Kebahasaan

Ahmad Sahidah: Dosen Semantik dan Ma’anil Qur’an Universitas Nurul Jadid

Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang mengadakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Pondok Pesantren Nurul Jadid pada 27 Februari 2023. Dalam program ini, para mahasiswa hendak membahas pemikiran Jacques Derrida. Muhammad Alfayyadl, direktur Ma’had Aly, merupakan nara sumber utama mengingat lulusan Sorbonne ini menulis pemikiran dekonstruksi asal Prancis tersebut dengan saksama.

Sebagai pembanding, saya melihat filsafat dalam pengertian alat untuk berpikir dengan memastikan alur ontologi, epistemologi, dan aksiologis digunakan untuk melihat obyek, kaidah dan kegunaan, sehingga disiplin ini tidak hanya dilihat sebagai sejarah pemikiran tetapi juga teori untuk menguak realitas agar bisa dipahami secara utuh dan diterapkan dalam kehidupan konkret. Bayangkan kita menghabiskan hanya mengubah e dengan a dalam diferrence menjadi difference, seseorang telah menguras tenaga sedimikian rupa.

Di abad ini, filsafat bertumpu pada titik balik linguistik, karena isu tidak hanya memahami alam, Tuhan, dan manusia tetapi bagaimana bahasa digunakan untuk mengerti apa yang sedang dipersoalkan. Bahasa sendiri telah mendorong para pemikir untuk melihat apakah bahasa itu mungkin untuk merepresentasikan benda-benda (things), mengingat bahasa itu memiliki kebatasan tersendiri apabila hendak digunakan untuk menyampaikan pesan pada khalayak.

Baca Juga :  Keaslian

Lagi-lagi bahasa itu sendiri tidak serta merta bisa diucapkan begitu saja untuk berkomunikasi. Semisal, betapa seorang mahasiswa filsafat harus memeras otak untuk menjawab pertanyaan orang awam tentang jurusan yang dipilihnya. Padahal kata Ludwig

Wittgenstein bahasa sehari-hari bisa dimanfaatkan untuk mengurai isu filosofis. Jika dikembalikan pada lema philo dan sophia, maka kearifan atau kebijaksanaaan membingkai pesan yang hendak diketengahkan.

Malah, kata filsafat bisa disandingkan dengan ilmu hikmah, kata yang mungkin bisa dijangkau oleh tetangga si mahasiswa tersebut. Artinya, diksi sangat menentukan untuk mengganti kata yang memungkinkan mitra bisa membayangkan nuansa makna, sehingga ada titik temu dari apa yang disodorkan. Apalagi, kutipan dari potongan ide filsuf kini juga menyerbu media sosial yang menjadikannya seperti kata-kata nasehat. Artinya, parsimoni adalah kunci untuk mendekatkan pengalaman yang asing dengan yang akrab dengan lawan bicara.

Tentu, bahasa filsafat tidak sama dengan nasehat, sebab ia lahir dari andaian bahwa yang pertama untuk memikirkan secara mendalam dan yang terakhir secara praktis. Tetapi, bukankah secara aksiologis, gagasan itu harus melahirkan tindakan? Lagi-lagi, kearifan itu adalah soal pemilihan kata dalam menimbang ruang, waktu, dan audiens. Bahasa mudah retak karena hakikatnya makna tergantung dengan konteks, hubungan bagian-keseluruhan, dan latar belakang penutur.

Baca Juga :  Kesederhanaan

Oleh karena itu, mengapa pertanyaan filsafat klasik masih layak diajukan untuk menghadirkan wacana tentang apakah hidup sentosa atau baik itu? Pertanyaan sederhana ini telah menguras pikiran banyak filsuf dulu dan bahkan sejatinya filsafat modern yang acapkali menghadirkan bentuk kata baru (neologisme) sejatinya sedang menjawab pertanyaan besar tentang bagaimana menjalani hidup.

Jika Epicurus menjawab bahwa kemampuan mengelola hasrat (desire), mana yang perlu dan sia-sia, maka Jean Paul Sartre juga hendak mengatasi kecemasan banyak orang tatkala di masa hidupnya perang telah menjatuhkan manusia pada kegundahan yang luar biasa. Oleh karena itu, maka keberadaan manusia otentik itu perlu dijabarkan agar hidup tertanggungkan. Tentu, teks Being and Nothingness tidak bisa begitu saja disodorkan pada publik untuk memahami eksistensi.

Namun, filsuf itu juga adalah manusia seperti pada umumnya. Nietzsche pernah berujar bahwa hidup itu keliru tanpa musik. Seni terakhir ini adalah juga bahasa yang diungkapkan melalu serupa-bahasa (pseudo-linguistik). Betapa mendesak untuk memeriksa kembali pilihan kata kita dalam menyusun potongan-potongan peristiwa menjadi satu kesatuan ungkapan sehingga individu tidak selalu memasuki labirin. Serumit apapun yang dipikirkan, kadang filsuf itu tampak seperti khalayak. Albert Camus merokok sambil membaca koran. Tetapi, penggambaran pengalamannya jelas tidak sama dengan orang kebanyakan.

Baca Juga :  Keberlimpahan

Kecuali bahasa yang dipilih bahwa hidup itu adalah berlayar di tengah lautan yang senantiasa digoyang oleh ombak. Artinya, ia telah memilih untuk terus menggedor sesuatu yang dianggap jumud dan dekaden. Ternyata, hidup memang cermin dari bahasa yang dipilih dan pendekatan analitik akan mengetuk keangkuhan seperti itu sebagai gerowong. Menurut ayah saya, bahwa kadang laut itu tenang. Apalagi kehadiran sinar bulan purnama membuat si pelayar merasa ketenangan yang luar biasa, meskipun dalam keadaan seperti ini ia tidak mendapat ikan. Kita tidak akan mendapatkan semuanya dalam hidup, sebab dalam sebagian kita akan menikmati seluruhnya. Betapa bahasa itu magis!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru