oleh

Kebahagiaan yang Berujung Malapetaka

Oleh: Harishul Mu’minin*

Sebuah jeritan terdengar dari hutan sebelah timur desa Dapenda. Tepatnya saat beberapa orang penduduk sekitar sedang mencari kayu api sebagai bahan bakar untuk pengolahan petis. Bila musim ikan tiba, sudah pasti sebagian penduduk akan membuat olahan tersebut. Dan tentunya mereka akan mencari kayu api sebanyak-banyaknya di sekitar hutan maupun di dalam hutan.

Jeritan itu sontak membuat mereka kaget. Padahal saat itu masih siang hari, sekitar pukul 12.24. Mereka menghentikan sejenak pencarian kayu dan meletakkan sebagian  kayu yang sudah terkumpul di atas rerumputan. Kemudian mereka langsung pergi ke arah datangnya jeritan itu. Sekali lagi, jeritan tersebut terdengar, kali ini jeritannya lebih keras. Mereka mempercepat langkahnya agar segera sampai, “sepertinya yang menjerit itu adalah seorang perempuan,” ucap salah seorang penduduk dengan langkah tergesa-gesa.

Beberapa saat setelah sampai, mulut mereka ternganga melihat perempuan yang diperkosa oleh seorang lelaki di bawah pohon cemara yang rindang.

Se morbis, Bajingan!” Bentak mereka setelah sesaat tercengang.

Lelaki itu terperanjat dan menoleh ke arah mereka. Kemudian dia langsung lari tergopoh sambil memakai kaos. Sementara perempuan yang diperkosanya tadi dibiarkan begitu saja, tetap dalam keadaan telanjang dan kedua tangannya terikat.

Mereka hendak mengejar, tetapi mereka terlebih dahulu membantu melepaskan tali yang mengikat kedua tangan perempuan. Setelah berhasil dilepas, dengan sendirinya perempuan itu memakai kembali pakaiannya sembari menangis tersedu-sedu—malu.

“Ah, ke mana bajingan itu?”

“Entahlah, mungkin dia sudah jauh dari tempat ini. Tak mungkin juga kita mengejarnya.”

“Sudahlah, lebih baik kita bawa pulang perempuan ini, kasihan dia.”

Masih dengan isak tangis, perempuan itu dibantu untuk berdiri. Setelah diperhatikan, ternyata perempuan tersebut adalah Yesi, anak dari seorang janda kampung yang bernama bu Sahnatun. Kemudian Yesi dibawa pulang oleh mereka.

Matahari di cakrawala sana tak sedetik pun mau berkedip. Sinarnya yang terik menampar seluruh benda yang ada di bawahnya. Sesampainya di rumah Yesi, bu Sahnatun heran melihat kedatangan anaknya yang menangis ditemani beberapa orang. Lantas, mereka yang membawa pulang Yesi menceritakan hal yang baru saja terjadi.

Bu Sahnatun terkesiap, mulutnya melompong, matanya berkaca-kaca, danYesi menunduk kemudian memeluk ibunya. Dia tak henti-hentinya menangis. Apa yang terjadi? Bu Sahnatun tersebut geram dan sesegera mungkin akan membalas perbuatan tak senonoh lelaki yang telah memperkosa anaknya. Terlihat dari matanya yang tadi berkaca-kaca, berubah merah seperti tersirat kobaran api yang menyala di dalamnya. Rahang giginya bergetar karena emosi dalam jiwanya seolah-olah akan keluar.

***

Beberapa hari setelah kejadian pemerkosaan terhadap Yesi, berembus kabar pemerkosaan lagi. Kali ini korbannya adalah janda tua yang sedang mencari kayu di dalam hutan. Pelaku pemerkosaan sama seperti yang kemarin. Kabar tersebut sudah merambat ke segala penjuru desa. Rasa cemas pun dirasakan oleh seluruh penduduk, apalagi mereka yang seorang wanita. Tak hanya itu, para penduduk yang mempunyai anak perempuan juga ikut risau.

Kabar tentang pemerkosaan terus berembus kencang dan semakin menggegerkan penduduk desa Dapenda. Anehnya, lelaki itu tak pandang bulu: baik wanita tua atau pun muda, janda atau pun perawan, lelaki itu pasti akan menggarapnya. Kabar tersebut akhirnya sampai ke telinga Eyang Musairi, seorang lelaki tua terpandang di desa Dapenda.

Eyang Musairi juga ikut khawatir karena dia memiliki seorang cucu perempuan. Saat ini cucunya sudah kelas 3 SMA, dan sebentar lagi akan lulus. Boleh dibilang, cucunya sudah remaja. Saat ini dia harus ekstra waspada menjaga cucunya agar tidak keluar rumah tanpa sepengetahuannya. Karena keadaan desa saat ini tidak aman. Apalagi kedua orang tuanya berada di perantauan. Sudah pasti semua tanggung jawab terlimpah kepadanya.

Tak hanya Eyang Musairi dan waga lainnya merasakan kerisauan. Bahkan, pak kades pun juga sama. Bagaimana tidak risau, dia memilik tiga orang anak perempuan yang semuanya sudah berusia matang untung menikah. Dia takut kalau putri-putrinya juga menjadi korban pemerkosaan. Dan pada saat itu seluruh perempuan di desa Dapenda tak ada yang berani keluar seorang diri untuk mencari kayu.

Dari sekian banyak perempuan yang telah diperkosa, ada salah seorang dari mereka yang mengetahui nama dan rumah lelaki itu. Hal tersebut langsung dikabarkan kepada penduduk setempat.

“Ketika mau diperkosa di dalam rumahnya, saya tanpa sengaja melihat KTP yang tergeletak di meja. Saat itu, saya berada tepat di dekat meja dan di KTP tersebut tertera jelas nama Ruki. Setalah mengetahui namanya melalui KTP, saya langsung menjadi bulan-bulanan hasrat berahi Ruki yang sudah meluap-luap.” Tuturnya.

Mendengar penuturan perempuan, para penduduk geram. Tetapi kegeraman tersebut mereka tahan. Terlebih dahulu mereka datang ke rumah Pak Kades. Lalu mereka mengadakan musyawarah dengan Pak Kades untuk menindak perbuatan Ruki yang sudah keterlaluan.

Setelah cukup lama bermusyawarah, para penduduk sepakat untuk meringkus Ruki. Keberadaanya membuat desa Dapenda kacau. Pak Kades juga menyepakati kehendak tersebut. Dia juga akan ikut membantu dalam peringkusan. Bila perlu ia akan menelepon polisi untuk datang ke sana. Para penduduk hanya mengangguk.

Hari ini juga para penduduk—baik lelaki atau perempuan—berbondong-bondong mendatangi rumah Ruki di sebelah timur hutan. Mereka sudah siap untuk meringkus orang tersebut. Apabila Ruki memberontak jika hendak diringkus, maka mereka juga tidak akan tinggal diam.

Tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke sana. Sekitar beberapa menit—karena jarak antara hutan dengan pemukiman penduduk dekat—mereka pun sampai. Sesaat setelah berada di halaman rumah Ruki, para penduduk memanggilnya dengan suara yang lantang. Seolah-olah amarah dalam jiwa mereka menggumpal seperti lahar panas yang siap keluar.

Ruki akhirnya keluar setelah mendengar suara lantang di halaman rumahnya. Dia terlihat tenang melihat para penduduk yang datang dengan raut muka yang kesal. Tak ada rasa gentar sedikit pun dari Ruki yang berdiri di mulut rumahnya. Di tangan kanannya terdapat sebuah balok besar yang siap untuk dipukulkan ke tempurung kepala para penduduk. Sepertinya dia akan memberontak.

Dan para penduduk lebih tak gentar lagi menghadapi Ruki yang cuma seorang diri, meskipun mereka datang dengan tangan kosong. Tetapi dengan jumlah mereka yang banyak, mereka yakin dapat meringkus Ruki dengan mudah.

Sejenak mereka mengangkat muka dan menghela napas, kemudian menyerbu Ruki. Dan benar saja, Ruki memberontak. Terjadilah keributan antara Ruki dan para penduduk. Ruki sangat lihai memutar-mutar baloknya untuk dipukulkan. Beberapa kepala dan bagian tubuh penduduk ada yang terkena pukulan darinya. Mereka mengepung Ruki dan memukulnya dari segala arah. Ruki mulai kewalahan meladeni pukulan demi pukulan yang dilakukan penduduk.

Adalah bu Sahnatun yang mendaratkan tendangan tepat mengenai alat vital Ruki. Sehingga, membuat dia jatuh tersungkur dan mengerang kesakitan. Dan pada saat itu penduduk memukul dan menginjak-injaknya.

Beruntung bagi Ruki karena polisi datang melerai. Kalau saja polisi tak datang, pasti Ruki sudah mati dikeroyok. Pak Kades meminta penduduk agar berhenti memukul karena sudah ada pihak berwajib.

Tanpa basa-basi pihak berwajib memborgol kedua tangan Ruki dan membawanya ke kantor polisi untuk ditahan akibat kasus pencabulan. Bukti-bukti tentang perbuatan cabul Ruki sudah ada ditangan polisi saat Pak Kades melaporkannya tadi. Para penduduk merasa senang karena Ruki yang selama ini membuat kacau seantero desa sudah ditangkap.

***

Selang satu hari, para penduduk desa Dapenda mengadakan kenduri atas terjeblosnya Ruki ke dalam penjara. Acara tersebut bertempat di rumah Pak Kades. Para penduduk senang karena Ruki yang selama ini membuat kekacauan sudah tidak ada alagi. Dan mereka sangat bahagia karena keadaan desa sudah aman seperti semula. Segala kebahagiaan yang ada dalam hati penduduk ditumpah ruahkan di acara kenduri tersebut. Mereka sangat bersyukur, pun juga Pak Kades sendiri.

Telepon Pak Kades berbunyi. Ternyata pihak kepolisian meneleponnya. Kemudian dia langsung mengangkatnya. Pihak kepolisian mengatakan kalau Ruki mati di dalam penjara. Pak Kades diminta untuk mengurus penguburan jenzahnya.

“Penyebab kematiannya apa, pak?”

“Kata Dokter, setelah melakukan proses autopsi pada mayat Ruki, ternyata Ruki mederita penyakit HIV.”

“Apa! HIV?”

“Iya, Pak Kades. Dan Dokter juga bilang, bila ada perempuan yang pernah melakukan hubungan badan dengan mendiang Ruki, otomatis perempuan tersebut juga tertular penyakit HIV. Dan bisa jadi perempuan tersebut bernasib sama dengannya.”

“O, iya, Pak, terimakasih atas informasinya.”

“Sama-sama,” telepon pun ditutup. Tiba-tiba tangan Pak Kades bergetar dan wajahnya berkeringat. Kemudian dia menyampaikan hal yang baru saja dia ketahui dari pihak kepolisian. Para penduduk yang sedang berbahagia kemudian tercengang mendengar perkataan kadesnya. Semuanya terdiam mengetahui kematian Ruki yang disebabkan oleh penyakit HIV.

Hal tersebut merupakan tamparan keras buat para penduduk, apalagi yang pernah disetubuhi oleh Ruki. Karena penyakit tersebut sifatnya menular dengan sangat cepat. Dan mereka harus siap-siap menanggung hal serupa yang dialami oleh Ruki.

Cepat atau lambat, penyakit tersebut akan menular ke seluruh penduduk desa Dapenda. Dengan demikian, malapetaka sedang menanti mereka yang tertular maupun tidak.

Kutub, Yogyakarta 2020

*Kelahiran Sumenep 12 Mei 2001. Anak dari seorang Nelayan di Pulau garam. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah. Sekarang bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.

 

Komentar

News Feed