporan apapun akan segera diproses, mengenai benar tidaknya tergantung kelengkapan bukti-bukti yang ada.

“Intinya, tidak ada kasus pembangunan buis beton yang terdaftar di Polres Sumenep,” ucapnya.

Humas PT Garam (Persero) Miftah mengatakan, pengerjaan buis beton sempat bermasalah. Bahkan, sudah dilaporkan pada pihak kepolisian oleh salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Menurutnya, pengerjaan sudah tinggal 1 persen lebih, dan saat ini masih dalam tahap pengerjaan. Tetapi,  masih dilaporkan ke pihak kepolisian.

“Proyek buis beton itu masih ditangani pihak kepolisian,” tuturnya.

Menurutnya, pihak Polres Sumenep masih memproses masalah tersebut, sambil lalu mengerjakan sisa pengerjaannya. “Lambatnya pengerjaan menjadi atensi dan saat ini sedang diproses,” ucapnya.

Dia mengatakan, proyek itu dari segi perencanaan sudah matang. Tetapi, karena kendala sering hujan dan cuaca tidak menentu pengerjaan terbengkalai.

“Pada waktu memasang buis beton terus hujan. Sehingga, ketika dipasang tidak bisa. Hingga dihentikan dan dilanjutkan lagi,” ucapnya.

Menurutnya, saat ini masih belum ada tindak lanjut mengenai pelaporan tersebut. Sehingga masih menunggu keputusan dari pihak kepolisian, apakah laporannya diterima atau tidak “Intinya, masih menunggu sambil lalu dengan adanya bukti-bukti yang kuat,” ujarnya.

Sementara itu, General Manager (GM) Pengembangan PT Garam (Persero) Indra Kurniawan mengatakan, perencanaan pengerjaan dibuat pada tahun 2012. dan hingga saat ini belum selesai. Pengerjaan awalnya dilakukan oleh PT Said dan pada waktu itu sempat bermasalah. Sehingga, sempat diputus kontrak.

 

“PT Mura Said sudah diputus kontrak. Pihak rekanan tidak dapat menyelesaikan pengerjaan. Saat ini sedang diproses hukum,” tegasnya.

Menurutnya, awalnya dikerjakan oleh PT Mura Said bermasalah. Setelah itu dilanjutkan dikerjakan oleh PT Pundi di pertengahan 2019, hingga saat ini belum selesai. Bahkan, sudah masuk pada denda. Sebab, masa kontraknya hingga 28 Oktober 2020.

“Pengerjaan saat ini tinggal kurang 1 persen itu pun tinggal perataan tanah yang belum selesai dan saat ini akan diselesaikan oleh PT Pundi,” paparnya.

Indra mengatakan, pengerjaan menghabiskan Rp17,1 miliar dan kontraknya berakhir pada 28 Oktober 2020 dan November sudah memasuki masa sanksi.

“Pada 29 Oktober 2020 hingga saat ini mereka memanfaatkan masa sanksi, dan mandeknya pengerjaan dikarenakan lahannya masih basah,” pungkasnya (imd/mam)

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *