oleh

Keberadaan Retail Modern Dianggap Ancam UKM di Kabupaten Sampang

Kabarmadura.id/Sampang-Pertumbuhan dunia usaha, khususnya di sektor retail modern di Kabupaten Sampang, tidak hanya membawa dampak positif, seperti penyerapan tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. Namun, keberadaam retail modern dinggap membawa dampak negatif terhadap pertumbuhan usaha kecil menengah (UKM) di Kota Bahari.

Berdasarkan data yang dihimpun Kabar Madura dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sampang, menunjukkan ada sekitar 130 unit retail modern yang tersebar di 14 kecamatan di Sampang. Kondisi itu tidak dibarengi dengan inovasi pada sektor UKM di Kota Bahari.

Anggota Komisi II DPRD Sampang Alan Kaisan mengatakan, semakin menjamurnya retail modern dan minimarket di Sampang pasti membawa dampak positif dan negatif terhadap perekonomian masyarakat. Namun hal itu juga bisa menjadi ancaman bagi pedagang kecil (klontongan) dan UKM, atau masyarakat menengah ke bawah karena persaingan dagang yang semakin ketat dan terkesan tidak sehat.

Kata Alan (sapaan akrabnya), menjamurnya minimarket lantaran pemberian izin mendirikan usaha retail terkesan dipermudah oleh pihak pemangku kebijakan. Sehingga dikhawatirkan eksistensi UKM dan pedagang kecil akan melemah, karena kalah bersaing dengan retail modern yang menerapkan bisnis ritel dari hulu ke hilir.

“Menjamurnya pendirian retail atau minimarket ini dapat mematikan ekonomi masyarakat kecil yang berujung ke arah kemiskinan dan kesenjangan sosial yang kian melebar. Meski di sisi lain lain bisa menyerap tenaga kerja. Tepati lebih cenderung akan mengancam UKM dan pedagang kecil,” ujarnya, Kamis (21/5/2020).

Kata Alan, secara kualitas pelayanan, tentu saja toko modern akan lebih baik dibandingkan toko-toko tradisional. Maka dari situ, kebanyakan warga memilih untuk berbelanja di toko modern yang lebih nyaman dengan fasilitas yang memadai.

Lanjut dia, selama ini pihaknya menilai keberadaan retail modern dan minimarket juga bisa mendorong kemajuan UMKM, manakala sudah ada kerjasama antara pemkab dan pengusaha retail dalam pemasaran produk lokal. Akan tetapi, sampai sekarang hal itu belum terlaksana secara maksimal. Banyak produk lokal yang tidak bisa ditampung di retail, lantaran ribetnya persyaratan.

“Jumlah retail modern sudah terlalu banyak dan mengancam pendapatan para pedagang kecil. Jika hal itu tetap dibiarkan dan tidak ada upaya pembatasan secara tegas, maka tidak menutup kemungkinan banyak pedagang kecil yang akan gulung tikar. pada akhirnya,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Agus Husnul Yakin, dirinya mendesak DPMPTSP dan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) Sampang untuk melakukan kajian moratorium pendirian minimarket secara komperhensif dan objektif dengan tujuan gerakan dan pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Sampang bisa meningkat secara maksimal.

“Kami terus mendorong pemkab untuk terus memberdayakan masyarakat yang bergerak di bidang UMKM dan pedagang kecil dan segera mengeluarkan regulasi yang jelas yang dituangkan dalam peraturan daerah (Perda) maupun peraturan bupati (Perbup) sebagai payung hukum dalam memberikan perlindungan kepada rakyat kecil dan dipersulit izin retail modern kedepannya,” tandasnya. (sub/pin)

Komentar

News Feed