Kecanduan Game Online di Tengah Pandemi Covid-19

  • Whatsapp

Siapa sih yang tidak tahu games online?

Kebanyakan pasti akan menjawab bahwa mereka tahu dan bahkan banyak yang menyukainya. Di era yang serba digital ini, games online menjadi tidak asing lagi ditelinga masyarakat. Games online pertama kali diciptakan oleh Ralph H. Baer, seorang ilmuwan yang berasal dari Jerman. Saat itu, ia menciptakan sebuah permainan di televisi tahun 1966 yang kemudian diberi nama Brown Box. Siapa sangka, jasanya tersebut memberikan dampak pada kehidupan manusia di era selanjutnya. Games online mulai digandrungi para pengguna mobile maupun konsol game dari berbagai kalangan. Entah itu anak-anak, remaja, bahkan dari kalangan orang tua.

Berdasarkan laporan Digital 2020: Global Digital Overview yang dirilis Data Reportal tercatat bahwa hampir 60 persen populasi dunia telah menggunakan internet. Sebanyak 20 persen pengguna internet yang berumur 16-64 tahun menonton live-streaming dari seseorang yang bermain game dan sekitar 80 persen pada rentang umur yang sama bermain game setiap bulannya. Sehingga, tercatat jumlah gamer di dunia telah mencapai 3,5 miliar orang. Jumlah tersebut terus meningkat setiap harinya Dengan jumlah yang fantastis ini, tak ayal banyak perusahaan games yang mulai bersaing meluncurkan produk mereka agar laris di pasaran.

Mengingat dunia saat ini sedang terguncang akibat pandemi Covid-19, pemerintah menganjurkan masyarakat untuk tetap berada dirumah dan membatasi kegiatan diluar rumah (social distancing). Hal ini membuat banyak orang mulai mencari alternatif untuk mengisi waktu mereka. Banyak diantara mereka yang lebih memilih alternatif games online. Wajar saja, akibat karantina mandiri yang harus dilakukan, membuat banyak orang mengalami depresi, stres, paranoid dan bahkan sampai mengalami gangguan psikomatik. Dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan orang-orang main game di tengah anjuran menjaga jarak fisik atau physical distancing dan isolasi diri di rumah untuk mencegah persebaran Virus Corona baru atau SARS-CoV-2. Namun, tentu saja penggunaan games online harus dibatasi. Jika tidak dibatasi, maka akan menimbulkan kecanduan. Memang pada kondisi normal bermain dikhawatirkan akan memberi dampak negatif apalagi bila sampai kecanduan. Kecanduan pada games online merupakan suatu masalah yang serius. Bagaimana tidak, sikap kecanduan ini dapat merusak kesehatan mental seseorang. Menurut World Health Organization (WHO), kecanduan games online termasuk dalam gangguan mental yang kemudian dimasukkan dalam International Classification of Diseases (ICD-11). Lalu apa saja tanda-tanda seseorang kecanduan pada games online? Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Beranuy, tanda seorang mengalami kecanduan dimulai dengan hilangnya kontrol terhadap diri sendiri. Artinya seseorang yang sudah kecanduan akan lebih memprioritaskan games daripada kegiatan di kehidupan nyata lainnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa dampak negatif yang ditimbulkan dari kecanduan games sangat mengerikan. Dampak yang ditimbulkan ini akan berpengaruh pada kesehatan mental seseorang. Games yang dirancang harus menghadirkan permainan yang seru dan menyenangkan agar dapat laris dipasaran. Tidak jarang para perancang games memperlihatkan banyak tindakan kriminal dan kekerasan didalamnya, seperti: perkelahian, perusakan dan pembunuhan. Secara tidak langsung, hal ini akan mempengaruhi alam bawah sadar para gamer bahwa kehidupan nyata ini adalah layaknya sama seperti di dalam games online tersebut. Terdapat beberapa kasus pecandu games online ditemukan tewas akibat kelelahan. Namun, bermain game pun tak melulu soal negatif, jika dengan pengawasan yang tepat beberapa di antaranya malah menguntungan anak atau remaja.

Bermain game bisa menjadi hobi yang sehat untuk orang-orang selama masa karantina karena membantu menghilangkan stres dan rasa khawatir. Kegiatan ini menyediakan beberapa pelarian yang sangat dibutuhkan di tengah ketidakpastian seperti saat ini. Pemberlakuan peraturan social distacing yang ditetapkan oleh pemerintah, mengharuskan masyarakat untuk tetap selalu berada di rumah. Memang, secara nyata, hal ini membuat masyarakat mau tidak mau harus membatasi kegiatan mereka diluar rumah. Namun, bukan berarti karenanya dapat membatasi diri melakukan kegiatan yang produktif. Banyak kegiatan produktif dan positif yang bisa dilakukan selama karantina mandiri. Bermain games online tidaklah dilarang. Tetapi, ada kalanya hal tersebut harus dibatasi sehingga tidak menimbulkan dampak yang merugikan baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Namun stigma masyarakat memandang bermain game merupakan sesuatu yang negatif. Mereka beranggapan bermain game hanya membuang waktu dan tenaga saja. Berikut manfaat bermain game berdasar beberapa penelitian.

Meski badan kesehatan dunia (WHO) mengklasifiksaikan gaming disorder, atau penyakit mental yang disebabkan kecanduan game sebagai salah satu yang harus diwaspadai. Namun, masih banyak ilmuan yang tak sependapat dengan organisasi PPB tersebut, psikolog Dr. Michael Fraser salah satunya.

Mengatasi Penyakit Mental

Menurut Dr. Michael Fraser bermain game adalah sebuah mekanisme yang dapat mengatasi deretan penyakit mental yang dialami remaja, seperti kecemasan, depresi, hingga gangguan belajar. Jadi, dengan perlakuan yang tepat, sesungguhnya bermain game justru hal yang baik untuk mengatasi penyakit mental.

Menumbuhkan sifat gigih

Dalam bermain game pasti ada saat menang dan kalah, beberapa orang kecenderungan untuk mengulang tahapan di mana mereka merasa gagal. Maksudnya mereka akan lebih paham jika mereka sudah melakukan secara berulang-ulang kali. Nah, keadaan ini merangsang tumbuhnya sifat gigih untuk memperjuangkan suatu kemenangan.

Membuat otak lebih rileks

Mark Griffiths, profesor studi perjudian (yang ternyata merupakan salah satu ladang keilmuan psikologis), dari Nottingham Trent University di Inggris, menyebut bahwa terdapat dampak positif dari bermain game. Ia menyebutkan bahwa hanya ada sedikit bukti kalau bermain game secara moderat memiliki efek samping akut.

Ia mencontohkan juga beberapa game yang sebenarnya sedikit mengandung unsur kekerasan seperti game shooter dan petualangan, yang justru membuat otak pemainnya lebih rileks. Sang profesor juga mengklaim kalau game ber-genre stratgi yang dapat bermanfaat bagi si pemain, yaitu kecepatan reaksi, memperbaiki memori, kemampuan penalaran, hingga kesadaran spasial.

Melatih konsentrasi

Hasil penelitian menyebutkan bahwa para pemain game ini memiliki fokus yang lebih terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, jika dibandingkan dengan mereka yang jarang main game, apalagi yang tidak main sama sekali. “Hasil penelitian kami ini juga sangat mengejutkan karena proses belajar lewat main game ternyata cepat diserap seseorang. Dengan kata lain, game dapat membantu melatih orang orang yang memiliki problem dalam berkonsentrasi,” tegas Daphne Bavelier, ahli syaraf dari Rochester.

Meningkatkan daya ingat

Peneliti serta Profesor Psikologi dari University of Illinois, Amerika Serikat, Dr Arthur F. Kramer, mengadakan penelitian pada 40 lansia berusia 60 hingga 70 tahun. Melansir dari jurnal Psychology and Aging edisi Desember penelitian tersebut dilakukan untuk mengetahui daya ingat lansia terhadap kecenderungan main game. Riset mencakup 20 manula yang secara acak ditugasi untuk main videogame, dan separuhnya tidak, selama lebih dari sebulan. Kelompok main game menghabiskan waktu 23 jam untuk bermain game Rise of Nations, video game dimana para pemain berkeinginan mencapai dominasi dunia. Menguasai dunia membutuhkan setumpuk tugas berat termasuk strategi militer, membangun kota-kota, mengelola ekonomi serta memberi makan rakyat. Ketika penelitian berakhir, kemampuan mental mereka kembali diuji. Jika dibandingkan dengan mereka yang tidak memainkan video game, pemain Rise of Nations menunjukkan peningkatan yang lebih besar soal cara kerja otak, ingatan jangka pendek, daya nalar, hingga kemampuan berganti tugas.

Dalam menekan penyebaran COVID-19. WHO menilai hal terbaik yang bisa dilakukan adalah bermain game. Tetapi, ada kalanya hal tersebut harus dibatasi sehingga tidak menimbulkan kecanduan.

 

Oleh: Moh Hanif

Penulis Adalah Mahasiswa IAIN Madura

Semester VI Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *