oleh

Kebutuhan Anggaran Fantastis, Pembangunan Ekowisata Mangrove Butuh 9 Tahun

Kabarmadura.id/PAMEKASAN-Cita-cita Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) untuk membangun destinasi wisata baru berupa ekowisata mangrove di Desa Lembung, Kecamatan Galis, membutuhkan anggaran fantastis, yakni butuh Rp9 miliar untuk  8 hektar lahan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pamekasan Achmad Sjaifuddin mengatakan, berdasarkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) senilai Rp1 miliar setiap tahun. Sementara yang dibutuhkan di Disparbud Rp9 miliar untuk pembangunan ekowisata mangrove.

“Mengingat dari anggaran yang disediakan pemerintah, untuk membangun ekowisata mangrove butuh 9 tahun,” katanya (12/3) kemaren.

Dijelasakan Achmad, di tahun 2019 Disparbud mendapatkan Rp500 juta untuk kebutuhan pembangunan ekowisata mangrove. Yakni diantarnya untuk Penyusunan dokumen masterplan, Landmark, tracking jogging route dan kafe apung serta aksesoris lainnya. Sedangkan Mangrove yang sudah dikembangkan di antaranya jenis rhizophora stylosa dan mucronata, avicennia lanata, sonneratia alba, dan jenis mangrove lainnya.

“Jenis mangrove tersebut mempunyai fungsi masing-masing yang bisa bermanfaat bagi ekosistem laut,” Paparnya.

Achmad mengatakan, pemerintah juga  menandatangani MoU dengan Perhutani mengenai pengelolaan lahan mangrove di Desa Lembung. Dalam waktu dekat, penandatanganan nota kerja sama secara detail akan direalisasikan. Dengan demikian, hutan mangrove yang dirawat warga itu dalam waktu dekat dapat dikelola menjadi objek wisata.

”Tahun depan bisa dimulai pengembangan pariwisata,” paparnya.

Dengan itu, ia berharap bengan pembangunan destinasi wisata itu, perekonomian dan kesejahteraan warga diharapkan meningkat. Bahkan bisa menumbuhkan usaha baru oleh warga sekitar.

Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan, Mohammad Sahur menyampaikan, anggaran ekowisata mangrove sangat minim jika ditinjau dari kebutuhannya. Pemerintah juga harus ikut andil dalam pembangunan ekowisata mangrove. Dalam artian selalu memantau sejauh mana perkembangan pembangunan tersebut

“Karena butuh anggaran banyak dan kerja ekstra, maka pemkab lebih kreatif dalam mengembangkan ekowisata mangrove ini,” paparnya.

Selaku legislatif, dia meminta agar menghormati slogan Pamekasan sebagai Kota Gerbang Salam. Menurutnya nanti  diharapkan  pengunjung harus berpakaian Islami. Sebab, selama ini tempat wisata banyak yang menjadi perbincangan masyarakat karena pengunjung berpakaian yang condong membuka aurat.”Realisasi ini semoga terwujud tanpa alasan apapun,” pintarnya.(KM45/mam)

Komentar

News Feed