oleh

Kaum Literat dalam Jerat Oligarch

Oleh: Holikin, S.Pd.I

Berapa banyak penulis-penulis dunia berakhir dalam jeruji besi? Omar Mokhtar (singa padang pasir) di Libia nyawanya berakhir di tiang gantungan. Sayyid Qutb diganjar hukuman gantung oleh rezim Inggris. Atau jauh sebelumnya, Imam Hanafi, Imam Ahmad bin Hambal, bahkan Imam Malik dan Imam Syafi’i, menurut sebagian manaqib yang mengisahkan dua ulama kesohor itu, keduanya hampir-hampir berujung di tiang pancung. Sekali lagi, berapa banyak penulis-penulis hebat yang berakhir di penjara di dunia ini?

Di negeri tercinta ini, berapa banyak para penulis yang karena tulisannya mendekam di balik jeruji besi? Sebutlah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang kita kenal dengan sebutan Hamka. Beliau pernah hidup pengap di ruang penjara dalam masa penjajahan Belanda. Lantarannya, tuduhan keji menyerang dirinya. Kemudian hukum memaksa menjerat beliau. Beliau disangka melakukan plagiasi atas karya luar negeri dalam satu buku novel roman kesohor beliau yang bertajuk “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”. Salah satu tokoh penting ormas Muhammadiyah ini dikurung selama beberapa tahun. Namun, dalam rentang waktu yang cukup panjang hidup dalam bui tersebut, Hamka menghasilkan buah karya dalam bidang tafsir Al-Qur’an, ialah Tafsir Al-Azhar.

Hal yang sama juga pernah dialami oleh tokoh sentral jamaah Nahdlatul Ulama, yaitu Hadratu al-Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau pernah mendekam dalam penjara Belanda. Perlawanannya terhadap penjajahan Belanda yang beliau tuang dalam maklumat-maklumatnya, menjadi satu alasan buat pemerintahan Belanda menjerat beliau.

Tulisan, karena tulisan, banyak para penulis-penulis hebat terdahulu mendekam dalam sempitnya hotel prodeo. Keadaan demikian itu, rasa-rasanya masih berlangsung hingga kini. Entah di tepian dunia sebelah mana, penjara-penjara masih juga dipenuhi mereka para penulis. Sebutlah Syekh Ahmad Yassin, beliau pernah mendekam di penjara Guantanamo, sebelum beliau wafat karena ledakan bom yang diluncurkan tentara Israel. Ada lagi, Hasan Al-Banna di Mesir, yang hingga kini kematiannya akibat peluru panas yang bersarang dalam tubuhnya masih menyisakan misteri.

Bahkan, baru-baru ini di negeri ini. Tulisan di media sosial tidak sedikit menjadi gara-gara yang berujung di sel tahanan. Pena-pena kritis apapun bentuknya, banyak menjadi gegara sang punya berakhir di rutan (rumah tahanan). Kepenulisan amat banyak menjadi senjata yang memakan tuannya. Tak jarang terkadang penguasa oligarki membredel tersebarnya sebuah buku agar gagal terbit dan tidak meluas di pasaran.

Karya tulis menjadi senjata yang paling tajam. Tengoklah sejarah masa lampau, perubahan dunia benar-benar berada di ujung pena. Sebutlah, masa keemasan ilmu di Andalusia (Sepanyol). Masa itu dimulai dari ditemukannya pembuatan kertas dan dunia literasi. Bidang-bidang keilmuan lahir pertama kalinya di sana, di masa itu.

Jauh sebelum itu, abad kegelapan Romawi kuno, satu bukti betapa karya tulis menjadi hantu yang menakutkan. Tatkala Bible menyatakan bahwa matahari yang mengelilingi bumi (heliosentris), namun ilmuwan Galelio Galeli menulis hal yang sebaliknya. Menurutnya, bumilah yang mengelilingi matahari, yang kemudian dikenal dengan teori geosentris. Tidak mau repot dengan sosok ilmuwan yang satu itu, tangan-tangan gereja yang berkolaborasi dengan penguasa melakukan intimidasi, dan nayawa Galilio berakhir di balik penjara.

Beberapa tahun yang lalu, dunia kepenulisan kembali menemukan tajinya. Dibuktikan dengan gelombang besar unjuk rasa yang mematahkan tongkat-tongkat kekuasaan oligarki negara-negara Timur Tengah. Dimulai dari berjubelnya tulisan-tulisan kritis di media sosial, perubahan besar tersebut benar-benar menjadi nyata. Perubuhan diawali dari sepetak lacar kaca mini yang dikenal dengan revolusi melati, mampu merubah tatanan dunia Arab. Keadaan demikian itu disebut sebagai Arab springs. Sadar atau tidak, kepenulisan menumbuhkan keberanian (syaja’ah).

Penulis dan pemberani dua karakter yang melekat menjadi satu. Meracik guratan kata membutuhkan nyali yang tidak bisa dibilang tanggung. Sebab, tulisan lahir dari jiwa yang apa adanya. Lahir dari hati yang jujur. Terurai dari pikiran-pikiran yang terlepas dari semua tekanan dan intimidasi. Apa yang diresahkan dari dalam lubuk hati, ialah yang keluar dan termuntahkan. Untuknya, tatkala Ibnu Taimiyah menulis beberapa kitabnya, beliau lupa makan dan tidur. Bahkan, salah seorang ulama penulis (mushannif) makan disuapi sambil menulis, dan beliau tidak merasa bahwa dirinya sedang disuapi. Nyaris, menuangkan gagasan ke dalam tulisan, bak candu yang memabukkan kaum literat. Mereka telah membunuh rasa takutnya.

Telah menjadi kewajiban moral bagi para penulis, menulis apa yang sebenarnya terjadi. Sebab, menulis adalah dunia jujur. Mereka mesti menulis sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, apapun resikonya. Menuangkan kebenaran, walau terkadang terasa menyakitkan (qul al-haq walaw kana murran).

Mereka, para penulis pantang bermanis muka, apalagi hingga memelintir tulisannya dengan gaya menjilat. Penulis mestinya jauh dari karakter tersebut. Penulis melepaskan diri dari semuanya itu. Mereka tak sekedar kaum literat, namun juga penggagas kebenaran sekalipun pengapnya penjara sewaktu-waktu menjerat.

*)Guru dan penulis asal Pulau Mandangin Sampang.

Komentar

News Feed