Kebaikan


Kebaikan

Falsafah Harian

Ahmad Sahidah : Dosen Semantik dan Ma'anil Qur'an Universitas Nurul Jadid

Dalam Alqur'an surat al-Nahl (97), atau amal saleh kebahagiaan. Menariknya, hayatan tayyibatan adalah bonus dari perbuatan baik. Artinya, kita tak perlu mengejar kebahagiaan, yang sering disebut mengejar kebahagiaan di Barat, karena kita akan meraihnya setelah menunaikan kebajikan. Namun, Cris Guillebeau kata tersebut menjadi Happiness of Pursuit dalam bukuya, untuk menegaskan bahwa orang bisa memenuhi keinginannya dalam hidup.

Masalahya, apa untungnya bila kita hendak menunaikannya dalam kehidupan sehari-hari? Dalam tradisi Barat, secara etis, kita mengenal deontologi Immanuel Kant yang dikenal sebagai mazhab yang menempatkan kehendak, niat atau tujuan itu adalah dasar dari kebaikan. Sebaliknya, teleologi dianggap berseberangan karena mendudukan akibat sebagai ukuran dari kebaikan. Jeremy Bentham adalah tokoh utama yang sering disebut dalam kajian filsafat etika.

Dari pembedaan di atas, tatkala saya telah menjelaskan perbedaan dua aliran di atas dalam kuliah Sains Pemikiran dan Etika di Universitas Utara Malaysia, Pang Chong Meng bertanya, adakah seorang remaja yang menyeberangkan seorang nenek untuk melintas jalan dianggap baik bila bantuannya ini justru menyebabkan si nenek ditabrak oleh seorang pengendara sepeda motor? Apa pasal? Baik itu dilihat dari akibat dalam aliran teleologi. Sebagai Penganut deontologis, remaja itu berpegang pada aksioma Kant bahwa baik itu berdasarkan niat atau maksud.

Dari dilema di atas, sejatinya akal sehat akan menganggap peristiwa di atas adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Keyakinan si pemuda bahwa berada di kawasan aman karena kecepatan sedang dibatasi 30 KM/Jam, sementara penabrak adalah remaja ugal-ugalan yang menaikan adrenalin dengan menggeber gas motor. Apakah pilihan yang dibuat oleh si remaja yang dianggap bergajulan adalah apakah dalam dirinya? Di sini, teori tentang kebebasan perilaku dan determinisme juga mengisi perdebaan dalam disiplin Kalam atau Teologi.

Apa pun berguna di atas, kita mungkin bisa menimbang Filsafat Jawa, sebagaimana yang diungkap oleh Suwardi Endraswara dalam Falsafah Hidup Jawa: Menggali Mutiara Kebijakan dari Intisari Filsafat Kejawen (2018: 43). Dalam pandangan dunia Jawa, pribadi yang baik dengan budaya damai. Dengan penekanan pada keadaan permai, kerukunan menjadi tolok-ukur dari kebaikan. Lebih jauh, jiwa kekeluargaan, kegotongroyongan, dan ketepaseliraan dikedepankan. Dalam keadaan seperti ini, konflik betul-betul dianggap buruk.

Dalam perspektif lain, berkat dilekatkan pada norma-norma. Dalam Dimensions of Goodness , Vittario Hosle mengatakan bahwa norma-norma moral mengikat dan memotivasi hanya bagi mereka yang mengadopsinya secara sukarela. Kita hanya dapat mengharapkan seseorang untuk menyetujui tatanan preferensi normatif jika sesuai dengan preferensi fundamentalnya, sehingga ia dapat mengenali mereka sebagai otonom (2013: 41). Sejauh ini sejatinya, dalam agama yang menggerakkannya sesuai suka relanya wujud dari kebaikan yang bisa menggabungkan pandangan dan teleologis.

Jadi, bila kita memberikan Rp 2000 pada penjagaan perempatan jalan, ikhlas atau tidak, ia telah mengubah hidup orang lain. Bila ada baiknya ini dilakukan oleh banyak orang, ia bisa membantu kehidupan para penjaga itu dan keluarganya. Menariknya dalam agama, keikhlasan itu adalah puncak dari perbuaan, yakni amal itu hakikatnya baik secara instrinsik. Penalaran sumber bantuan tidak lagi dilihat dari Tuhan dan manusia, karena dalam sehari-hati batas-batas ini runtuh.

Fondasionalisme yang menjadi hasil dari pencapaian terbaik sejatinya tidak semata-mata mata bahwa ajaran Tuhan itu mutlak tanpa kehadiran akal budi. Just, with rasioalitas, alasan-alasan kewajiban itu berpijak pada kesejahteraan manusia secara keseluruhan. Misalnya, kewajiban puasa itu yang bisa dilihat sebagai imperatif pribadi, ternyata ia pesan sosial yang kuat, karena bagi orang yang membayar fidyah , ia telah membantu orang yang tidak berpunya. Seakan-akan kewajiban pada Tuhan itu (bisa) gugur, tetapi tidak pada manusia. Amal saleh sesungguhnya ditunaikan bersama dan tak akan berbuat baik bila ia juga bermanfaat untuk kebaikan hidup yang lain, binatang dan lingkungan.