oleh

Kedudukan Istri dalam Sudut Pandang Islam

Peresensi         : Ratnani Latifah. Penulis dan penikmat buku asal Jepara

“Laki-laki (suami) itu adalah pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberi nafkah sebagian dari hartanya.” (hal viii).

Dalam pandangan masyarakat kita, seringkali istri diharuskan untuk pandai dalam urusan rumah tangga. Baik itu dalam urusan dapur, bersih-bersih rumah, mencuci baju, menyetrika, merawat anak dan berbagai tugas lainnya. Seolah-olah istri itu seperti pembantu, yang harus siap melayani segala macam kebutuhan suami. Paham ini sudah mendarah daging di mata masyarakat, sehingga seringkali ketika ada seorang istri yang tidak melakukan kegiatan rumah tangga, malah dianggap tabu dan tidak pantas.

Padahal dalam ajaran agama Islam, istri memiliki peran tersendiri dalam masalah rumah tangga. Jadi sangat salah jika kita mengira, bahwa apa yang sudah umum di masyarakat itu berasa dari ajaran Islam. Lalu apa peran istri berdasarkan Al-quran, hadits atau pendapat para ulama? Maka buku ini sangat cocok untuk menjawab berbagai pertanyaan kita tentang kedudukan istri dalam sudut pandang Islam.

Menurut mazhab Al-Hanafiyah, seorang istri tidak wajibkan memasakan  suami. Tapi sebaliknya, sang suamilah yang wajib memasakkan istrinya.  Dalam salah satu kitab fikih yang muktamad dalam mazhab ini “Badai’ Ash-Shanai” yang disusun oleh Al-Imam Al-Kasani menjelaskan; “Seandainya suami pulang membawa bahan makanan yang masih harus dimasak dan diolah, lalu istrinya enggan memasak atau mengolahnya, istri tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap.” (hal 8).

Lalu menurut mazhab As-Syafi’iyah, dijelaskan pula bahwa sebenarnya dalam syariat Islam tidak ada kewajiban bagi istri berkhidmat pada suaminya.   Salah satu kitab rujukan yang sering digunakan dalam mazhab ini’ “Kitab Al-Muhadzdzab” karya Asy-Syirazi, menjelaskan; “Tidak wajib atas istri berkhidmat untuk membuat roti, memasak, mencuci dan bentuk khidmat lainnya karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban.” (hal 12).

Selain beberapa pendapat tersebut, ada juga pendapat lain yang juga perlu kita renungkan. Di mana pendapat-pendapat lain ada yang menjelaskan bahwa, meskipun pekerjaan rumah tangga itu bukan kewajiban bagi seorang istri, tetapi jika istri mau membantu pekerjaan sang suami, maka seorang istri akan mendapat pahala yang besar dari Allah.

Jadi pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, menyetrika, menyapu, mengepel bisa menjadi amal ibadah yang bisa menjadi bekal ketika kita menghadap Allah. Di mana kegiatan itu bisa mendatangkan pahala besar, jika kita melakukannya dengan ikhlas. Jadi ibadahnya seorang wanita itu tidak melulu dalam hal shalat, dzikir, mengaji, atau membaca Al-quran, tetapi kegiatan bersih-bersih rumah pun bisa bernilai ibadah. Di sisi lain kebiasaan tersebut memang sesuai adat dan budaya setempat—khususnya di Indonesia—yang tentunya berbeda dengan kebiasaan orang Arab.

Secara keseluruhan buku ini sangat menarik. Tidak hanya menjawab tentang kedudukan istri dalam sudut pandang Islam, ada juga pembahasan lain tentang kewajiban suami-istri, masalah mahar juga nafkah. Dipaparkan dengan bahasa yang cukup sederhana, buku ini  cukup mudah dipahami. Hanya saja, ada  bagian yang sedikit mengganggu, yaitu format penulisan dalil-dalil—baik itu dalil Al-Quran, hadist atau pun kitab-kitab—di mana font tulisan tidak sama—atau mungkin hal itu memang disengaja untuk perbedaan.

Namun lepas dari beberapa kekurangan yang ada, buku ini tetap menarik untuk dibaca. Karena buku ini banyak memberikan wawasan baru yang masih banyak disalah artikan oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Srobyong, 24 Agustus 2020

Judul               : Istri Bukan Pembantu

Penulis             : Ahmad Sarwat LC., M.A.

Penerbit           : Gramedia

Cetakan           : Pertama, Oktober 2019

Tebal               : 162 halaman

ISBN               : 978-602-06-3368-8

 Biodata Narasi

Cerpen dan resensinya pernah dimuat diberbagai media. Buku terbarunya, Terapi Hati; Agar Hati Sehat Tak Mudah Berkarat (Quanta, 2019), Ayo Belajar Mandiri (Elex Kidz, 2019), Be Quran Lovers (Genta Hidayah, 2019) dan Hijrah Asyik Muslim Mulenial (Quanta, 2019). Alumni Unisnu Jepara. Bisa dihubungi di akun FB Ratna Hana Matsura. Atau blog https://ratnanilatifah.blogspot.com

 

Komentar

News Feed