Keindahan 

Ahmad Sahidah: Dosen Semantik dan Ma’anil Qur’an Universitas Nurul Jadid 

Surah Ali Imran: 14 yang berarti dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik, adalah penggambaran yang menarik. 

Banner Iklan Stop Rokok Ilegal

Tanpa dijelaskan secara definitif, kata keindahan ditunjukkan berupa contoh-contoh. Kenyataannya, hingga sekarang, semua contoh tersebut merupakan buruan yang diinginkan oleh manusia. Sebagai kesenangan di dunia, manusia tentu bisa menimbang kembali keinginan (syahwat) karena sebagai kesenangan (pleasure), kehadirannya mesti disandingkan dengan tujuan hidup (purpose of life), sebagaimana dirumuskan oleh Paul Dolan dalam Happiness by Design (2014). 

Keindahan dalam pandangan Ibn Khaldun diungkapkan oleh Giovanna Lelli dalam Knowledge and Beauty in Classical Islam: An Aesthetic Reading of the Muqaddima by Ibn Khaldun (2021). Kata jamal sebagai padanannya tidak hanya terkait dengan keindahan inderawi, tetapi juga ada kata lain yang menyangganya, yakni baik (khayr), bagus (husn) dan sempurna (kamal). Atas dasar inilah, perempuan, anak-anak, harta, hiasan, dan sawah akan memiliki makna apabila dikaitkan dengan tiga kata tersebut. 

Keindahan sensual (jamal) menegaskan kelezatan (laddza) untuk pendengaran melalui musik, untuk mata melalui bentuk dan warna, untuk indra penciuman melalui aroma harum dan untuk selera melalui rasa. Tentu, penegasan ini menunjukkan keterbatasan kelezatan yang digambarkan tentang musik, sebab persembahan yang terakhir kini bisa menggabungkan bentuk, warna, dan penciuman dalam satu momen. Betapa menonton pentas musik itu benar-benar sebuah keindahan yang sempurna! Saya pernah menikmati panggung Jamrud dan White Lion dulu. 

Baca Juga:  Kesarjanaan

Tetapi, adakah musik itu semata-mata keindahan yang digambarkan di atas? Sejauh yang saya alami, ia berkelindan dengan pengalaman yang jauh lebih kompleks. Tatkala mendengar lagu Kiamat Rhoma Irama, ia tidak hanya soal komposisi, irama, dan harmoni, tetapi terkait dengan ingatan masa kecil. Nomor ini merupakan nyanyian dalam film Gitar Tua (1977) yang saya tonton dalam bioskop misbar di lapangan, yang kini menjadi pasar. Tentu, lagu tersebut sekaligus menjadi soundtrack dari keseharian kami, yang mungkin sedang bermain di sungai atau sawah.

Lalu, bagaimana dengan keindahan terkait harta benda? Di era media sosial, warga  terpapar pada pameran (flexing) yang ditunjukkan oleh sebagian orang kaya baru. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu ditimbang. Keindahan tersebut perlu diatur oleh kriteria proporsi dan harmoni (tala’um, tanasub), kesesuaian (muthabaqa). Ini membutuhkan tujuan yang baik (gharadh, qashd), dan tidak boleh melampaui batas atau moderasi (tawassuth, i’tidal). Jika tidak, maka perilaku tersebut akan menjadi sumber kesalahan agama, teologis, etika dan epistemologis. 

Baca Juga:  Keagamaan 

Tiga kesalahan terkait agama, teologis, dan etika tentu mengandaikan pandangan subyektif. Tetapi, kesalahan terakhir perlu diingatkan agar perilaku individu berdasarkan pada penalaran. Emas itu adalah benda, yang kini dibuat perhiasaan dengan bentuk aneka rupa, sehingga kehadirannya justru menggantikan keberadaan manusia, karena ia dipakai untuk menunjukkan selera pembeda dan eksistensi dangkal. Aneh, kita melihat perhiasan berjalan, bukan seorang insan!

Demikian pula, kendaraan itu adalah alat angkutan (transportasi) yang mengantarkan seseorang dari satu titik ke titik lain. Justru, seringkali ia dijadikan penanda status seseorang karena dikaitkan dengan nilai sebagai barang mewah. Padahal, ia tidak lebih daripada kumpulan besi. Betapa celaru, manusia dipandang lebih rendah dari logam. Jika kita menghormati kuda pilihan (al-khail al-musawwamah) seseorang, yang sekarang mungkin bisa disandingkan dengan pemilik mobil Bentley, maka kita telah melakukan dehumanisasi.  

Kegagalan banyak orang untuk membedakan fungsi dan prestise telah menyebabkan kekeliruan epistemologis di atas. Dengan nalar sederhana ini, kita tidak lagi mengatur kedudukan kelas manusia berdasarkan benda, tetapi jiwa, yang selalu menimbang tujuan yang baik, tidak berlebihan, dan alamiah. Itulah mengapa keindahan itu hadir ketika setiap individu bisa menunjukkan dirinya apa adanya dan tidak mengada-ada. Sebab, yang terakhir itu adalah kepalsuan. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *