oleh

Kasus Langka, Sidang Penggunaan Trawl Dikawal Nelayan Bangkalan

KABARMADURA.ID, BANGKALAN – Kasus nelayan luar Bangkalan yang menggunakan jaring trawl telah masuk tahap persidangan. Kamis (19/11/2020).

Ada yang berbeda dalam persidangan kasus trawl ini, Kantor Pengadilan Negeri (PN) Bangkalan dijaga ketat oleh pihak kepolisian. Sebab, puluhan nelayan dari Bangkalan mengawal sidang tersebut.

Majelis Hakim PN Maskur Hidayat menyampaikan, kasus dalam persidangan tersebut merupakan kasus langka. Sebab, biasanya kasus seperti ini tidak sampai ke tahap persidangan. Bahkan merupakan kasus pertama yang masuk ke PN Bangkalan. Sehingga, alur persidangan dilakukan lebih cepat dari kasus biasanya.

”Kasus ini lebih bersifat khusus, sehingga sidang lebih cepat, hari ini agendanya pemeriksaan saksi dan pembuktian, minggu depan sudah tuntutan,” tuturnya.

Dalam persidangan itu, Maskur mengatakan,  dinyatakan oleh ahli bahwa sudah diberikan sosialisasi kepada nelayan kecil agar tidak menggunakan trawl. Namun, nelayan luar Bangkalan tidak jera menggunakan trawl.

“Kasus bisa menjadikan perhatian dan pembelajaran bagi semuanya, agar kedepannya pihak pemerintah Kabupaten Bangkalan juga bisa membuatkan peraturan daerah (perda) untuk melindungi nelayan kecil,” jelasnya.

Terkait tersangka yang tidak diserahkan kepada pihak keamanan. Maskur mengungkapkan, agar diserahkan kembali. Diketahui ada 5 nelayan asal luar Madura  yang menggunakan jaring trawl. Tetapi, hanya 1 tersangka yang diserahkan kepada PN dan di sidangkan.

“Memang pemilik kapal atau ABK-nya bertanggung jawab atas kejadiannya, tapi di zona kami, kami menggunakan pasal 85 yang tidak ada pidana dalam pengampuan. Jadi harus diproses secara hukum meskipun hanya sebagian dari nelayan kecil,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Pengawas Nelayan Arosbaya Bilal Kurniawan mengungkapkan, terkait masalah barang bukti, ada alat tangkap nelayan asli Bangkalan yang mengalami kerugian. Dimana hal itu bisa menjadikan obat pengganti rugi bagi yang alat tangkapnya rusak dan bisa memberikan efek jera nelayan yang masih menggunakan trawl.

“Kalau kerugian 1 nelayan memiliki 300 bubuh, 1 bubuh biasanya Rp20 ribu. Tinggal mengalikan saja kerusakannya. Sementara kami ada 150 nelayan di Arosbaya yang setiap harinya ada yang hilang,” ungkapnya.

Sementara itu, puluhan nelayan yang datang ke pengadilan sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian antar nelayan serta  untuk menjaga wilayah perairan Bangkalan.

Bahkan,  Bilal menegaskan, jika mereka akan terus mengawal kasus tersebut sampai tuntas.

“Ini sebagai bentuk rasa keadilan kami sebagai nelayan Bangkalan agar kasus ini bisa diselesaikan secara adil,” tandasnya. (ina/mam)

Komentar

News Feed