oleh

Kebenaran Sains yang Kalah

“Era teknologi dan komunikasi modern bukan hanya menciptakan lompatan dalam bidang pengetahuan, melainkan juga memberi jalan dan bahkan memperkuat kekurangan umat manusia” (hal.10). Penulis buku ini, seorang dosen sekaligus pakar di Amerika menjelaskan bagaimana ilmu pengetahuan mulai melemah. Kebenaran diragukan, dan banyak orang justru lebih memilih “informasi sampah.” Secara tidak langsung dan memang demikian adanya, pakar yang benar-benar ahli tidak banyak digubris lagi. Hal ini sudah terjadi, kiwari yang tidak begitu berkah.

Ragu pada seorang pakar yang ahli di bidang sains sebenarnya adalah hal yang wajar. Bahkan kebenaran sains disebut ‘kebenaran mutakhir’ atau teranyar. Kebenarannya bisa saja berubah seiring datangnya penemuan baru yang menolak kebenaran sebelumnya. Sains selalu dinamis dan terbuka atas kritik, dan keterbukaan ini yang membuatnya berkembang. Bahkan seorang pakar selalu memiliki pakar sejawat. Dalam dunia akademis, peran pakar sejawat sebagai orang yang mengkritisi penemuan pakar lainnya.

Hanya saja buku ini menjelaskan secara rinci, jika pakar saat ini sudah tidak terlalu memiliki pengaruh. Kebenaran sains yang diperoleh seorang pakar sudah jamak ditolak. Baik itu dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Hal yang disayangkan, penolakan dilakukan orang lain tanpa dasar yang jelas. Tidak dengan kerangka berpikir logis, melainkan bias, stereotip, dan seringkali menggeneralisasi.

Pada bab-bab awal, penulis menjelaskan bagaimana masyarakat Yunani dahulu begitu gandrung akan pengetahuan. Bahkan berbicara mengenai hal-hal baru marak terjadi di sana sini. Semacam “kecanduan pada inovasi,” dan ini yang membuat era Yunani itu berkembang pesat. Namun disayangkan, saat ini di banyak tempat malah terjadi sebaliknya. Orang sering mengejar hal-hal yang kurang bermutu. Lebih jauh lagi, buku juga menjelaskan proses bagaimana pengetahuan masyarakat semakin buruk kualitasnya.

Penulis menjelaskan ada beberapa hal yang membuat pengetahuan masyarakat menurun. Setidaknya terdapat empat hal yaitu perguruan tinggi, warga negara, internet, dan jurnalisme gaya baru. Seolah semua terjadi karena memang perubahan zaman dan tidak bisa dihindarkan. Namun aneh juga, ketika dapat dilakukan kenapa tidak dapat dihindari.

Tentang perguruan tinggi, sebenarnya di sini karena sistem perguruan tinggi saat ini. Pendidikan yang semakin mahal dan perilaku pembelajaran yang sudah mirip seperti hubungan “penjual dan konsumen.” Kampus menginginkan biaya yang mahal. Sedangkan mahasiswa menginginkan fasilitas belajar: ruangan ber-AC yang nyaman, dosen yang menyenangkan, dan nilai yang bagus. Cara kerja yang mirip dengan “jualan” ini yang akhirnya menjadikan kualitas lulusan perguruan tinggi menjadi tidak begitu berarti. Karena konsep berpikir yang sudah keliru dan menjadi kebiasaan sehari-hari.

Kedua adalah warga negara. Maksud di sini adalah mereka masyarakat biasa yang seringkali merasa sudah tahu sesuatu. Namun kenyataannya mereka tidak benar-benar tahu. Penyebabnya adalah kurang bisa menemukan informasi dengan baik (bias informasi). Mencampuradukkan data, dongeng, takhayul, fakta, maupun teori konspirasi. Apalagi yang sering terjadi, menggeneralisasi dan stereotip terhadap suatu hal. Biasanya, hal ini dilakukan setelah mendapat informasi dari internet.

Ketiga adalah internet, sebagai mesin pencari yang akan menunjukkan jawaban atas pertanyaan kita. Di sana, saat kita bertanya sesuatu misalnya “Mengapa dada saya nyeri?” Akan tersaji sebelas juta lebih informasi mengenai hal itu. Dalam waktu tidak ada satu detik (Hal 128). Internet mampu memberi informasi instan dari berbagai sumber di seluruh dunia! Menakjubkan. Hanya saja di sisi lain, internet juga mempercepat kehancuran komunikasi antara pakar dan orang awam (hal 129).

Masih di halaman 129, internet telah menciptakan banyak hukum yang unik, sekaligus naif atas perilaku penggunanya. Pertama adalah Hukum Godwin dan reductio ad Hiterlum, yaitu argumen yang bawa-bawa Hitler. Selanjutnya, ada Hukum Pommer yang berkata jika internet membuat orang dari “tidak memiliki pendapat” menjadi “memiliki pendapat yang salah.” Ada juga Hukum Skitt: semua pesan internet yang mengoreksi kesalahan di pesan lain, setidaknya akan memiliki satu kesalahan sendiri. Lalu terakhir, ke-4 yaitu Hukum Sturgeon, yang diambil dari nama penulis fiksi ilmiah Theodore Sturgeon awal 1950-an. Yaitu berkata jika 90 persen dari segala hal adalah “sampah.”

“Sampah-sampah” berkeliaran di internet dan hanya berjarak satu klik di antara informasi yang kredibel. Ini terkait dengan faktor ke empat yaitu jurnalisme gaya baru. Terlalu banyak informasi tersedia, terlalu banyak portal berita. Sehingga terkadang otak juga lelah untuk membaca dan akhirnya informasi yang didapat sebatas judul. Interaktivitas juga mempengaruhi berita karena saat ini berita membutuhkan respons pembaca. Lalu menuju ke arah: publik menentukan pilihan dan liputan berita tanpa sadar. Sehingga membuat pola pikir orang awam menjadi percaya diri yang tidak berdasar sekaligus sinisme yang mendalam. Publik dimanjakan informasi yang seringkali indah, unik, namun kurang bermutu. Sedangkan independensi media harusnya terus dipertanyakan.

Membaca buku ini akan menyadarkan kita atas jebakan informasi yang beredar di antara kita. Membuat kita lebih menghargai sains karena telah terbukti membuat peradaban semakin berkembang. Walaupun di sisi lain, sains pernah juga menyebabkan masalah. Namun tidak sering terjadi karena melewati proses pengujian yang ketat. Akhir kata, selamat membaca!

Judul               : Matinya Kepakaran

Penulis             : Tom Nichols

Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan           : Pertama, Desember 2018

Tebal               : 294 Halaman

ISBN               : 978-602-481-073-3

Biodata

Khoirul Muttaqin, Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Beberapa resensi buku yang ia tulis pernah dimuat di koran cetak Malang Post, Jawa Pos Radar Malang, Jawa Pos Radar Madura, Kabar Madura, dan Koran Jakarta.

Nomor Telp/WA : 081515699969

Facebook : https://facebook.com/bukutaqin/

Instagram : https://www.instagram.com/bukutaqin/

Youtube : https://m.youtube.com/channel/UCjNgHVQW54nwCev60cVy6Og

Alamat asal : Jl. Merak RT 5 RW 3 Ds/Kec. Ringinrejo, Kab. Kediri, Prov. Jawa Timur

 

 

 

 

Komentar

News Feed