oleh

Kasus Tebu, Hakim Hadirkan Tim Teknis

Kabarmadura.id-Sidang pemanggilan saksi dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi bantuan tebu menghadirkan A.H (inisial) selaku ketua tim teknis. Pemanggilan tersebut guna mengorek fakta persidangan dalam realisasi bantuan pada tahun 2014 tersebut.

“Ketua tim teknis ini dulu berperan untuk melakukan verifikasi usulan pengajuan dari poktan Mawar dan Damar Wulan,” kata Jaksa Penuntut Umum Kejari Sampang, Munarwi.

Tidak hanya memverifikasi, A.H juga berperan mencairkan dana bantuan yang telah merugikan negara sebesar Rp19 miliar. Dari pengakuan A.H dapat disimpulkan adanya realisasi kucuran dana tersebut kepada tersangka.

“A.H ini dipanggil yang kedua kalinya, sehingga untuk sidang saat ini total saksi yang hadir ada lima orang, yakni Gada Rahmatullah, Abdul Aziz, Edi Junaidi, dan  Aliansyah yang kini keempatnya menjadi proses tahanan. Kini, kita panggil A.H,” tambahnya.

Akankah ada tersangka baru dalam kasus tersebut, Munarwi belum bisa menjawab secara gamblang. Pasalnya, proses tersebut dipegang oleh Kepolisian Resor (Polres) Sampang. Pihaknya hanya mengikuti alur dan fakta persidangan dalam proses hukum yang berlangsung.

“Kita lihat saja hasilnya dari Polres Sampang, karena pihak sana yang melakukan penyelidikan dan penyidikan,” tukasnya.

Pemanggilan itu karena dua poktan tersebut berada di naungan para terdakwa, sehingga nantinya dapat mengetahui alur rekayasa penyelewengan yang dilakukan oleh kedua poktan tersebut.

“Gada Rahmatullah dan Edi Junaidi di Koperasi Usaha Makmur, sedangkan Abdul Aziz dan Aliansyah di Koperasi Serba Usaha. Kedua poktan itu berada di naungannya,” imbuhnya.

Perlu diketahui, Poktan Mawar menerima bansos Rp2.355.815.000. Sayang oleh ketua poktan hanya ditarik dana sebesar Rp651.000.000 dari rekening poktan dan digunakan oleh petani tebu. Akan tetapi, dana yang ditarik tersebut peruntukannya nihil.

Untuk poktan Mawar ini berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi Jawa Timur Nomor SR.833/PW13/5/2017. hasil penghitungan kerugian negara sebesar Rp888.275.000. Rinciannya, Rp 2.355.815.000 yang masuk ke rekening poktan, ditarik Rp 651.000.000. Sisanya sebesar Rp 1.704.815.000.

Kemudian, dana yang ditarik dari rekening Poktan Mawar dan telah disetor ke kas negara Rp1.467.540.000. Sisanya Rp 237.275.000 dan ditarik atau disita oleh Penyidik Polres Sampang. Dengan begitu, jumlah kerugian negara sebesar Rp 651.000.000 ditambah Rp237.275.000. Totalnya Rp888.275.000.

Sementara Poktan Damar Wulan dana menerima bansos Rp2.400.475.000. Kemudian, ditarik untuk pengembangan tebu KBD sebesar Rp1.457.700.000. Sisanya, tidak dicairkan dan dibiarkan di rekening. Kasusnya sama, yaitu Poktan Damar Wulan dalam pelaksanannya tidak sesuai dengan petunjuk teknis yang sudah disepakati dalam surat perjanjian kerja sama. Misalnya, luas lahan yang mestinya 43 hektare hanya terealisasi di 16,342 hektare. (awe/nam)

Komentar

News Feed