Kecemasan

Ahmad Sahidah: Dosen Semantik dan Ma’anil Qur’an Universitas Nurul Jadid

Kecemasan bisa lahir dari perasaan takut karena kehilangan atau kegagalan. Meskipun keadaan ini digambarkan mencekam tetapi ia bisa menjadi pengingat agar seseorang berwaspada. Semisal, sebab khawatir kehilangan kerja, seseorang menjadi penurut terhadap keinginan atasan dan masyarakat. Ia menyesuaikan keyakinannya dengan apa yang dipandang sebagai kepercayaan bersama, sebab sikap berbeda akan menendangnya dari komunitas.

Tentu pekerjaan tidak hanya menjadi ruang berkarya tetapi juga memperoleh pendapatan. Dari yang terakhir ini, individu bisa memenuhi keperluan untuk mendapatkan kenikmatan sebagai fase eksistensial pertama dalam pemikiran Kierkegaard. Tentu, kesenangan ini terkait dengan pemenuhan terhadap kebutuhan biologis yang memang harus selesai, sebab raga adalah wadah dari jiwa. Jika tubuh lemah, ruh akan rebah.

Tetapi, kehilangan itu tidak saja terkait dengan pekerjaan, tetapi juga hubungan baik dengan orang lain, terutama tetangga. Dalam kehidupan sehari-hari, kita akan lebih sering berkomunikasi dengan orang yang dekat. Untuk itu, tuntutan etis mengemuka agar kehidupan sehari-hari tertanggungkan, karena hukuman masyarakat akan menjadi penjara. Memang, ada orang yang mengambil risiko untuk tidak bersosialisasi dengan jiranya, tetapi jelas ia telah mengalami keterasingan.

Kenyataannya banyak orang yang mengalami kekosongan setelah melalui kesenangan dan kebaikan. Untuk itu, fase religius dengan lompatan iman adalah saran yang diberikan Kierkegaard agar seseorang tidak lagi terpaku pada kenisbian keduanya. Namun, keimanan di sini tidak disandarkan pada dasar-dasar institusi keagamaan formal, tetapi ikhtiar pribadi untuk memahami iman dalam pengertian alamiah.

Baca Juga:  Keterasingan

Apa pun pandangan Kierkegaard, gagasannya berpijak pada semangat keagamaan yang membebaskan. segelintir orang yang betul-betul melihat khazanah keagamaan tentu tidak bisa mengabaikan bahwa lembaga ini masih diperlukan untuk menjadi ruang khalayak mendasarkan nilai dan norma. Dengan demikian, bila agama dilihat sebagai fondasi bagaimana menjalani keseharian, semestinya ia menjadi katup agar seseorang bisa melepaskan dari kecemasan.

Tetapi, kecemasan kadang muncul dari keadaan psikologis subyektif. Di era media sosial, pemilik akun terpapar pada pameran kehidupan. Satu sama lain saling bersaing untuk hadir dengan kelebihannya. Kalau sekadar menunjukkan tiket pesawat, mungkin yang bersangkutan hanya ingin menunjukkan kelasnya. Tetapi, pemilik jet pribadi tentu lebih tinggi, meskipun mereka jarang memamerkan, yang justru inilah kelas yang lebih “berhak” untuk pamer. Kata flexing pada hari terakhir ini yang sering diungkapkan karena banyak orang suka memamerkan barang merah, rumah megah, dan tas mahal di media sosial telah membuka wajah manusia.

Setiap orang tentu ingin diakui keberadaannya di mata orang lain. Dengan menunjukkan barang mewah, seperti jam, ia seakan-akan mengatakan pada orang lain bahwa dirinya berselera tinggi dan memiliki banyak duit. Kalau memang ia hendak menyampaikan ini, lalu apa yang ia peroleh selain ketagihan untuk selalu tampil keren dengan benda-benda kemewahan sejenisnya. Kecemasan akan terus mengintai dirinya karena ia harus tampil dengan barang-barang yang berbeda untuk menjaga citraan. Anehnya, ada orang yang menggunakan barang palsu. Kepribadian seperti ini benar-benar pecah.

Baca Juga:  Kesederhanaan

Padahal, andaikata individu berhenti sejenak untuk merenung bahwa semahal apapun jam tangan Rolex, ia menunjukkan waktu yang sama dengan Casio. Memang, Syakira mengolok-olok jam yang terakhir sebagai rendahan untuk menyerang mantan pasangannya, Pique, tetapi kalau ia memegang jam yang mahal tetapi tidak tepat waktu, bukankah ini jelas-jelas menyalahi fungsi dari benda yang dipakainya? Betapa celaru orang menggunakan sesuatu yang bukan diperuntukkan untuk kegunaannya.

Kecemasan sebenarnya berasal dari sesat pikir antara ketidakmampuan membedakan antara fungsi dan prestise barang. Yang terakhir tidak ubahnya seseorang telah memberikan “roh” pada benda sehingga ia menjadi sesembahan baru dalam kesehariannya. Ia secara langsung telah dikontrol oleh benda yang semestinya dikawal agar tidak sial. Kenyataannya, manusia yang mulia karena dirinya kini merendahkan eksistensinya di hadapan benda yang tidak lebih daripada buatan untuk mendatangkan makna, bukan pembeda. Manusia itu sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *