Kebosanan


Kebosanan

Kolom: Falsafah Harian

Ahmad Sahidah: Dosen Semantik dan Ma'anil Qur'an Universitas Nurul Jadid

Jika Zumi, anak bungsu, bilang aku bosan (saya bosan), itu berarti ia ingin bermain gim dari telepon pintar si ibu atau si kakak. Bilamana si Biyya, anak sulung, berkata boring , itu bermakna penyuka Billie Eilish dan Aurora tersebut hendak memiliki buku bacaan baru. Dengan fakta ini, kita bisa menyimpulkan bahwa kebosanan itu subyektif. Ia terkait dengan keinginan dan keinginan tertentu dan melepaskan dari

Bosan lahir dari keadaan yang menyebabkan seseorang ingin melakukan sesuatu, tetapi tidak tahu apa yang ingin dilakukan atau berkehendak untuk mencapai keinginan. Bila yang terakhir tidak bisa dipenuhi, kejemuan akan menyerang tanpa ampun. Masalah, apa yang sebenarnya menggeluti manusia sehingga ia merasa kehilangan arah. Untuk itu, dengan pemenuhan apa yang dimaui, ia tahu cahaya yang harus dituju.

Dalam The Happiness Purpose , Edward de Bono menegaskan hari ini kebosanan itu meliputi kebingungan ( kebingungan ), tidak adanya arah ( direction ) dan depresi yang disebabkan oleh kompleksitas kehidupan modern (2016: 1) Today yang dimaksud tentu pada tahun 1976-an tatkala karya ini pertama kali terbit. Adakah sekarang, di tahun 2022, masalah serupa masih muncul? Ketidaktahuan hakikat terhadap kehidupan akan menyerimpungkan banyak orang dari jalan yang semestinya dilalui.

Belum lagi, kompleksitas dunia modern telah menempatkan manusia pada sebuah keadaan yang serba instan, cepat, naik-turun dan disruptif. Semestinya, dengan kemudahan yang didapatkan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, manusia akan memiliki banyak waktu luang untuk menikmati kesenangan lain. Tepat, mereka seolah-akan berlari di treadmill , hanya bergerak di tempat dan tidak sampai ke tempat tujuan.

Karena begitu genting tentang ini, Lars Svendsen menulis buku Filsafat yang khusus membahas kebosanan. Dalam A Philosophy of Boredom , pemikir dari Denmark mengungkap hal tersebut, yaitu teman hidup yang baru karena mengalami tekanan kejemuan. Selanjutnya, ia menegaskan bahwa penelitian ini adalah berusaha untuk memahami siapa kita dan bagaimana kita menyeusaikan dengan dunia ini pada titik waktu tertentu.

Dari ikhtiar di atas, kita bisa menjawab pertanyaan tersebut, yakni kita adalah seorang muslim dan menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam ajaran nabi. Masalah, pada titik tertentu dalam garis sejarah menyebabkan kita berhadapan dengan nilai-nilai lain, seperti kebudayaan populer. Tidak pelak, Svendsen mengutip Kierkegaard bahwa kebosanan itu adalah akar dari semua kejahatan. Meskipun ini dianggap, kebosanan berlebihan sering dibiarkan dengan dadah ( narkoba ), arak, rokok, gangguan makan, kumpul kebo , vandalisme, depresi, agresi, kebencian, bunuh diri, berisiko yang lain, dan lain-lain.

Lebih jauh, akibat yang serius bagi seseorang adalah kebosanan menyebabkan kehilangan makna. Lalu, apa yang menyebabkan seseorang bisa menemukan makna dalam hidupnya? Di sini, kita bisa menyuguhkan fondasinalisme, di mana seseorang mendasarkan tujuan hidupnya pada institusi tertentu yang dipandang mutlak, seperti agama. Tidak dapat dielakkan, seseorang akan mencari pendasaran dalil bagi sebuah tindakan. Sementara, kelompok lain menyangkal kuasa dari luar, sambil mencari nilai sendiri yang dianggap sebagai kebenaran eksistensial.

Namun, tilikan di atas tak bisa dicapai dengan mudah oleh orang awam. Secara umum, perhatian yang sering membuat perasaan bosan. Untuk tujuan praktis, kita bisa mengacu pada tipologi kebosanan yang dianggit oleh Martin Doehlemann ke dalam empat tipe, yakni kebosanan situatif, ketika seseorang menunggu orang lain, mendengarkan kuliah atau naik kereta api. Kedua, kebosanan kekenyangan, tatkala seseorang mendapatkan sesuatu yang terlalu banyak dari hal yang sama dan segala sesuatu menjadi dangkal . Ketiga adalah kebosanan eksistensial yang muncul karena jiwa tanpa isi dan dunia berada dalam posisi netral. Terakhir adalah kebosanan kreatif, yang memaksa seserang untuk melakukan sesuatu yang baru.

Tipologi yang dipilih oleh Svendsen di atas hakikatnya berada dalam pengalaman khusus dan konteks tertentu. Secara teoretis, keempat tipologi tersebut memang beradal dari pengalaman dan kenyataan yang dicermati oleh teoretikus. Lalu, benarkah kebosanan karena terlalu berlimpah itu dialami oleh semua orang? Tentu, bila yang bersangkutan bisa memilah dan memilih, ia bisa memanfaatkan keberlebihan itu untuk membantu orang yang memerlukan.

Demikian pula, kebosanan situatif bisa diatasi dengan antisipasi. Tatkala kami menggunakan angkutan umum milik KAI dalam perjalanan mudik, saya dan Biyya membawa buku dan mengisi waktu di gerbong dengan mengunjungi restorasi untuk menikmati bakso semangkok. Bahkan, dengan menimbang mendengar kuliah membosankan, maka kelas kami dibuat untuk menyenangkan, semisal sejak awal, kuliah untuk tidur atau berkelakar serta memprovokasi pelajar untuk berpikir. Pendek kata, kita bisa membuat jalan keluar dari kebosanan karena realitas itu sejatinya bentukan subyektif dan eksistensial dari pikiran kita.