Kayu Art Properti Photoshoot Bayi Tawarkan Konsep Estetik hingga Tembus Pasar Nasional

News78 views

KABARMADURA.ID | Kayu Art Properti Bayi, begitulah Hermanto menamai usahanya. Pria asal Sumenep itu memulai usahanya di Pamekasan sejak tahun 2019. Awalnya, ia bekerja di salah satu perusahaan kayu sebagai pembuat pintu. Namun, karena memiliki tekad wirausaha yang kuat, Herman memutuskan membuka usaha sendiri dengan konsep berbeda.

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Banner Iklan Stop Rokok Ilegal

Konsep yang diusung Herman dalam usahanya adalah menyajikan properti estetik untuk photoshoot bayi. Properti yang dibuat seperti kursi, kereta cinderella, ayunan, dan bentuk lainnya. Diakuinya, tekad wirausahanya itu bermula dari pesanan dari seorang teman yang berprofesi sebagai fotografer untuk dibuatkan properti kebutuhan fotografinya.

Sejak saat itu, Herman menilai ada peluang besar terhadap usaha tersebut. Sehingga ia memberanikan diri resign sebagai tukang kayu dan memilih membangun usaha kayu art properti seperti yang dilakoninya sekarang.

Baca Juga:  Dishub Pamekasan Putus Kontrak Jukir Nakal

Untuk mengembangkan usaha tersebut, Herman terus membangun jaringan dengan beberapa orang. Selain itu, pihaknya juga mengandalkan media sosial sebagai sarana promosi. Tidak heran, apabila usaha yang dirintis sejak tiga tahun lalu itu sudah mempunyai pelanggan dari berbagai macam daerah di Indonesia; seperti Bali, Jakarta, Palembang, Bandung, dan lain sebagainya.

“Bahkan ada yang order dari India dan Jepang. Namun terkendala teknis, hingga pesanan itu dibatalkan,” terang pria beranak satu itu.

Sementara itu, Herman membanderol dagangannya sekitar Rp250 ribu sampai Rp500 ribu. Meski tidak mudah menjalani usahanya, ia tetap melakukan inovasi terhadap produk usaha yang dihasilkan.

Baca Juga:  Tidak Aktif, 203 Koperasi di Sampang Terancam Dibubarkan

Begitupun dengan proses pemasarannya. Dia mengaku, ketika proses pengiriman ke pelanggan, kerap kali mengalami kerugian. Karena barang yang dikirim mengalami kerusakan. Sehingga harus dikirim ulang ke pelanggan tanpa biaya ongkir.

Meski tidak memiliki gedung produksi khusus, Herman mengaku berhasil membuat sedikitnya 10 properti dalam sehari dengan berbagai macam bentuk.

“Sekarang kami mulai memperbaiki packing agar tidak gampang rusak. Alhamdulillah, kami sudah bisa bangun rumah dari hasil usaha ini, meskipun rumahnya masih belum selesai seratus persen,” pungkas Herman.

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *