oleh

Kasus Kambing Etawa Diduga Libatkan eks-Karyawan Bank Mega

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Kasus dugaan korupsi kambing etawa yang bergulir sejak tahun 2017, hingga kini belum menemukan titik terang. Pasalnya, Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangkalan belum bisa mengungkap siapa dalang di balik kasus ini.

Kini, kasus tersebut kembali mencuat kembali setelah pedagang yang menjadi tengkulak kambing etawa bernama Hadi melaporkan mantan karyawan Bank Mega berinisial R. Yang bersangkutan diduga menggelapkan uang hasil penjualan dari kambing tersebut dengan dalih diserahkan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan.

“Awalnya Robi ini mengaku sebagai suruhan bupati Bangkalan untuk mengawasi transaksi kambing tersebut. Kemudian dirinya meminta uang ke tiap camat di Bangkalan untuk hasil pembelian kambing tersebut,” papar Hadi melalui kuasa hukumnya, Risang Bima Wijaya, Minggu (19/5).

Hadi selaku tengkulak kambing etawa tersebut, merasa mengalami kerugian sebesar Rp1,6 milliar.

Masih menurut Risang, pelapor  sebelumnya juga dimintai uang oleh terlapor sebesar Rp114 juta. Uang itu, dengan dalih sebagai pembayaran jual beli kambing etawa. Namun menurut Risang, uang itu tidak dibayarkan, tetapi digunakan sebagai kepentingan pribadi. Saat kejadian tersebut, R masih berstatus sebagai karyawan Bank Mega.

Karena pelapor tidak tahu tentang Bangkalan, akhirnya percaya saja dan memberikan uang tersebut kepada R. Saat itu, R menjanjikan bahwa uang dari hasil jual beli kambing tersebut sudah diminta bupati Bangkalan dan Hadi disuruh mengambil uangnya di Pendopo Bangkalan.

Saat Hadi ingin mengambil uang dari hasil penjualan kambing etawa kepada bupati Bangkalan, bupati mengaku tidak pernah menyuruh atau memberi perintah orang untuk mengambil uang dari hasil pembayaran kambing.

“R ini juga membuka rekening atas nama Hadi. Sehingga dirinya meminta uang pembelian kambing di tiap kecamatan agar pihak camat juga percaya. Sehingga saat itu ada yang ditransfer, ada juga yang dibayar tunai oleh camat. Namun uangnya ini tidak sampai kepada yang pedagang kambing, ke Hadi,” ungkap lelaki berambut  gondrong ini.

Mantan wartawan yang sekaligus sebagai kuasa hukum pelapor ini menambahkan, terdapat tiga pihak aparat kecamatan yang telah dimintai uang secara tunai untuk jual beli kambing ini. Antara lain, Kecamatan Kamal dengan total uang Rp237.5 juta, Kecamatan Socah sebesar Rp261.2 juta dan yang terakhir Kecamatan Galis sebesar Rp498.7 juta.

“Pembayaran yang diminta R di Kecamatan Tanah Merah dengan total Rp546.2 juta yang ditransfer melalui nomor rekening Hadi yang dipegang R. Jika tidak ketahuan, bisa 18 kecamatan R ini mengambil uang pembayaran kambing,” imbuhnya.

Awalnya, program kambing etawa ini, Hadi diminta oleh pemkab Bangkalan mengirim kambing etawa yakni dengan rincian empat ekor kambing betina dan 1 ekor kambing jantan. Pengiriman ini dilakukan pada Mei than 2017 silam di 273 desa dari 18 kecamatan di Bangkalan.

Mengenai harga masing-masing kambing, telah ditentukan oleh Pemkab Bangkalan, dengan rincian Rp13.759.000 untuk empat kambing betina dan Rp10.000.000 untuk satu kambing jantan. Sehingga total Rp23.750.000 per-desa. Namun hingga saat ini program kambing etawa tersebut ditengarai dengan adanya dugaan penyelewengan dana oleh pihak-pihak tertentu.

SEPI: Rumah terlapor, R, mantan karyawan Bank Mega.

Saat pihak Kabar Madura ingin mengkonfirmasi ke kediaman terlapor R di Jalan Muria Bangkalan. Namun hanya ditemui istrinya. Dikatakan, R tidak sedang di rumahnya.

“Bapaknya sedang tidak ada di rumah sekarang, mungkin bisa besok saja,” pungkasnya. (ina/waw)

Komentar

News Feed